Mengikuti Sungkeman Masal Warga RW 6 Oro-Oro Dowo

Ratusan warga RW 6 Oro-Oro Dowo, Klojen, merayakan tradisi tahunan halal bihalal hari raya Idul Fitri di Jalan BS Riadi, Jumat (17/7) lalu. Tak kurang dari 200 warga empat RT  sungkeman masal di tengah jalan. Tradisi luar biasa ini ini sudah mencapai perayaan perak, alias telah berlangsung selama 25 tahun.

Takbir kemenangan berkumandang di masjid Oro-Oro Dowo, Jalan BS Riadi, pagi hari Jumat (17/7) lalu. Satu persatu, warga yang menyelesaikan salat Idul Fitri keluar dari halaman masjid. Sebagian tampak terburu-buru kembali ke rumah masing-masing. Namun, ada pula yang tidak pulang. Para warga yang pulang, ternyata segera kembali ke jalanan depan masjid.
Ratusan warga malah berkumpul di pinggir jalan satu arah BS Riadi tersebut. Papan penghalang dipasang. Separuh jalan satu arah ditutup. Seluruh warga RW 06 Oro-Oro Dowo Kecamatan Klojen sudah memenuhi jalanan. Mereka membentuk dua baris yang panjang mengular di jalan depan masjid.
Para warga ini berasal dari RT 1, 2, 3 dan 4. Anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua berbaur jadi satu. Separuh jalan yang tidak diblokir pun masih bisa digunakan kendaraan. Wajah para pengendara itu terlihat santai.  Mereka tetap melenggang pelan, berusaha tak mengganggu ratusan warga yang berkumpul.
Budaya silaturahmi warga dengan panjang kurang lebih 200 meter tersebut sudah mencapai tahun perak. Tepatnya, selama 25 tahun terakhir, separuh jalan satu arah BS Riadi sudah jadi tempat reguler warga untuk silaturahmi pasca Salat Id lebaran.
Tak heran, para pengguna jalan yang kerap melewati BS Riadi pada hari H lebaran pun bisa memaklumi kebiasaan warga Oro-Oro Dowo. Kebiasaan silaturahmi warga Oro-Oro Dowo tersebut pun cukup spesial karena tidak diagendakan lewat undangan surat. Menurut Muhammad Hamim, pengurus masjid Oro-Oro Dowo, warga tak pernah menerima undangan untuk silaturahmi di jalanan.
“Karena kegiatan ini sudah rutin digelar selama 25 tahun terakhir, panitia lebaran RW 6 tak pernah bikin undangan. Kita cuma beri pengumuman lewat loudspeaker. Secara otomatis warga datang sendiri. Sudah tradisi,” kata Hamim sapaan akrabnya, kepada Malang Post, kemarin.
Menurutnya, tradisi silaturahmi di jalanan depan masjid Oro-Oro Dowo ini awalnya terjadi karena luas RW 6. Warga dari tiap RT, sulit mengunjungi RT lain saat hari raya dengan jalan kaki. Jaraknya cukup jauh. Akhirnya, pada tahun 1990, empat RT di RW 6 memutuskan untuk kumpul di halaman masjid, memblokir jalan dan bermaaf-maafan.
Sejak saat itu, kebiasaan silaturahmi jalanan ini dilestarikan dan bertahan sampai sekarang. Bahkan, Hamim yang sejak kecil lahir di Oro-Oro Dowo, menyebut bahwa kebiasaan silaturahmi ini berkembang. Tak hanya bermaafan, silaturahmi jalanan juga menjadi ajang berbagi untuk warga RW 6 yang tidak mampu.
 “Warga RW 6 akan mengumpulkan zakat tiap lebaran. Ada zakat fitrah, zakat mal dan sodakoh. Zakat fitrah dan zakat mal dipakai untuk sembako yang dibagikan buat warga tak mampu. Sodakohnya, dibuat angpao anak-anak kecil RW 6,” papar Hamim.
Ia menyebut, kebiasaan ini menjadi pengikat tali persaudaraan dan rasa gotong royong untuk warga RW 6. Apalagi, adat ini sudah berjalan selama 25 tahun. Tak heran, Hamim dan warga asli Oro-Oro Dowo lainnya, sudah merasakan kebiasaan halal bihalal jalanan ini sejak kecil.
“Kebiasaan ini mengikat kami dalam gotong royong tali persaudaraan yang kental. Sampai sekarang, tetap ada adat bertamu ke rumah-rumah tetangga. Tapi, halal bihalal jalanan ini jadi acara awal tiap selesai Salat Idul Fitri,” sambung warga RT 2 ini.
Dengan adat silaturahmi jalanan tersebut, warga RW 6 bisa menjaga kebersamaan dan keakraban. Pasalnya, silaturahmi ini bakal membuat warga mengetahui apakah ada pendatang baru di antara warga-warga yang sudah lama berdomisili di RW 6.
“Kita jadi saling kenal antar RT. Pun, kita jadi tahu, ada warga baru di lingkungan RW 6,” tutupnya.(fino yudistira/ary)