Joko “Gethuk” Susilo, penulis otodidak buku kurikulum Akademi Arema

MENULIS adalah keterampilan yang susah-susah gampang untuk dilakukan. Pelatih Arema, Joko “Gethuk” Susilo benar-benar merasakan sulitnya menulis, terutama secara otodidak. Namun, Gethuk sukses melewati rintangan, dan menelurkan buku kurikulum Akademi Arema. Bahkan, saat ini edisi kedua buku kurikulum Akademi Arema sudah hampir selesai.

Reputasi Joko “Gethuk” Susilo sebagai salah satu pelatih terbaik Indonesia masih terus menanjak. Bersama skuad Arema Cronus, Gethuk bersaing dengan nama-nama besar seperti Jacksen F Thiago, Djadjang Nurdjaman Benny Dollo hingga Rahmad Darmawan.
Secara teknis kepelatihan, Gethuk juga dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia saat ini. Namun, ternyata pria kelahiran Cepu tersebut punya hobi lain di luar melatih sepakbola. Ditemui di kediamannya daerah Sawojajar 2 siang kemarin, Gethuk sedang sibuk mengutak-atik laptopnya.
Usut punya usut, pelatih berlisensi B AFC ini hobi menulis. Bahkan, dari kebiasaannya menulis, Gethuk telah menelurkan satu buku, yakni kurikulum pertama Akademi Arema yang dipakai hingga sekarang. Saat diwawancarai Malang Post, Gethuk sedang menyelesaikan bab terakhir dari buku kurikulum bagian kedua Akademi Arema.
“Sekarang sudah hampir selesai, kurang beberapa bab saja. Insyaallah saat lebaran buku kurikulum kedua Akademi Arema sudah selesai,” kata Gethuk, sembari menunjukkan draft buku keduanya. Perjuangan Gethuk dalam menulis buku kurikulum sebagai produk intelektual, ternyata tidak semudah yang terlihat.
Gethuk pun bercerita, keterampilan menulis itu berawal dari paksaan. Saat mendiang Miroslav Janu masih melatih Arema era 2006, Gethuk dipaksa untuk membuat laporan harian, namun dari ketikan di komputer. Padahal, pria 44 tahun ini mengaku gaptek saat itu.
Sebelum belajar menulis di komputer, Gethuk sering memakai tulisan tangan dan gambar untuk laporan kepada pelatih kepala. Bahkan, dia juga sering meminta administrasi kantor Arema, untuk mengetik laporan latihan harian. Apabila ada ketikan yang salah, Gethuk menggunting kertas dengan koreksi kata yang salah, ditempelkan lalu difotokopi.
“Sebelum era Miro, saya hanya berikan laporan lewat tulisan tangan dan gambar. Kalau Om Benny (Benny Dollo) minta laporan ketikan, saya minta tolong Mbak Umi administrasi Arema. Dia yang ketik tulisan tangan saya,” kenang mantan striker Arema era Galatama dan Ligina ini.
Miro meminta Gethuk untuk memberikan laporan harian latihan lewat ketikan komputer. Dengan terpaksa, dan mau tidak mau, Gethuk belajar komputer dan mengetik secara otodidak. Apalagi, saat itu ia juga diminta untuk jadi ‘mata-mata’ atau scout tim lawan Arema.
“Almarhum Miro meminta saya jadi scout tim lawan. Laporan kekuatan lawan harus diberikan dalam ketikan komputer. Saya pun paksa diri untuk belajar. Kebiasaan yang dipaksa mendiang Miro itu akhirnya berlanjut sampai sekarang,” sambung Gethuk.
Sepeninggal Miro di era Bentoel, Gethuk pun melanjutkan kebiasaannya menulis data latihan harian. Lewat tulisan latihan harian inilah, Gethuk ‘mencuri’ ilmu dari para pelatih yang pernah menukangi Arema. Mulai dari Gusnul Yakin, Miroslav Janu, Robert Alberts, Bambang Nurdiansyah, Suharno, Wolfgang Pikal hingga Rahmad Darmawan.
Berbekal ilmu ini, dan didukung pengetahuan dari lisensi C dan B AFC, Gethuk memberanikan diri membuat kurikulum pertama Akademi Arema, sekitar tahun 2013. “Ya saya bisanya menulis dengan bahasa sendiri. Saya menuangkan hal-hal yang paling teknis dan sederhana, karena pelatih-pelatih membutuhkan pengetahuan praktis yang bisa diterapkan langsung, bukan sekadar teori muluk-muluk,” kata Gethuk.
Dalam tulisan pertamanya di kurikulum Akademi Arema, Gethuk banyak membahas soal pengetahuan dasar sepakbola usia dini, di grassroots dan youth. Namun, buku kurikulum kedua dari Gethuk banyak membahas materi lanjutan yang berkaitan dengan taktik dan skill.
“Buku pertama memang fokus pengetahuan dasar seperti passing dan shooting. Sedangkan, buku kedua banyak membahas taktik dasar dan skill. Setidaknya, siswa di usia youth, bisa mengetahui permukaan strategi dan taktik umum,” sambungnya.(fino yudistira)