Napak Tilas Pramoedya Ananta Toer di Blora Jawa Tengah (1)

Blora, kota kecil di pinggiran Jawa Tengah yang tak begitu populer, adalah tempat tumbuh besarnya almarhum Pramoedya Ananta Toer. Salah satu sastrawan  besar Indonesia itu akrab dengan sapaan Pram. Wartawan Malang Post, Nunung Nasikhah mengunjungi Rumah Pram dan berbincang dengan adiknya Soesilo Toer. Berikut tulisannya.


Pram adalah peraih Ramon Magsaysay Award, yang dikenal dengan senapan kata-kata. Selepas kepergiannya, karya-karya sang maestro itu diabadikan dalam sebuah perpustakaan ”liar” tak jauh dari jantung ibu kota Blora.
Siang itu, sengatan matahari Blora cukuplah panas jika dibandingkan dengan Kota Malang. Sebuah kalimat populer berbunyi ”Bacalah bukan bakarlah” terpajang di dinding kayu. Tulisan itu yang menghentikan laju motor penulis, ketika tengah kebingungan mencari rumah Pram.
Iya, papan tulisan itu adalah ikon perpustakaan kecil bernama Pataba, singkatan dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa. Saat kali pertama menginjakkan kaki di depan pintu gerbang, penulis terhenyak setengah tidak yakin. Selain tak ada satu batang hidung pun yang tampak. Di kawasan perpustakaan itu justru berkeliaran beberapa kambing yang sedang bersantai menikmati rerumputan.
Seorang lelaki tua bernama Soesilo keluar menyapa saya yang tampak kebingungan. Ia mengaku sebagai adik Pram. Soesilo yang mendiami rumah keluarga besar itu bersama sang istri. Ia jugalah rupanya yang mendirikan Perpustakaan Pataba 30 April 2006 silam, beberapa waktu selepas kepergian sang kakak, Pram.
Penampakan perpustakaan yang satu ini sungguh minimalis. Ribuan buku berwarna kecoklatan itu tertata di pinggiran dinding persis di bawah belasan foto Pram beserta kutipan kata-katanya. Dibilang rapi juga tidak. Sebab masih banyak buku yang tertumpuk liar di luar rak. Ada juga tumpukan kliping artikel-artikel yang dibuat sendiri dari tangan Soesilo.
”Ya begini ini tempatnya. Di sini ada sekitar 6000-an buku. Selebihnya ada di ruangan depan sana belum saya pindah kesini,” terang Soesilo kepada Malang Post.
Ribuan buku itu awalnya merupakan koleksi pribadi milik Soesilo semasa muda. Dulu, ia memiliki perpustakaan pribadi di kediamannya di Bekasi. Kemudian karena harus pindah, lalu ia bawa semua buku itu ke Blora.
”Dulu, hanya perpustakaan pribadi saja. Saya banyak dapat buku dari Rusia juga sekitar 100 hingga 200-an buku. Saya bawa juga ke sini. Baru setelah Pram meninggal tahun 2006, saya berikan nama Perpustakaan ini Pataba, untuk mengenang Pram,” urai adik ke enam Pram tersebut.
Soesilo sendiri menghias ruangan baca itu dengan beberapa potret Pram dalam bingkai-bingkai minimalis. Tentunya, ada pula karya-karya Pram di sana. Ada pula buku-buku Soesilo tentang Pram seperti ”Pram dalam Kelambu”, ”Pram dari dalam”, ”Pram dan Seks”, ”Pram dari dekat sekali”, ”Bersama Mas Pram”, ”Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa” serta ”Pram dan diantara Pena, Perempuan dan Keberanian”.
”Tentunya disini juga ada buku tentang ilmu pengetahuan lengkap. Separo saya beli sendiri, saya kumpulkan. Ada juga yang diberi. Pengumpulan ini sejak tahun 1978 selepas saya bebas dari penjara orde baru,” tegasnya.
Kendati demikian, keberadaan Pataba di Blora tampaknya tak mendapat dukungan baik dari Pemerintah Daerah. Bahkan, menurut Soesilo, Pataba dianggap ”liar” hanya karena tak berkenan berbagi anggaran dana bantuan perpustakaan yang akan diberikan oleh pemerintah pusat untuk pengembangan Pataba.
Saat itu, Soesilo telah berhasil merancang proposal untuk bisa mendapatkan dana sebesar Rp. 200 juta yang akan diberikan oleh pemerintah pusat. Proposal itu lengkap dengan rancangan alokasi dana bantuan sesuai yang dibutuhkan oleh perpustakaan. Namun, ia juga harus mendapatkan legalisasi dari perpustakaan daerah milik pemerintah.
Sayang, niat baik itu tak mendapatkan dukungan. Menurut Soesilo, sang aparat mau memberikan legalisasi dengan syarat memperoleh jatah sebesar 20 persen atau sekitar Rp. 40 juta.
”Bayangkan saja, ia bahkan minta 20 persen dari dana bantuan itu. Kalau dihitung kan Rp. 40 juta. Lha bagaimana saya harus membuat rancangan dana-nya jika Rp. 40 juta-nya bukan dana untuk pengembangan. Saya saya tidak mau,” urainya.
Karena Soesilo bersikukuh tak mau memberikan jatah, sang aparat kemudian geram dan tidak memberikan legalisasi. Ia bahkan menganggap Pataba adalah perpustakaan liar.
”Ia bilang, ya sudah perpustakaan ini liar. Keberadaan perpustakaan ini memang tidak diakui oleh pemerintah,” tutur pria saat ini berusia 78 tahun tersebut.
Padahal, banyak masyarakat mengunjungi perpustakaan sederhana ini. Mulai dari siswa Blora hingga peneliti dari empat belahan benua.
”Yang datang kesini juga anak-anak dari Blora sendiri, mahasiswa, wartawan, hingga peneliti dari Asia, Amerika, Eropa dan Australia. Yang belum ada hanya dari Afrika saja,” jelasnya.
Mulai dari peneliti Perancis yang merupakan dosen di Universitas Indonesia, peneliti dari Amerika dan masih banyak lagi. Bahkan, terkadang mereka menginap di kediaman sederhana Soesilo hanya untuk mendapatkan data dari Perpustakaan Pataba.
”Yang dari Perancis itu ya tidur di sini seadanya. Saya gelarkan tikar, saya ajak makan sate Blora sembari mencari buku yang ia cari di sini,” ceritanya.
Ada juga agenda rutin seperti seminar, bedah buku untuk kalangan siswa Blora. Biasanya membahas isu tentang lingkungan, juga lomba mengarang tingkat siswa.
”Ini saya dan rekan-rekan lain berencana untuk bisa membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa ke delapan di UB (United Nations, Red). Ya semoga saja, ini memang sudah menjadi target akhir-akhir ini,” ungkapnya.
Untuk prestasi, perpustakaan Pataba ini juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai perpustakaan terbaik ke dua di provinsi Jawa Tengah. Semua karena koleksi buku yang dianggap cukup lengkap.(nunung nasikhah/bersambung)