Ketika Perburuan Uang Baru Lebaran Mencapai Puncaknya

Siapa yang mengawali memberi angpao berupa uang baru ketika Lebaran? Meme tersebut, beberapa hari terakhir marak di jejaring sosial seperti Path, Facebook, Instagram hingga Twitter. Pertanyaan menggelitik, tetapi memang benar. Sebab, perkembangan di masyarakat menunjukkan bila uang baru diburu. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) menyiapkan duit baru sebanyak Rp 3,5 triliun untuk masyarakat.

Penukaran uang baru di bank resmi seperti bank umum dan Bank Indonesia, hingga penukaran di pinggir jalan raya kepada ‘pedagang’ uang baru memang ramai dikunjungi orang.
Di Malang, seputaran Alun-alun Merdeka menjadi sentra bagi masyarakat untuk mendapatkan uang pecahan uang baru. Yang resmi tinggal menuju gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang dan beberapa masyarakat mesti rela antre selepas subuh.
Sementara, bagi yang enggan ribet, terpaksa ‘membeli’ uang kepada pedagang yang tidak jauh dari KPw BI Malang. Konsekuensinya, pecahan apapun baik Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000 maupun Rp 20.000 harus ditebus dengan harga lebih mahal.
“Meskipun mahal, ya masih banyak orang yang menukar ke pedagang. Mereka terkadang belum paham resiko dan enggan ribet dengan menukar di counter bank yang resmi,” ujar Kepala KPw BI Malang, Dudi Herawadi.
Menurut dia, perbankan dan BI pun dipastikan memiliki pekerjaan yang super berat di momen Ramadan dan jelang Lebaran. Permintaan dari masyarakat uang tunai meningkat, utamanya uang baru pecahan kecil. Alhasil, antrean panjang selalu terjadi di KPw BI Malang, setiap tahunnya ketika melayani penukaran bagi masyarakat umum bahkan kian meningkat.
Momen tahun ini, antrean khusus masyarakat umum di KPw BI Malang, antara 900-1100 orang per hari. Jumlah itu terjadi antara 6 Juli hingga 15 Juli, kemarin. Jam layanan penukaran uang pun terbatas, hanya tiga jam saja setiap harinya, antara pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.
Yang belum mendapatkan layanan, ya terpaksa keesokan harinya. Bila malas menunggu, mungkin juga akan beralih ke pedagang yang seakan mengelilingi KPw BI Malang.
“Kami tidak bisa melarang. Tetapi untuk masyarakat umum, sejak awal kami anjurkan tidak tukar uang di pinggir jalan. Untuk menghindari bila yang ditukar nominalnya kurang atau malahan disisipi uang palsu,” beber dia kepada Malang Post.
Dudi mengakui, bila dilihat dari nominal penukaran uang, bisa terpantau pula antusias masyarakat. Dari kisaran 900 orang setiap hari, akan menghasilkan penukaran mencapai Rp 10 miliar. Selama delapan hari layanan, perkiraan mencapai Rp 80 miliar. Khusus untuk masyarakat umum saja. Bila ditambah corporat dan bank umum, sangat jauh berbeda nominalnya.
Tahun ini, KPw BI Malang menyiapkan dana sebesar Rp 3,5 triliun untuk menghadapi Ramadan dan Lebaran. Hingga sehari sebelum berakhirnya operasional perbankan untuk menyambut libur Idul Fitri, posisi saldo dalam neraca sekitar Rp 1,7 triliun. Angka ini, sudah ditambah dengan pemasukan sekitar Rp 500 miliar.
 “Terhitung, sejak awal kami melayani penukaran uang, baik uang pecahan baru maupun yang sudah beredar, totalnya di kisaran Rp 2,3 triliun. Sementara, dari dana Rp 3,5 triliun, untuk kategori uang baru sebesar Rp 2,6 triliun,” urai dia panjang lebar.
Antusias masyarakat di tahun ini, dijawab dengan terobosan baru di KPw BI Malang. Bekerjasama dengan tujuh bank umum, diadakan layanan penukaran uang dengan mobil kas keliling. Ban itu meliputi Bank Syariah Mandiri, BRI, BCA, BNI, Bank Mandiri, CIMB Niaga dan Bank Jatim. Tempatnya pun tidak jauh dari pusat keramaian. Berada di Alun-alun Merdeka Timur, tepat di samping Ramayana. Bisa dibayangkan, keuntungan serta resiko ketika membuka layanan di tempat ini.
Keuntungan yang bisa didapatkan, masyarakat umum yang belum mendapatkan jatah penukaran uang baru, tinggal menunggu sekitar dua jam saja dan beralih ke layanan mobil kas. Layanan berlangsung antara pukul 14.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.
Namun resikonya, beradu dengan pedagang uang yang memadati area Alun-alun Merdeka. Tidak hanya bersaing menarik hati masyarakat, namun harus kontak langsung pula ketika melarang pedagang yang tak sedikit ikut antrean dan menukar uang. Ketika layanan, tampak beberapa kali Dudi terjun langsung menghalau pedagang yang sudah ketahuan.
“Ya tidak boleh lah. Kasihan masyarakat, yang biasanya belum dapat uang baru karena tidak paham cara penukaran di BI, harus bersaing dengan mereka. Menukar ke mereka, kan mahal harus ada imbalannya,” jelas pria asal Sumedang ini.
Diakui dia, kecolongan pun masih terjadi. Sebab, perbankan dan BI tidak bisa menghalau terus menerus. Kebijakan setiap bank pun berbeda. Yang mewajibkan menggunakan copy KTP, pasti lebih aman tidak akan ada pengulangan penukar. Sementara, yang hanya menggunakan nomor antrean, bisa berulang-ulang.“Masih kali pertama. Pasti ada evaluasi setelah pelaksanaan,” tegasnya.
Sementara itu, Sumilah, salah satu masyarakat yang antre mengakui senang dengan adanya layanan ini. Dia yang datang bersama sang anak, bisa memiliki kesempatan menukar uang dengan harga normal, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Baguslah dengan penukaran uang ini. Sebab, tidak lagi tukar di pinggir jalan dan lebih mahal dan bisa memberi saudara yang datang ke rumah dengan uang baru,” terangnya.
Menurutnya, dia berharap bisa berlangsung lebih lama untuk tahun berikutnya. Tidaklah tiga hari terakhir saja. Sebab, diakui atau tidak, terobosan ini membuat masyarakat paham tata cara penukaran uang di bank umum. “Katanya, di bank juga seperti ini modelnya. Dapat nomor antrean dan menunggu. Sebelumnya, kami kan takut karena tidak punya pengetahuan,” jelas perempuan asal Bareng ini. (stenly rehardson/ary)