Agustinus Tedja Buwana, Pendiri Rumah Belajar Jagalan dan Muharto

Seram, kesan itu yang kali pertama berkelebatan di pemikiran ketika melihat sosok Agustinus Tedja Buwana. Rambutnya gondrong, tangan kanan kirinya bertato pula. Di balik sosoknya yang sangar, dia ternyata memiliki kepedulian luar biasa terhadap pendidikan anak-anak jalanan.

Ya, lebih dari 19 tahun, pria gondrong ini berkecimpung di bidang kemanusiaan. Salah satunya memberikan pendidikan kepada anak-anak jalanan. Relawan yang dia rangkul pun juga bukan orang sembarangan, ada beberapa yang berpenampilan mirip dirinya. Namun, meski sangar, mereka memiliki skill luar biasa di bidangnya masing-masing.
Menurut Tedja, setiap anak bangsa wajib mendapatkan pendidikan formal, setidaknya 9 tahun. Meskipun kewajiban itu kerap kali terlupakan, oleh anak-anak kaum marginal. Mereka justru memilih mencari uang untuk membantu orang tua, atau mencari uang untuk bisa jajan, dibanding mengenyam pendidikan.
Pendidikan tak menjadi prioritas. Uang yang menjadi prioritas. Dengan uang, para anak jalanan ini berpikir hidup akan menjadi lebih mudah. Bahkan dengan uang, kekuasaan pun dapat terbeli.
“Mainset inilah yang menjadi momok. Mereka adalah masa depan bangsa. Apapun statusnya, mereka harus mengenyam pendidikan  9 tahun,’’ pria yang menjabat Koordinator Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) itu.
Dengan nada meninggi, pria berambut gondrong ini mengatakan sekolah bukan hal yang mudah bagi anak-anak jalanan.
Jangankan 9 tahun, bisa lulus sekolah dasar itu sudah luar biasa. “Kami pernah mengumpulkan orang tua anak-anak jalanan, di mana keberatan mereka menyekolahkan adalah biaya. Karena sekalipun pemerintah sudah memastikan sekolah gratis, tapi masih ada sekolah yang menarik pungutan,’’ kata pria yang akrab disapa dengan nama Tedja ini.
Biaya itu menjadi beban orang tua. Apalagi, penghasilan mereka pas-pasan. Alhasil, anak-anak pun memilih turun ke jalan. Dengan panasnya terik matahari, serta asap knalpot yang sangat menyesakkan, anak-anak jalanan mencari hidup.
Fakta inilah yang membuat Tedja dan para pengurus JKJT mendirikan rumah belajar. “Dari awal kami berdiri untuk menampung dan membina anak-anak jalanan. Kalaupun mereka tidak bisa bersekolah resmi karena alasan biaya, kami memberikan wadah bagi mereka untuk mengenyam pendidikan,’’ urainya.
Ada dua rumah belajar yang didirikan oleh JKJT. Yaitu di wilayah Jagalan dan Muharto. Di rumah belajar ini, anak-anak jalanan mendapatkan pendidikan dan pengetahuan. “Rumah belajar tidak seperti sekolah pada umumnya. Di sini, seluruh anak bisa belajar dengan metode pendampingan. Mereka tidak dikumpulkan perkelas, tapi belajar bersama-sama,’’ kata pria asli Malang ini sembari mengatakan pembelajaran hanya dibedakan usia anak-anak, remaja dan dewasa.
Di rumah belajar ini, tidak ada guru. Tapi pendamping. Para pendamping inilah yang memiliki peran, memberikan pembelajaran kepada anak-anak binaan yang berkumpul. “Pendamping dari berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa, tapi juga anak-anak sini juga,’’ kata pria berambut gondrong ini, sembari meminta Malang Post tidak salah persepsi, tentang pendamping dari JKJT.
Itu karena umumnya, para pengurus atau pendamping yang terlibat di rumah belajar adalah  mereka yang memiliki tubuh penuh tato, berambut gondrong dan menggunakan pakaian seadanya.
“Meskipun punya tato banyak, berambut gondrong, tapi mereka yang melakukan pendampingan adalah mereka yang memiliki skill. Sehingga pembelajaran yang diberikan pun tidak keliru, dan ke depannya mampu menjadi bekal usaha,’’ urainya.
Dia mencontohkan keahlian para pendamping adalah, merangkai kamera CCTV, menjahit, fotografi dan lainnya. Rumah belajar dikatakan Tedja sebagai ajang para anak-anak untuk mendapatkan pengalaman, selain mendapat ilmu pengetahuian. Sehingga begitu, mereka mengikuti seluruh pelajaran yang diberikan, agar bisa membuka usaha.
Sementara untuk tempat, Tedja mengatakan tidak jarang menggunakan rumah warga. Seperti di Muharto, rumah belajar ditempatkan di rumah Sulastri salah satu warga. Di Muharto, rumah belajar digelar pukul 15.00 WIB. Rumah tersebut tidaklah besar. Bahkan bisa dibilang sempit. Untuk duduk saja, anak-anak harus berdesakan. Kondisi tersebut tidak mengurangi semangat anak-anak untuk belajar. Itu terbukti sekali gelaran, ada 15-25 anak yang ikut belajar.
Mereka datang dengan sangat antusias, sambil membawa peralatan belajar, seperti buku dan pensil, mereka siap menerima materi pelajaran yang diberikan para anggota JKJT dan para sukarelawan.
Anak-anak ini terlihat sangat menikmati. Mereka tidak terganggu dengan tempat yang sempit, ataupun pembimbing yang badannya penuh dengan gambar tato. Sebaliknya, mereka datang dengan tulus, dengan tujuan belajar.
“Sukses itu bukan modal kuncinya. Tapi kemauan. Kalau mereka memiliki kemauan, ditambah usaha, modal itu datang dengan sendirinya,’’ tegasnya.
Dengan pendamping yang kelihatan sangar itu, tidak jarang dari mereka orang tua yang mencemooh. Bahkan, dengan terang-terangan melarang anaknya ikut, dengan alasan khawatir anaknya justru menjadi pelaku kriminal.
“Itu wajar, karena umumnya orang memandang bertato itu adalah pelaku kriminal. Tapi jangan salah, kami bertato tapi kami kaya ide. Ide-ide inilah yang kami sumbangkan kepada masyarakat,’’ tambah pria yang berkantor di Jalan Blitar no 12 ini.
Tapi untuk pendamping lain, tidak jarang ada mahasiswa yang datang membantu.
“Rumah belajar itu sifatnya sekadar menampung. Tapi kami tetap berusaha, mereka yang tidak bersekolah mengenyam pendidikan resmi. SD, SMP maupun SMA, secara gratis. Termasuk kesehatan, anak jalanan ini menjadi prioritas kami. Mereka yang sakit tidak dipungut biaya saat berobat,’’ terangnya.
Aksi sosial Tedja dengan lembaga JKJT nya memang tidak sekadar itu. Banyak aksi sosial lain yang sudah dilakukan. Diantaranya adalah mengikutsertakan anak binaannya ikut dalam nikah masal, memperjuangkan surat atau identitas dan lainnya.
Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur berdiri tahun 1996. Melewati tiga era perubahan yang akhirnya terbakukan dari semangat segelintir kepedulian insani insani muda pada perubahan dan kejadian kejadian yang dialami bangsa ini. Kepedulian itu tidak muncul dengan sendirinya kalau tidak dikarenakan oleh rasa iba muncul begitu saja pada kekurangan diri sendiri untuk berbuat bagi sesama.
Dimulai dari Jaringan Relawan Kemanusiaan Jawa Timur pada tahun 1996, kemudian menjadi Jaringan Kemanusiaan Komisi Kepemudaan Malang dan terbakukan dalam Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur pada tahun 2002.
“Kami memiliki visi komunitas kemanusiaan adalah mengangkat derajat dan hak kebersamaan untuk membantu sesama dalam lingkup giat yang disesuaikan dengan permasalahan yang ada di lingkungan terdekat sampai tak terbatas. Dalam hal ini penyiapan generasi penerus untuk memiliki kepedulian pada sesama adalah utama dalam giatnya,’’ pria yang lahir tahun 1970 ini.
Sedangkan misi JKJT adalah menjadikan potensi giat kemanusiaan untuk berbuat dengan hati dan segenap keterbatasan untuk sesama. Menjadikan budaya bangsa sebagai salah satu fundamental penting dalam melaksanakan hakekat dari Pancasila dan UUD 1945. Sejak berdiri, JKJT memiliki banyak anak binaan. Bahkan, setiap tahun bertambah. Bahkan saat ini, anak binaan dari JKJT sudah mencapai 1.500 orang. Mereka tidak hanya di Kota Malang tapi berada di lingkup Jawa Timur.
“Tidak sedikit dari anak binaan JKJT sukses. Ada yang menjadi pengusaha, ada juga yang jadi PNS, atau berwiraswasta. Intinya, jika mau berjuang, mereka bisa mendapatkan yang diinginkan. Sementara kami, hanya sebagai pendukung saja,’’ tandas Tedja.(ira ravika/ary)