Museum Bung Karno di Blitar yang Memikat Wisatawan

PADA libur Hari Raya Idul Fitri 1436 H kali ini, Malang Post bertandang ke Museum Bung Karno di Blitar. Selain merayakan lebaran, kunjungan kali ini untuk mengingat peristiwa penting di bulan Juli terkait dengan Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno. Museum tersebut rupanya sangat ramai, banyak orang ingin mengenang kembali kebesaran sang Proklamator itu.


Pada bulan Juli, Bung Karno memimpin panitia kecil untuk merancang Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Diawali rapat pada tanggal 13 Juli 1945 Panitia Perancang UUD mengadakan sidang untuk membahas hasil kerja panitia kecil perancang UUD tersebut.
Kemudian, pada tanggal 14 Juli 1945, rapat pleno BPUPKI menerima laporan Panitia Perancang UUD yang dibacakan oleh Ir. Soekarno.
Dalam laporan tersebut tercantum tiga masalah pokok yaitu: a. pernyataan Indonesia merdeka b. pembukaan UUD c. batang tubuh UUD. Konsep proklamasi kemerdekaan rencananya akan disusun dengan mengambil tiga alenia pertama Piagam Jakarta. Sedangkan konsep Undang-Undang Dasar hampir seluruhnya diambil dari alinea keempat Piagam Jakarta.
Museum Bung Karno sendiri cukup fenomenal. Sebab, umumnya museum memiliki jumlah pengunjung yang sedikit. Namun, di sini, pengunjung terus mengalir sepanjang waktu. Mereka datang museum Bung Karno seperti mengenang kembali sejarah besarnya. Sejarah perjuangan sang pendiri bangsa. Museum Bung Karno terletak di komplek pemakaman Bung Karno di Kota Blitar.
Momen libur lebaran ini, wisatawan dari berbagai daerah, tampak memadati tempat bersejarah tersebut. Museum yang diresmikan oleh Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri, selama ini memang menjadi jujugan wisatawan.
Begitu sampai di halaman depan museum yang diresmikan tahun 2004 ini, langsung disuguhkan dengan gong perdamaian yang berukuran besar. Sesuai dengan namanya, gong tersebut sebagai simbol perdamaian. Di badan gong tersebut, terdapat logo beberapa agama, seperti Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha.
Artinya, semua agama tersebut lebih mengedepankan perdamaian. Sehingga, kerukunan antar beragama lebih diutamakan. Gong ini jadi pilihan para pengunjung, untuk mengabadikan diri. Dari gong, perjalanan bisa dilanjutkan ke wahana berikutnya, yakni perpustakaan.
Berbagai buku yang berkisah sejarah dan perjuangan dari sang Proklamator. Tak hanya itu, terdapat ruangan yang ditempatkan khusus untuk benda sejarah. Mulai dari lukisan, foto dan aneka benda bersejarah.
Seluruh yang disajikan, mengkisahkkan pejuangan dan kegigihan dari Bung Karno, dalam merebut kemerdekaan dari penjajah. Salah satu pengunjung museum, dari Kota Malang, Anang Hunaifi ikut merasakan kembali semangat perjuangan.
Menurut warga yang berdomisili di Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang ini, dia mendapatkan yang diinginkan. Dia sengaja datang ke tempat tersebut untuk flashback sejarah Bung Karno.
“Melalui Museum Bung Karno ini, pengunjung dan wisatawan menjadi tahu kegigihan Bung Karno dalam merebut kemerdekaan dari penjajah,” ujarnya kepada Malang Post.
Di sisi lain, kata dia, lewat museum ini, dirinya semakin menghargai jasa para pahlawan yang terlebih dahulu telah gugur. Juga turut mempertebal kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mengingat bulan depan, NKRI akan merayakan hari jadinya ke 70.
“Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Para pahlawan itu, telah mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk merebut kemerdekaan. Serta mengusir penjajah dari negeri tercinta ini,” paparnya.
Salah seorang pengelola Museum Bung Karno, Suprapto mengatakan, tiap kesempatan tanggal merah atau liburan, tempat tersebut selalu dipadati pengunjung. Sedangkan saat hari pertama libur lebaran beberapa waktu lalu, jumlah pengunjung mencapai angka lebih dari 35 ribu orang.
“Museum Bung Karno dan Makam Bung Karno ini, selalu menjadi jujukan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia untuk dikunjungi. Karena nama Bung Karno sudah nasional dan bahkan mendunia,” urainya.
Selain itu, Museum Bung Karno dan Makam Bung Karno ini menjadi tempat wisata yang paling murah. Lantaran untuk masuk ke tempat tersebut, tidak dipungut biaya sepeser pun. Pengunjung cukup mengisi buku tamu yang ada di pos penjagaan.
“Kami prediksi, tingkat kunjungan ke Museum Bung Karno terus meningkat. Apalagi masa libur Lebaran, masih berlangsung hingga hari Selasa(21/7) mendatang,” urainya.(Binar Gumilang/ary).