“Pentolan“ Terminal Arjosari yang Biasa Disemprot Pemudik

Hari Raya Idul Fitri menjadi momen berharga untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Tapi tidak bagi Agus Ruskandi, personil Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang. Selama 26 tahun dia tak bisa merasakan manisnya berkumpul bersama keluarga saat Lebaran. Sejak ditugaskan ke Dishub Provinsi Jatim puluhan tahun silam, Agus mulai menjalani masa lebaran di jalan, termasuk lebaran tahun ini.


Pria kelahiran Malang, 28 Agustus 2015 itu, sekarang sedang bertugas sebagai Kepala Tata Usaha (TU) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Terminal Arjosari. Seperti layaknya kepala TU lainnya, tugas Agus tidak lepas dari urusan administrasi, penataan personel, pengaturan pelayanan angkutan, sampai pelaporan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terminal.
Ruangannya berada di tenggara Terminal Arjosari, di lantai dua kantor UPT Terminal Arjosari. Berada tepat di sebelah tangga, bila masuk lewat tangga kanan yang berada sebaris dengan loket bus antar kota antar provinsi (AKAP) PO Coyo. Dari ruangan berukuran sekitar 5x5 meter itu, dia bisa memantau seluruh lalu lintas bus antar kota dalam provinsi (AKDP) dan AKAP.
Namun, jangan harap bisa dengan mudah bertemu Agus di ruangan tersebut. Karena Agus lebih dari sekadar Kepala TU yang bekerja di balik meja. Di kalangan awak terminal, dia lebih dikenal sebagai 'pentolan' Terminal Arjosari. Yakni personel Dishub yang bertugas mengkordinasikan awak terminal, lalu lintas bus, penumpang, sampai bus itu sendiri.
Hanya di waktu-waktu tertentu, dia bekerja di balik meja, yaitu saat harus mengurusi administrasi terminal. Julukan pentolan terminal ini bukan karena Agus sering memalak sopir, bertindak semaunya, atau suka berkelahi. Melainkan, julukan pentolan didapat lantaran sejak diposisikan di terminal Arjosari pada 15 tahun silam.
Dia harus berhadapan langsung dengan berbagai macam karakter sopir, pengurus PO, penumpang, pedagang, pemilik kios, sampai petugas Dishub itu sendiri. Alhasil, dijamin tak ada satupun awak terminal Arjosari yang tak kenal Agus Ruskandi.
Begitulah aktivitas Agus sehari-hari. Bahkan aktivitas begitu semakin menjadi-jadi pada hari-hari tertentu, seperti lebaran. Bisa dipastikan, aktivitas terminal meningkat di momen lebaran, sehingga membuat Agus harus kembali ke terminal dan memantau situasi lalu lintas di sana pada hari-H lebaran. Malam takbiran pun terkadang harus dia lakoni di terminal.
Jauh sebelum bekerja di Terminal Arjosari, Agus juga sudah menelan asam-garam menjalani hari raya umat Islam ini di jalan. Saat masih berada di Dishub Provinsi, tak jarang ia harus bermalam dan berlebaran di pos mudik, di kantor, ataupun di jembatan timbang Lamongan dan Bojonegoro. Semua itu, dia jalani sejak 1989, tahun pertama ditempatkan di Dishub.
Agus diangkat menjadi PNS pada 1987. Dua tahun setelah itu, dia ditugaskan di Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR) Pemprov Jatim. Tak bertahan lama, pekerjaan di dalam kantor itu hanya bertahan tiga bulan, kemudian Agus dipindahkan sebagai petugas di jembatan timbang Lamongan, serta jembatan timbang Baureno, Bojonegoro. Bertahun-tahun dia jalani hidup sebagai petugas Dishub di sana.
Saat bertugas di jembatan timbang Lamongan, maupun Bojonegoro, Agus sering tidak sempat pulang ke Kota Malang. Sempat pun, hanya dia lakukan untuk sungkem kepada orang tuanya yang berada di Sukun, Kota Malang. Tak sampai satu hari, dia kembali ke tempat ia harus bertugas lagi di sana.
Bahkan pernah pada suatu hari, dia dimarahi atasannya karena salah jadwal. "Saat itu jadwal piket dirobek teman, jadi saya tidak tahu kalau hari itu saya kebagian piket, jadi saya pulang ke Malang untuk menemui keluarga. Tapi ternyata, hari itu saya piket, akhirnya saya balik lagi, waktu itu di Bojonegoro dan dimarahi sama atasan," terang Agus kepada Malang Post.
Lain cerita ketika dia mulai bertugas di Terminal Arjosari pada tahun 2000. Saat itu, Agus sudah tujuh tahun menikah dengan Suwartiningsih dan memiliki dua orang anak, Akbar Putrawijaya dan Ilham Brilian. Setiap lebaran, seusai salat ied, Agus harus mengantar anak dan istri ke rumah mertuanya di Sidoarjo. Setelah itu, dia kembali ke terminal untuk bertugas. Hal itu ia lakukan setiap lebaran, selama bertugas di terminal Arjosari.
"Demi keluarga, saya antar dulu anak dan istri saya ke Sidoarjo untuk pulang kampung. Terus saya tinggal lagi. Nanti lima hari setelah itu, saya jemput lagi, tapi saya harus bertugas lagi dan kembali ke terminal karena masih dalam masa lebaran," kata Agus seraya mengatakan setiap lebaran tak pernah 24 jam penuh dia gunakan untuk berkumpul bersama istri dan anaknya.
PNS golongan III c ini mengatakan, sebenarnya dia ingin satu hari penuh di momen lebaran, digunakan untuk berkumpul bersama keluarga. Namun, karena tugas sebagai petugas terminal harus tetap dilaksanakan, jadi dia juga tetap harus menjalankan tugasnya. Untungnya, istri dan kedua putranya mengerti profesi yang dijalankan Agus. Sehingga, Agus mengatakan belum pernah dia mendapat protes dari keluarganya tersebut.
"Manusiawi saja, siapa yang tidak mau berkumpul dengan keluarga saat lebaran? Tapi, ini tetap tugas yang harus dijalankan. Yang penting, bisa dijalankan dengan senang hati saja, semua akan terasa mudah," ungkapnya. Apalagi, di terminal Arjosari Agus sudah bertugas selama 15 tahun, sehingga selak-beluknya terminal. "Meskipun kadang-kadang kalau lagi antar anak dan istri ke Sidoarjo, sering ditelepon untuk melaporkan situasi terminal," terangnya sambil tertawa kecil.
Sudah tak bisa seharian bertemu keluarga, tak jarang juga Agus kena apes waktu menghadapi para pemudik di terminal. Setiap lebaran, jumlah pengunjung terminal memang selalu membeludak. Dalam satu kali masa lebaran (H-7 s/d H+7), rata-rata ada sekitar  200 ribu sampai 300 ribu penumpang di terminal tipe A tersebut. Dari sekian banyak pemudik, tak jarang Agus diprotes. Tak hanya pemudik, bahkan dari pengurus PO sendiri, Agus juga pernah kena 'semprot'.
"Pemudik protes karena tidak dapat bus, protesnya ke saya. Katanya petugas kok tidak bisa kordinir. Ada juga PO bus patas yang protes, karena menilai saya tidak adil dengan memasukan bus ekonomi. Apalagi lebaran seperti ini, lebih banyak. Saya harus hadapi dengan persuasif, meskipun sesekali kesal juga," ceritanya, dilanjutkan dengan tawanya yang kali ini lebih lepas.
Di luar cerita Agus saat lebaran, Agus dikenal dengan petugas yang bisa berbaur dengan masyarakat di terminal. Adaptasi yang ia lakukan selama dua tahun  ke orang-orang di terminal Arjosari, kini membuahkan hasil.Pria yang enam tahun lagi akan pensiun ini, menjadi orang yang disegani di kalangan Terminal Arjosari.
"Meskipun kadang-kadang memang ada mispersepsi dengan sopir, tapi selalu bisa selesai," ucapnya. Menurutnya, kehidupan terminal tak bisa disamakan dengan kehidupan di masyarakat umumnya. Sudah jadi rahasia umum, bahwa warga terminal dikenal dengan orang-orang nekat. Bila salah pendekatan, lanjutnya, bisa jadi korban kenekatan para awak terminal.
Karena itulah, perlu pendekatan khusus untuk masuk ke 'dunia' terminal.  "Dulu saya pertama masuk sok-sok garang. Tapi setelah lama di sini, saya jadi tahu kalau tidak perlu sok garang. Saya sendiri berprinsip harus jeli, teliti dan telaten menghadapi orang-orang terminal. Toh, aslinya mereka manusia juga, sama seperti kita," pungkasnya. (Muhamad Erza Wansyah/ary)