Keliling Indonesia Pelajari Musik Tradisional, Setahun Ngamen di Jerman

Redy Eko Prastyo memainkan dawai, musik tradisional yang amat ia cintai.

Redy Eko Prastyo, Seniman Musik Etnik asal Malang
Di tengah derasnya industri musik pop di tanah air, musisi Malang yang bersemangat membumikan musik tradisional Indonesia. Redy Eko Prastyo, seniman musik asal Dau, Kabupaten Malang ini salah satunya. Pria kelahiran Besuki, 21 September 1979 ini, sejak 1999 tak kenal lelah mengangkat musik tradisional tanah air, mulai dari komposisi, sampai alat musiknya.

Terlahir dari keluarga berdarah seni, Redy, panggilan akrabnya, sudah mengenal musik tradisional sejak kecil. Ayahnya Suparyono, merupakan seorang guru gamelan di Situbondo, Jawa Timur. Kesehariannya, mendengarkan sang ayah melatih para murid dalam memainkan gamelan. Hal ini membuat telinganya akrab dengan musik tradisional.
Namun, saat itu kesenian gamelan menjadi jenis musik yang dienggani oleh kaum muda. Banyak anak muda merasa gengsi untuk memainkan musik ini. Sehingga, Redy memilih untuk menjalani jalur lain. Semasa SMP dan SMA, ia bersama temannya membuat sebuah grup band beraliran pop modern. Aktivitas itu ia lakukan terus sampai lulus SMA.
Baru pada 1997, Redy pindah ke Malang. Sejak tahun itu, ia menjadi mahasiswa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang (sekarang UM). Sambil berkuliah, ia aktif di berbagai organisasi. Terutama organisasi yang berbau seni, salah satunya yang ia ikuti adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) musik IKIP Malang. Mulai saat itulah, keinginan untuk mendalami musik tradisional muncul.
Sambil terus menjalani kehidupan mahasiswa, Redy tak henti-hentinya mempelajari musik. Baginya, mempelajari musik tak hanya sekadar mengenal instrumen, nada, atau komposisi saja. Melainkan, mempelajari musik bagi ayah satu anak ini adalah mengolaborasikan berbagai pengetahuan, sebagai alat memperkuat karya musiknya. Sosial, politik, ekonomi, bahasa bahkan psikologi, didalami sebagai landasan berpikir bagi Redy untuk mengembangkan bakat musisinya.
Redy terus belajar, sampai pada suatu ketika, setelah lulus kuliah, tahun 2001 ia merantau ke pulau seberang, Kalimantan. Selama enam bulan, Redy tinggal di Kalimantan, berkenalan dengan suku Dayak di sana, serta mempelajari alat musik tradisional. Enam bulan hidup bersama suku Dayak di Kalimantan, Redy tertarik pada satu dawai (alat musik berbasis senar) khas suku itu, Sapek.
"Suara dari alat musik ini unik, bentuknya juga. Memang seperti gitar, tapi cara memainkannya berbeda," ujar Redy kepada Malang Post saat ditemui di Kafe Pustaka UM beberapa waktu lalu.
Redy bercerita, perkenalannya dengan Sapek memunculkan ketertarikan dirinya untuk memainkan dawai khas suku Dayak itu. Bahkan ketertarikannya terus dibawa sampai ia kembali ke Situbondo, tanah kelahirannya. Diakuinya, karena saat itu ia belum mampu membeli Sapek  sendiri, ia mempraktikkan cara bermain Sapek menggunakan gitar yang ia miliki. Lucu, itulah yang Redy pikirkan saat itu.
Tak hanya Kalimantan saja, Redy juga berkelana ke daerah-daerah lain untuk mempelajari musik. Ia belajar musik tradisional mulai dari Sumbawa, Medan, Madura, Sulawesi, serta Bali. "Saya memang suka berpetualang. Jadi saya berkunjung ke daerah-daerah tersebut, sekaligus untuk mempelajari musik tradisional di sana," kata suami Rini Nurhayati tadi.
Dari perantauannya tersebut, pengalaman musik Redy bertambah. Pria berkacamata ini semakin mantap untuk mendalami musik tradisional, tentunya dibalut dengan sentuhan modern. Perjalanannya mendatangi daerah-daerah di Indonesia, dianggap telah memperkaya ilmu musiknya. Mantaplah ia dengan karakter musik etnik kecintaannya.
Diceritakan lebih lanjut, pengalaman menarik juga terjadi saat dia berada di Bali. Ia diperkenankan untuk bermain perkusi dalam salah satu gelaran festival musik. Pengalaman musik yang mengesankan dimulai. Saat itu, ia berkenalan dengan dua orang warga negara Jerman, lalu Redy diundang ke negara tersebut untuk bergabung dalam sebuah kelompok musik.
"Saya diajak dua orang teman saya dari Jerman itu. Baru tahun 2005 saya berangkat ke Jerman. Mereka memang bukan seniman musik. Tapi di Jerman, saya dikenalkan oleh kelompok musik karavan yang berkeliling dari kota ke kota. Saya di Jerman selama satu tahun," ungkapnya.
Di luar aktivitasnya itu, Redy juga sering mengamen sendirian di sebuah kota yang merupakan kota pengamen. Tapi, jangan dipikir mengamen di sana sama seperti mengamen di Indonesia. Mengamen di Jerman, kata Redy, lebih teratur. Pengamen di sana diatur dalam regulasi pemerintah. Para pengamen juga mengantongi izin. Begitu pula dengan kualitas karyanya, karena para pengamen di Jerman memiliki kualitas seni musik yang patut diperhitungkan.  
Di Jerman, lanjut Redy, ia mengamen dengan membawakan musik perkusi. Jenis musik utama yang ia kenal, sebelum mengenal dawai. Ia bersyukur, beberapa karya mendapat perhatian para pejalan kaki di Jerman. Sesekali, ia juga kembali mengunjungi komunitas musik gamelan di Jerman yang dikelola orang Indonesia. Di Jerman, ia terus belajar dan mengembangkan kemampuan bermusiknya.
Sepulangnya dari Jerman, Redy kembali ke Malang. Tahun 2008, ia menetapkan diri sebagai warga Malang dan menikah dengan Rini Nurhayati. Dari perkawinannya, Redy memiliki anak yang dinamai Damar Putra Nagara. Tahun 2009, ia bersama beberapa seniman musik lain di Malang, Redy menggagas Museum Musik Indonesia. Redy juga menggagas festival seni tahunan di kampung cempluk. September tahun ini, festival kampung cempluk akan digelar ke enam kalinya.
Awal Juni tahun lalu, Redy juga sukses menggelar festival nasional, Festival Dawai Nusantara yang mendatangkan 20 delegasi seniman dawai dari berbagai daerah. "Mereka membawa dawai khas daerah masing-masing. Animo pengunjung saat itu cukup tinggi," terangnya.
Selama menjalani hidup sebagai pemusik, Redy sudah berkali-kali diundang ke berbagai festival di daerah-daerah. Tidak jarang pula dia berkolaborasi dengan musisi-musisi indie dari berbagai negara, seperti Perancis, Italia, Inggris dan lain-lain.
Pria berambut panjang ini pun juga sedang fokus di project mandirinya, yakni, ethnic digitalize. Ia menjadikan alat musik digital seperti loop yang diprogram sendiri menjadi instrumen musik tradisional, atau memberi efek pada suara gamelan. "Semua itu saya jalani sebagai hobi. Karena saya tidak ingin berhenti berkarya," tuturnya.
Saat ini, Redy bekerja di UB TV sebagai tim kreatif. Ia juga aktif di berbagai komunitas atau kelompok musik di Malang, maupun nasional. Redy juga menjadi personel kelompok musik etnik Atmochestra sebagai keyboardist.
Di tengah kesibukannya, Redy juga terus berkarya, sebagai komposer indie yang karyanya diunggah ke dunia maya. "Ini sebenarnya hanya hobi. Tapi rupanya, produsen film singkat dari Inggris pernah menghubungi saya setelah mendengar musik saya di Soundcloud dan ia minta untuk dibuat backsound filmnya," tandas Redy.
Redy berjanji akan terus menjalani kehidupannya dengan bermusik. Baginya, musik adalah cara menunjukan rasa kecintaannya terhadap internasional. Melalui musik, ia berpesan kepada masyarakat agar selalu hidup dalam keharmonisan. Ya, dengan musik Redy ingin membuat masyarakat musikal, masyarakat yang selalu hidup dalam keharmonisan.
"Masyarakat musikal bukan berarti masyarakatnya harus bisa main musik. Dalam perbedaan, masyarakat ini harus harmonis. Seperti halnya paduan suara, semua memiliki timbre suara yang berbeda, ada suara satu, dua dan tiga. Tapi, karena semua bernyanyi dengan satu irama, maka hasilnya tetap indah. Itulah masyarakat musikal," pungkas Redy. (muhamad erza wansyah/ary)