Terbitkan Buku di Malaysia, Jadi “Pembunuh Berantai” Saat Menulis

Cerita mistis dari sang nenek, di tangan Dwi Ratih Ramadhany disulap menjadi sebuah kisah horor yang merasuki pembaca. Dara kelahiran 3 Maret 1993 ini adalah penulis berbakat yang membanggakan Universitas Negeri Malang. Betapa tidak, karya novelnya bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa melayu di Malaysia.

Bagi Ratih sapaan akrabnya, menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya. Perasaan gelisah, jenuh, takut dan bosan, bisa ia ubah dalam baris-baris kata yang bercerita. Mahasiswi jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM) ini berani mengekspresikan diri.
Dimulai dari menulis cerpen-cerpennya, ia kini adalah penulis muda yang karyanya patut diperhitungkan. Gadis kelahiran Madura ini, sejak 2011 silam resmi menjadi mahasiswi UM. Tidak ada cita-cita, menjadi penulis muda seperti saat ini. Baru sejak pertengahan 2012, kegiatan tulis menulis mulai ia dalami dengan bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) UM.
Satu per satu cerpen ia hasilkan. Kebanyakan cerpen buatannya, beraliran horor dan mistis. Cerita-cerita horor tersebut, terinspirasi dari cerita-cerita sang nenek, Hj Djoehairiyah Ikram (76 tahun) yang ia dengarkan setiap kali pulang ke Madura. Sang nenek, bercerita mengenai hal-hal menakutkan, berbau mistis, serta berbau zaman penjajahan Belanda, maupun Jepang. Cerita-cerita sang nenek, ia tuangkan dalam sebuah tulisan.
Proses menulis cerpen horor itu terus menerus ia lakukan. Tidak tanggung-tanggung, bila sudah di depan laptop untuk menulis, Ratih bisa menghabiskan waktu seharian. Sesekali cerpennya ia kompetisikan dalam lomba-lomba tingkat lokal, maupun nasional. Alhasil, jerih payahnya dalam menulis terjawab pada 2014 awal lalu. Ia terpilih untuk menulis sebuah novel bersama dua orang penulis lain dari Aceh dan Jakarta.
Sekitar lima bulan, jadilah sebuah novel karya Ratih, bersama dua penulis lainnya, Marisa Jaya dan Rizky Novianty. Novel terbitan Gramedia itu menceritakan tentang seorang badut yang ditemukan tewas tiba-tiba. Namun, pasca kematian badut bernama Oyen itu, suasana di kampung mulai mencekam. Tragedi pembunuhan, beruntun-runtun terjadi di sana. Mulai dari situ, kisah mencekam mewarnai novel Badut Oyen.
"Banyak tragedi pembunuhan terjadi di dalam cerita tersebut. Ya, saat menulis saya membayangkan telah membunuh banyak orang dalam tulisan-tulisan saya," ungkap Ratih saat ditemui Malang Post beberapa waktu lalu.
Ditambahkan, memang Ratih senang menulis film horor, namun sebenarnya ia merupakan seorang wanita yang takut horor. "Jadi kadang-kadang, kalau saya menulis cerita horor saya suka parno sendiri," ungkapnya.
Nah, hebatnya, sekarang tak hanya masyarakat Indonesia saja yang bisa menikmati kisah dalam badut oyen. Warga dari negara lain, kini bisa menikmati cerita yang Ratih ciptakan. Sekitar 11 Juli 2015 kemarin, Badut Oyen diterjemahkan ke dalam bahasa Malaysia. "Waktu saya mendengar kabar itu, jelas saya tak menyangka kalau tulisan saya bisa dibaca oleh masyakat di negara lain," terangnya.
Anak dari pasangan Mohammad Farid Wadjady dan Rasmiati ini seraya berharap buku-buku tersebut bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain.
Sudah lebih dari 30 cerpen ia hasilkan, tiga buku ia terbitkan dan berkontribusi pada enam buku antalogi yang diterbitkan secara indie, maupun komersil. Semua karya tulisnya, ia buat kurang dari tiga tahun. Buku-buku yang sudah diterbitkan, selain Badut Oyen, ada Kota Kata Kita.
"Sekarang saya juga masih mengerjakan proyek novel. Judulnya masih rahasia, rencananya novel ini selesai sebelum lebaran. Nanti, saya akan coba terbitkan," imbuhnya,
Selain sedang sibuk menggarap novel, wanita yang sudah hampir menyelesaikan masa kuliahnya ini juga tengah sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti sebuah festival menulis dan membaca internasional di Ubud, Bali, yakni Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Festival yang menghadirkan sekitar 100 penulis muda dan berbakat dari sekitar 20 negara ini, akan digelar pada Oktober-November 2015 mendatang.
Festival yang berlangsung selama lima hari ini juga akan dihadiri oleh penulis-penulis internasional. Mereka adalah penulis buku 'The Reluctant Fundamentalist' berkebangsaan Pakistan Mohsin Hamid, pemenang penghargaan 'Stella Prize 2015' Emily Bitto, profesor Mazin Qumsiyeh, seorang peneliti di Betlehem dan Universitas Birzei dan direktur Museum Sejarah Alam Palestina, Tony and Maureen Wheeler
Ratih sendiri, merupakan satu dari 16 penulis asal Indonesia yang diundang datang dan didanai. Ia berhasil melalui dua tahap seleksi yang diikuti oleh sebanyak 595 penulis dari 168 kota di 25 provinsi tersebut. Dengan mengikuti festival ini, lagi-lagi, karya Ratih berkesempatan untuk diterbitkan di luar negeri. Sebab, bagi karya terpilih nantinya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, lalu diterbitkan dalam antologi  dwi-bahasa festival.
"Dua tahun sebelumnya saya pernah ikut ke Ini merupakan pengalaman berharga, sebenarnya menulis hanya hobi bagi saya, Itu pun terbentuk setelah saya ikut UKMP. Saya tidak menyangka bisa sampai sejauh ini. Saya akan terus menulis dan terus menulis," tutur wanita berambut panjang itu.
Prestasi Ratih sebenarnya sudah mulai tampak sejak beberapa tahun lalu. Sejak tahun 2013, cerpen-cerpennya sering diterbitkan di media cetak nasional. Ratih juga terpilih dalam kegiatan Akademi Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2014 lalu. Ratih juga pernah menjadi juara tiga nasional Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) tahun 2014 pada tangkai cerpen.
Di luar dunia tulis menulis, rupanya Ratih juga pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Fakultas Sastra UM pada tahun 2014 lalu. Ya, wanita yang saat ini masih aktif di komunitas pelangi sastra ini, saat ini mengaku sedang menunggu sidang skripsinya pada minggu-minggu ini. "Setelah ini saya ingin menetap di Malang. Sudah kerasan di Malang," katanya.
Impiannya saat ini, sederhana. Ratih berkeinginan untuk terus menulis, saat gelisah, bosan, maupun jenuh. Menulis bagi Ratih adalah cara untuk menghilangkan kegelisahan tersebut. Baginya, tulisan merupakan cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Apapun yang bisa ia tulis, akan ia tulis.
"Dengan terus membaca, melakukan riset di lapangan, memperhatikan sesuatu, ataupun bertemu dan berbicara dengan orang-orang, saya ingin terus menulis. Terus mengembangkan tulisan saya dengan harapan tulisan saya bisa bermanfaat bagi para pembaca," tandas Ratih sambil berkata bahwa saat ini, dirinya mulai menjajaki genre lain selain horor.(muhamad erza wansyah/ary)