Tiga Mahasiswa UMM Ciptakan Tas Pembangkit Listrik untuk Gadget

Terinspirasi dari peralatan perang tentara Amerika Serikat. Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang menciptakan tas elektrik pembangkit listrik. Tas ini berguna untuk mengisi daya baterai pada gadget yang dimiliki pengguna, dimana saja berada dan kapan saja.

Keberadaan gadget sekarang ini menjadi kebutuhan primer di kalangan masyarakat. Selain fasilitas dan fitur yang sangat lengkap, gadget mampu memberi ”kehidupan” tersendiri bagi penggunanya. Tingkat urgensi yang tinggi ditambah cepatnya mobilitas manusia saat ini, akhirnya membuat gadget tahan lama diburu masyarakat.
Sayangnya, canggihnya teknologi gadget tak diimbangi dengan daya tahan baterai yang tinggi. Alhasil muncullah teknologi power bank yang mampu menyuplai daya untuk beberapa gadget seperti smartphone dan tablet.
Meski begitu, penggunaan power bank juga terkendala pada pengisian daya listrik. Terkadang orang lupa mengisi daya power bank. Selain itu, pengisian daya power bank juga membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Dari masalah itulah, tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yakni Basri Noor Cahyadi, Muhammad Saukani, dan Ahmad Wildanul Firdaus berkreasi membuat tas elektronik pembangkit listrik yang mampu menampung daya listrik sebesar 30.000 MAh.
Hebatnya, daya yang dihasilkan tas elektronik ini bukan berasal dari aliran listrik rumah tangga. Namun dari sinar matahari dan tekanan yang bisa didapatkan dengan mudah.

Kepada Malang Post, Basri, koordinator kelompok itu mengatakan, ia hanya membutuhkan tas punggung, dua lempengan solar cell yang mampu menghasilkan tegangan hingga 24 volt. Serta  18 keping piezoelectric yang mampu menghasilkan 900 milivolt. Dan satu regulator untuk menjadikannya sebuah tas electric siap pakai.
Meski begitu, tas itu tetap ringan dan memiliki banyak ruang layaknya tas punggung di pasaran. Mahasiswa jurusan teknik elektro itu mengaku mendapatkan ide membuat  inovasi dari peralatan perang tentara Amerika Serikat yang dilengkapi dengan solar cell.
”Biasanya memang dipakai oleh kalangan militer Amerika Serikat yang digunakan dalam misi perang di Timur Tengah. Tas itu digunakan untuk menghidupkan radio komunikasi. Karena radio itu nggak boleh mati, maka mereka butuh energi listrik yang banyak. Dari situlah akhirnya kami kepikiran bikin tas ini,” ungkap mahasiswa asal Ponorogo tersebut.
Karena solar cell dianggap masih kurang, Basri dan kawan-kawan akhirnya menambahkan piezoelectric untuk memperbesar sumber daya listrik. Jika solar cell membangkitkan listrik dengan tenaga matahari, maka piezoelectric menghasilkan tenaga listrik dari adanya tekanan.
Cara penggunaan tas electric itupun sangatlah mudah. Pengguna hanya perlu menggunakannya untuk ke kampus atau kemanapun akan pergi. Saat tas berpaparan dengan sinar surya, maka otomatis akan langsung menghasilkan energi listrik yang disimpan dalam baterai yang tersimpan di regulator.
Selain itu, tas juga bekerja dengan adanya tekanan yang dihasilkan dari pergerakan tangan dan pundak. Pergerakan itu menghasilkan tekanan ke belasan kepingan Piezoelectric. Daya yang dihasilkan dari tekanan itu juga secara otomatis akan disimpan dibaterai regulator.
”Di regulator kan ada lampu indikator. Kalau penuh empat lampu akan menyala. Dan gadget bisa langsung dicas didalam tas layaknya menggunakan power bank,” urai Basri.
Untuk memaksimalkan penghasilan daya, dua lempengan solar cell diletakkan di bagian depan tas agar mampu menangkap cahaya surya dengan mudah. Sedangkan untuk piezoelectric disematkan dalam penyangga tas untuk mendapatkan tekanan dari pundak dan punggung.
“Kalau tas dipakai kan biasanya pundak bergerak. Dari gerakan itu nanti akan menghasilkan tekanan ke piezoelectric dan akan menghasilkan listrik yang disimpan dalam baterai yang ada di regulator,” tandas alumnus pesantren Gontor tersebut.
Karena inovasinya itu, Basri dan kawan-kawan tidak hanya mampu menembus Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) saja. Namun juga mendapatkan penghargaan berupa pembiayaan Hak Atas Kekayaan Intelektual dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) RI.
Sejumlah Rp. 15 juta digelontorkan untuk tim Basri agar bisa mematenkan produk inovatifnya tersebut.
”Untuk pendaftarannya sudah selesai kami lakukan. Kami masih menunggu hasil dan surat keterangan pemilik hak paten. Memang butuh waktu lama karena antreannya yang cukup panjang,” papar Saukani.
Nantinya, setelah hak paten ada di tangan Basri dan tim, mereka berencana akan mengkomersilkannya menjadi sebuah usaha tas elektrik. Namun, Basri sendiri mengaku masih perlu melakukan perancangan tambahan termasuk mengganti lempengan solar cell saat ini dengan yang lebih canggih lagi.
”Yang sekarang ini harganya lebih murah dan penyerapan cahaya suryanya masih kurang kuat. Ini buatan Indonesia. Kami sudah membeli solar cell yang bagus dari Cina,” ujar Basri.
Begitu juga dengan Piezoelectric, Basri dan kawan-kawan akan mencari produk yang kualitasnya lebih tinggi dari yang sekarang dipakai. Hal itu bertujuan untuk memperbesar daya yang dihasilkan oleh tas elektric tersebut.
”Kalau piezoelectric yang bagus nggak perlu beli di Cina karena di Indonesia sudah ada,” pungkas Basri.(nunung nasikhah/ary)