Mengajar Enam Negara, Terbaik di Victoria University of Wellington

Kendati berumur 81 tahun, Prof. Eugenius Sadtono, Ph.D. salah satu dosen aktif di Universitas Ma Chung ini masih aktif mengajar layaknya dosen muda lainnya. Bahkan, hingga saat ini, ia masih mengajar di kampus lain di Surabaya.

Usia lanjut bukan menjadi penghalang bagi Prof. Eugenius Sadtono, Ph.D., salah satu guru besar di Universitas Ma Chung. Saat Malang Post bertandang ke kediamannya di Jalan Tanggamus Malang, pria yang akrab disapa Sadtono ini tengah sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Surabaya.
Ternyata, selain mengajar di Universitas Ma Chung, Sadtono juga masih tercatat sebagai dosen di Universitas Widya Mandala Surabaya. Setiap Minggu, ia harus rela bolak balik Malang Surabaya menggunakan moda kereta api untuk memberikan ilmu pada mahasiswa di Widya Mandala.
Pria yang dulunya pernah menjabat sebagai Direktur Pascasarjana di Universitas Negeri Malang (UM) selama 10 tahun itu ternyata tak hanya aktif menjadi pengajar di Indonesia saja. Namun juga di beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Australia dan Jepang. Bahkan, Sadtono juga mengaku pernah menjadi dosen tamu di salah satu universitas di  Swedia, Eropa.
Pria asal Kabupaten Purworejo Jawa Tengah ini menapaki karirnya sebagai pengajar di Universitas Airlangga yang saat itu masih memiliki kampus di Malang. Selanjutnya, ia menjadi dosen bahasa inggris di UM dan didaulat sebagai guru besar merangkap direktur pascasarjana.
Di waktu yang bersamaan, Sadtono juga mendapatkan tawaran untuk menjadi pengajar di SEAMEO Regional Language Center yang berpusat di Singapura. Menurut keterangan yang ia paparkan, SEAMEO RLC tersebut merupakan pusat pembelajaran bahasa yang didirikan oleh para menteri-menteri negara ASEAN.
”Kebetulan saya diminta untuk menjadi pengajar saat itu. Kalau pusatnya sendiri ada di Bangkok. Tapi saja mengajar di Singapura. Di sana saya menjadi perwakilan Indonesia yang mengajar selama 5 tahun,” ungkapnya.
Dalam SEAMEO RLC itu, Sadtono berkesempatan memberikan pengajaran bagi dosen-dosen dan guru bahasa inggris dari seluruh negara-negara ASEAN. Ada juga peserta dari Jamaica dan Jepang yang ikut menjadi ”murid” Sadtono saat itu. Di sana, ia ditemani dengan pengajar lain dari negara ASEAN lainnya.
Setelah sukses mengajar disana, Sadtono kemudian mendapatkan tawaran untuk mengajar di National University of Singapore selama satu tahun. Tak puas. Sadtono kemudian terbang ke Jepang untuk menjadi dosen di Nagoya University of Commerce and Business Administration.
“Sebenarnya di Jepang itu masih betah berlama-lama. Tapi karena saat itu istri saya sakit-sakitan, saya terpaksa harus pulang dan meneruskan karir saya di Indonesia,” urainya.
Karena harus tetap bekerja, akhirnya Sadtono memutuskan untuk menjadi pengajar di Universitas Widya Mandala dan Ma Chung. Bahkan, Sadtono juga pernah didaulat untuk menjadi wakil rektor II bidang keuangan di Ma Chung.
”Namun karena usia saya sudah terlalu tua, saya memutuskan untuk menjadi dosen biasa saja. Tidak mau lagi menjabat seperti itu,” tuturnya.
Kendati memilih menjadi dosen biasa, Sadtono ternyata juga masih eksis di beberapa negara. Menurut penuturannya,  ia juga masih diminta untuk menjadi penguji bagi tulisan-tulisan calon doktor di Universitas besar di Australia seperti Macquarie University, University of Queensland, Victoria University,  Royal Melbourne Institute of Technology, dan University of Sydney.
Ia juga sering diminta menjadi dosen tamu di Malaysia hingga Swedia Eropa. Saat menjadi dosen tamu di University Linsyoping Swedia, Sadtono memanfaatkannya untuk menikmati keindahan Eropa.
”Dari semua tempat yang saya kunjungi, saya paling suka di Eropa. Di sana bangunan-bangunan tuanya sangat bagus dan terawat. Kebetulan saya juga fotografi,” jelasnya.
Tak hanya itu, pria yang memiliki dua putra itu juga pernah mengenyam Fullbright professor di Ball State University, Indiana Amerika Serikat. Juga pernah menjadi konsultan penterjemahan dari Organisasi Internasional yang berpusat di New York.
”Saya juga pernah menjadi konsultan bidang penelitian bahasa inggris World Bank Jakarta. Saat itu, saya dan beberapa anggota tim lainnya meneliti cara mengajar guru bahasa inggris SMP di Sulawesi dan beberapa daerah lainnya,” jelasnya.
Karir yang begitu cemerlang memang telah terlihat sejak Sadtono duduk di bangku kuliah. Kepada Malang Post, Sadtono mengaku pernah menjadi lulusan terbaik dari English Language Institute, Victoria University of Wellington New Zealand angkatan 1963.
Setelah itu, ia langsung diminta menyelesaikan S3 tanpa lebih dulu mengenyam pendidikan magister. Ia bisa sukses mendapatkan gelar Ph.D. dari Texas University di Austin Amerika Serikat dalam waktu tiga tahun.
Kecintaannya pada bahasa inggris memang ada sejak kecil. Saat itu, pasca penjajahan Belanda, Sadtono sudah mampu memprediksi bahwa bahasa Inggris akan menjadi bahasa penguasa di dunia.
”Saat itu akhirnya saya memutuskan untuk menekuni bahasa inggris,” pungkasnya.
(nunung nasikhah/ary)