Polwan Yang Rela Lebaran di Jalan Raya Demi Tugas

BERKUMPUL dengan keluarga, memang sesuatu yang menyenangkan. Apalagi ketika merayakan lebaran. Namun tidak demikian dengan Ajun Komisaris Polisi (AKP) Amung Sri Wulandari ini, karena tugas ibu tiga anak dan dua cucu tersebut rela merayakan lebaran di jalan raya.

Puluhan kendaraan, baik roda dua ataupun roda empat siang kemarin terlihat lalu lalang di Jalan Raya Kebonagung, Kecamatan Pakisaji. Arus kendaraan terlihat lancar dan normal. Dibandingkan dengan sehari sebelumnya, kendaraan cukup padat dan berjalan merayap.
Di dalam Pos Pengamanan (Pos Pam) Operasi Ketupat Semeru 2015 di Kebonagung, Pakisaji, terlihat beberapa petugas duduk sembari mengawasi arus kendaraan. Mulai petugas dari Polri, TNI AD, Dinas Perhubungan ataupun petugas mobil ambulance.
Dari salah satu petugas di dalam Pos Pam tersebut, nampak AKP Amung Sri Wulandari, duduk di kursi. Sembari mengawasi arus kendaraan, ia juga terus memantau situasi melalui handy talki (HT). Sesekali ia menjawab panggilan dari HT yang dipegangnya.
“Setiap harinya, mulai H-7 lebaran lalu tugas saya ya memantau situasi di Pos Pam ini. Karena saya sebagai Kepala Pos Pam Kebonagung Pakisaji ini,” ujar Amung Sri Wulandari.
Ada 53 petugas gabungan yang bersiaga di Pos Pam tersebut. Namun setiap harinya tidak semuanya bertugas, melainkan dibagi menjadi beberapa shift. Tetapi tidak demikian dengan Amung Sri Wulandari, ia tidak ada libur. Sebagai Kapos Pam, selama 24 jam selalu memantau perkembangan.
Termasuk ketika lebaran lalu. Disaat orang lain bisa menghabiskan waktu lebaran berkumpul dengan keluarga, ia harus bertugas di jalan raya untuk mengatur arus lalu lintas.
“Kalau dulu waktu bintara, masih ada libur bergantian. Misalnya hari pertama lebaran libur, hari keduanya masuk. Namun ketika sudah menjadi perwira, apalagi Kapolsek tidak ada waktu libur,” tutur Kapolsek Pakisaji.
“Namun pada waktu lebaran pertama, setelah selesai salat Idul Fitri, saya sempatkan pulang ke rumah mertua di Pasuruan untuk sungkem. Setelah sungkem kembali lagi berdinas. Itu kalau situasinya landai, namun kalau ramai ya tidak berani meninggalkan meskipun hanya sebentar saja. Kalau ke rumah orangtua sendiri, ketika mendapat jatah cuti,” sambung ibu tiga anak dan dua cucu ini.
Awal-awal menjalani ketika pertama menjadi polisi dulu, memang sangat berat. Namun setelah bertahun-tahun menjalani sudah hal yang biasa. Apalagi sudah bertugas sebagai Polwan selama 30 tahun sejak 1985 lalu.
“Selama lebaran, untuk silaturrahmi ke rumah saudara memang tidak sempat. Mungkin selama ini hanya lewat SMS saja. Namun ketika mendapatkan jatah cuti, itu yang saya manfaatkan untuk bertemu dengan keluarga dan saudara. Termasuk silaturrahmi ke tetangga, saya selalu mencuri waktu lenggang saat situasi aman,” papar suami Kabag Sumda Polres Bangil Pasuruan, Kompol Rohadi.
Saat tidak bisa lebaran dengan keluarga, Amung mengaku pernah diprotes oleh anak-anaknya. Karena ketika liburan lebaran, tidak bisa mengajak bermain anak-anaknya lantaran tugas. Namun begitu mendapatkan cuti, anak-anaknya sudah masuk kerja dan sekolah. Tetapi semua anak-anaknya sudah menerima dan memahami tugas seorang polisi atau perwira.
Di Pos Pam tersebut, selain mengawasi situasi wilayah juga mengatur lalu lintas ketika terjadi kemacetan. Terkadang Amung harus turun jalan langsung untuk mengatur lalu lintas, dengan bergantian bersama anggota.
Selain AKP Amung Sri Wulandari, juga ada AKP Sri Widyaningsih, Kapolsek Sumberpucung yang juga menjadi Kapos Pam Karangkates Sumberpucung. Selama lebaran, ia juga sama sekali tidak pernah merayakan lebaran dengan keluarga ataupun anak-anaknya. Lebaran kali ini, dirayakannya di jalan raya dengan memantau arus kendaraan di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar.
“Mulai jadi polisi sampai sekarang, saya tidak pernah merayakan lebaran dengan keluarga karena tugas dan tanggungjawab. Setelah lebaran dan ketika mendapat cuti, baru bisa merayakan lebaran,” kata Sri Widyaningsih.
Ia juga mengatakan sempat diprotes oleh anak-anaknya, karena tidak bisa berkumpul dengan keluarga. “Namun mereka semuanya sudah bisa memahami. Apalagi anak-anak semuanya sudah besar,” paparnya.(agung priyo)