Di Ambang Punah, Hanya Pentas di Wagir, Turen Tinggal Wayangnya

Pertunjukan langka Wayang Krucil di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, kemarin

Wayang Krucil, Seni Tradisi Berusia Ratusan Tahun
PERTUNJUKAN tradisional langka, Wayang Krucil digelar di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, kemarin. Seni budaya ini, telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Dipertahankan eksistensinya oleh Mbah Saniyem, 72 tahun, ia konsisten menyelenggarakan pertunjukan Wayang Krucil, setiap tahun.

Suasana satu rumah sederhana di Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, tampak ramai dipadati masyarakat. Di halaman depan rumah itu, terdapat terop dan panggung yang menandakan sedang berlangsung suatu pertunjukan tradisional. Ya, rumah itu milik Mbah Saniyem yang sedang diadakan petunjukan Wayang Krucil.
Langgam jawa yang diiringi oleh gamelan, mendominasi pendengaran. Kesan tradisional makin kental dalam pertunjukan yang langka tersebut.
Tua, muda, anak-anak dan berbagai kalangan, tampak serius menyaksikan dalang memainkan Wayang Krucilnya. Saat itu, yang mementaskan pertunjukan tersebut, adalah Ki Jain, juga warga Wiloso.
Tangan Ki Jain, tampak lincah memainkan wayang dari berbagai macam karakter maupun tokoh tersebut. Yang membedakan antara pertunjukan Wayang Krucil dan Wayang Kulit, adalah dari wayang yang berukuran kecil. Selain itu, Wayang Krucil ini, dapat ditampilkan pada siang hari dan malam hari.
Bedanya lagi, tidak ada layar yang membentang, seperti pertunjukan wayang kulit. Selama lebih dari dua jam, Ki Jain memainkan lakon Panji Asmoro Bangun.
“Pertunjukan Wayang Krucil ini, biasa digelar pada awal bulan Syawal seperti sekarang. Tujuannya digelar, untuk keselamatan desa ini,” ujar Kepala Desa (Kades) Gondowangi, Danis Setya Budi Nugroho, kepada Malang Post, kemarin.
Mbah Saniyem ini, mempunyai sebanyak 72 buah koleksi Wayang Krucil. Sedangkan berbagai karakter yang dimiliki seperti Anjasmara, Banuwati, Prabu Kencana Wungu, Jaka Sesuruh, Prabu Wijaya dan sebagainya.
“Mbah Saniyem ini generasi ke delapan yang konsisten melakukan pertunjukan Wayang Krucil,” urainya.
Lanjut dia, selain pada bulan Syawal, pertunjukan ini selalu ditampilkan saat bersih desa. Sehingga, pertunjukan yang langka ini, memang sebatas ditampilkan di desa tersebut, setiap ada kesempatan kegiatan desa.
Saat pertunjukan Wayang Krucil itu, juga disaksikan oleh Arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono. Dijelaskan Dwi, wayang Krucil di Wiloso adalah salah satu khasanah seni-budaya pertunjukan tradisional Malang yang dalam kondisi Save Our Souls (SOS) untuk diselamatkan. Wayang ini dan pelakunya, tengah menjadi survivor di tengah belantara peradaban saat ini.
Sejauh penemuan Dwi, tinggal dua Wayang Krucil yg tersisa. Di Wiloso dan Gedog Kecamatan Turen). Ironisnya, di Gedog justru tidak memiliki dalang dan pengrawit. Satu-satunya yang masih pentas, memang hanya di Wiloso.
“Itupun baru dapat pentas lagu tahun 2009 setelah satu generasi, sektar tiga dasawarsa vakum,” ujarnya.
Kata dia, sejauh ini belum didapati data masuknya Wayang Krucil ke Malang. Dwi lantas menjelaskan pendapat H.J. de Graaf dan Theodoor. G. Th. Pigeud. Bahwa Pangeran Pekik (Adipati Surabaya, Red) adalah creator Wayang Krucil tahun 1630-1650-an.
“Boleh jadi masuk ke Malang medio abad 17 hampir bersamaan waktu dengan Mataramisasi ke Bang Wetan pada masa pemerintahan Sultan Agung,” terangnya.
Cerita yang diangkat pun, Panji. Kisah ini telah ada di Malang sejak masa akhir Singhasari. Lantas masih tetap bertahan pada masa pemerintahan Majapahit era Hayam Wuruk. Dwi menjelaskan, wayang Krucil adalah varian Wayang Panji dengan tokoh peran berupa boneka wayang (puppet) dari bahan kayu pipih dua dimensional.
Seiring bergantinya masa, pertunjukan ini mulai mengalami kepunahan. Sejak Jepang, mulai menjajah Indonesia. Nama Wayang Krucil semakin tenggelam, pada era kemerdekaan hingga peristiwa G 30 S PKI. Sedangkan untuk di Kabupaten Malang ini, kata dia, Wayang Krucil memang berkembang melalui Pangeran Pekik tersebut.
Tempat berkembangnya pertunjukan ini, memang berasal dari Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir. “Pusat perkembangan kebudayaan dan kesenian di Malang, ada dua tempat. Yakni di lereng Pegunungan Tengger dan lereng Gunung Kawi. Sedangkan desa ini, tepat berada di lereng Gunung Kawi,” urainya.
Sehingga, desa ini mempunyai catatan sejarah yang sangat panjang. Termasuk keberadaan dari pertunjukan ini, merupakan peninggalan sejarah yang ada di desa itu. “Terdapat tiga macam cerita pertunjukan yang ditampilkan dalam Wayang Krucil ini, Panji, Darmawulan dan Menak,” urainya.
Khusus cerita Menak, warga Wiloso menyebut sebagai cerita 'Umar-Amir. Adapun Damar Wulan juga cerita era Brawijayan yang kental dengan latar kisah kerasjaan Mahapahit.
“Cerita ini sudah sangat jarang dimainkan dalam pertunjukan wayang,” lanjutnya.
Menurut Dwi, yang paling penting adalah upaya konservasi maupun pelestarian dari seni budaya ini. Tentunya, tidak mudah untuk melakukan hal tersebut. “Salah satu kuncinya adalah, melakukan pertunjukan secara konsisten,” tegasnya.
Selanjutnya, pihaknya akan berupaya mengenalkan pertunjukan tersebut ke masyarakat lebih luas lagi. Selain itu, melalui pertunjukan ini, diharapkan akan muncul lebih banyak generasi muda yang akan melestarikan pertunjukan Wayang Krucil. Karena pertunjukan tersebut, memang merupakan peninggalan sejarah yang patut dilestarikan.
“Pertunjukan ini kental nuansa agrarisnya di Kabupaten Malang, jika Pemkab tidak peduli, maka kita yang harus serempak menyelamatkannya,” tegas Dwi.
Pertunjukan Wayang Krucil ini, sudah ramai di grup seniman Malang Raya sejak beberapa hari lalu, terutama di WhatsApp Dewan Kesenian Malang. Para seniman antusias dengan masih eksisnya Wayang Krucil.
Apalagi, di Wiloso juga digelar diskusi tentang wayang, dihadiri Henry Nurcahyo peneliti Panji dari Sidoarjo. Dwi Cahyono Arkeolog dari UM, ada juga Ki Sholeh Adi Pramono seniman topeng Malangan dari Tumpang. Di grup WA sendiri, hingga malam, para “penghuninya” juga menyimak serius perihal penyelamatan Wayang Krucil. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menyelamatkan seni budaya ini?
 (Binar Gumilang/ary)