Avia Swalayan, Swalayan yang Bertahan Sejak Zaman Belanda

KIAN bertambah tahun, telah banyak berdiri supermarket dan minimarket di Bumi Arema. Di tengah pertumbuhan gerai modern, Kota Malang  menyisakan satu swalayan lawas nan bersejarah sebab sudah dibuka saat zaman penjajahan tempo doeloe.

Avia Swalayan di Jalan Jaksa Agung Suprapto (Celaket) yang telah dibuka sejak  tahun 1940-an masih tetap eksis, di tengah berkembangnya gerai seperti Alfamart dan Indomart, hingga supermarket seperti Giant dan Superindo.
 Malang Post berkesempatan untuk berbincang dengan  generasi kedua pemilik  Avia, yakni Goenawan. Dia menceritakan kiat swalayan ini untuk terus bertahan lebih tua dari usia Indonesia merdeka, termasuk bagaimana memiliki pelanggan tetap di Kota Malang ini. Hingga akhirnya dia mendapat tugas untuk mengelola Avia yang berlanjut pula pada generasi ketiga yakni anaknya.
Pria keturunan Tionghoa ini telah lahir dan turut menyaksikan bagaimana swalayan yang berada di area pertokoan atau Winkle Complex pada jaman Belanda tersebut awal mula berdiri. Berada di area strategis pada jaman dulu, Avia menjadi salah satu jujukan bagi kompeni untuk berbelanja.
“Dulu, pas di pertigaan di Kayutangan ini merupakan tempat pemberhentian dan berkumpulnya tentara Belanda. Kemudian mereka mengisi bekal dengan berbelanja di area ini,” ujarnya, mengawali cerita.
Goen, panggilan akrabnya menjelaskan, tidak begitu lama, ketika Jepang mulai berkuasa pada tahun 1942 hingga 1945 toko ini masih tetap bertahan. Yang berbeda, tamu yang datang merupakan orang serdadu Jepang. “Di sini komplek pertokoan mewah, yang berbelanja orang tertentu saja. Ya pemerintahan pada jaman itu,” beber dia.
Dia menyampaikan, tentang ingatan bagaimana toko yang hingga kini tetap dibiarkan dengan bentuk bangunan kuno itu menerima tamu. Termasuk perbedaan antara penjajah Belanda dan Jepang serta perlakuan kepada pebisnis pada jaman dulu. Dari mereka pula, orang tua Goenawan belajar mempertahankan Avia, hingga diserahkan kepada dirinya yang telah mengelola lebih dari 40 tahun.
“Belajar untuk menerima berbagai macam pelanggan. Baik dari kalangan borjuis hingga masyarakat biasa. Termasuk ketika ada pelanggan yang aneh ketika masuk ke tempat ini dan mereka yang lucu akhirnya menjadi pelanggan tetap di tempat ini,” terangnya.
Pria berusia 76 tahun ini menerangkan, perbedaan ketika berdagang pada jaman dulu dan jaman sekarang. Salah satunya pada kualitas produk.  Dia mengakui, sebelum tahun 1990an, sangat jarang ditemukan barang kadaluwarsa yang masih dijual di dalam toko. Sebab, pelanggan langsung memprotes ketika ada produk makanan kaleng misalnya yang bertahan dalam waktu yang lama.
“Ya langsung ada protes, barangmu kok lawas, nggak enak. Tetapi orang dulu jujur sehingga pebisnis sangat memegang pelanggannya,” jelas Goen, sapaan akrab pria ramah ini, dengan logat medhoknya yang kental.
Avia pun terus bertahan di tengah pasang surutnya kondisi ekonomi. Malahan, dari dua petak tempat bisnis, kini Avia menjadi lebih luas. Produk pun kian lengkap, melebihi minimarket modern yang kini berkembang. Tidak hanya makanan ringan dan kebutuhan dapur, Avia juga memiliki produk bahan kue yang tergolong lengkap. Pelanggannya pun tidak main-main. Tidak hanya mereka yang di seputaran Kayutangan.
Dalam sehari, bisa lebih dari 200 pelanggan masuk ke Avia. Kebutuhan yang dibeli pun beragam dan pelanggan berbelanja dalam jumlah yang terhitung lumayan. Ketika Malang Post sekitar dua jam berbincang di depan kasir, sebagian besar pelanggan berbelanja dengan nominal di atas Rp 100 ribu. Tidak sedikit, yang berbelanja di atas Rp 500 ribu. “Ya kalau ramai bisa lebih dari 200 orang masuk. Tetapi ya tidak setiap hari,” jelas pria yang masih rutin membaca surat kabar ini meyakinkan.
Bapak empat anak ini mengakui, tidak terlalu ribet ketika menjalankan bisnis swalayan miliknya. Dia enggan melihat perkembangan minimarket dan supermarket sebagai pesaing. Fokus dengan usahanya, menjaga kepercayaan pelanggan dengan prinsip tempat tersebut mampu menyediakan kebutuhan pelanggan.
Goen dan anaknya yang kini turut terjun mengelola Avia, memiliki trik untuk menjaga pelanggan. Personal touch dan pengetahuan akan produk itu wajib. Alhasil, dia pun begitu menguasai setiap nama yang dibutuhkan pelanggan. Misalnya bahan kue tertentu, dengan kebutuhan dan takarannya. Termasuk dia terjun, mengantarkan customer mencari apa yang dibutuhkan.
“Ya cuma seperti itu trik agar bertahan. Jangan sampai ketika ada pelanggan tanya, kami tidak tahu apa-apa. Mereka lari malah susah. Harus belajar dan bertanya bila memang kurang menguasai. Itu juga yang sangat saya tekankan kepada karyawan serta anak-anak yang ikut membantu,” papar dia panjang lebar.
Goen dan anaknya yang kini membantu mengelola Avia, juga memberikan hal yang nyaman kepada karyawan. Santai tetapi serius ketika menjalankan pekerjaan. Misalnya, ketika hari Minggu, tidak jarang melihat pegawai di Avia mengenakan kaos oblong.
Dia berharap Avia terus bertahan hingga banyak generasinya mendatang. Sebab, diakui dia, Avia merupakan lahan utama bagi keluarganya, sejak jaman dulu. “Toko ini termasuk lama, dulu ada lebih dari tiga swalayan sebelum tahun 1965. Tetapi, yang masih bertahan tetap Avia dan saya harap terus bertahan,” imbuhnya.
Satu lagi yang menarik dari keberadan Avia dalam konsep bangunan kunonya itu, Goen enggan memasang air conditioner (AC) pada swalayannya. Dia meyakini, udara yang lebih alami, lebih sehat bagi  para pelanggan setia mereka. “Biarlah ada bedanya dengan supermarket,” pungkas dia, lantas tersenyum. (stenly rehardson/nug)