Napak Tilas Pramoedya Ananta Toer di Blora Jawa Tengah (2/Habis)

SOESILO  Toer, adik keenam Pramoedya Ananta Toer inilah yang menginisiasi berdirinya Perpustakaan Pataba. Ia berjuang menghidupkan perpustakaan di sisa hidupnya sembari melakukan hobinya sebagai pemulung.

Anak ketujuh pasangan Mastoer dan Siti Saidah, Soesilo ini mengaku sebagai adik kesayangan Pram. Diantara semua adik Pram, hanya Soesilo lah yang mampu mengenyam pendidikan hingga doktoral.
Pria berusia 78 tahun ini menyelesaikan pendidikan masternya di Patrice Lumumba University Moskow, Rusia kemudian berlanjut hingga jenjang doktoral di Plekhanov University dalam bidang ilmu ekonomi. Melalui disertasi yang mengemukakan ”teori jalan ketiga”, Soesilo berhasil mendapatkan anugerah gelar doktor yang digunakan sebagai bekal menjadi dosen di Indonesia.
”Saat itu saya menulis tentang "Republik Jalan Ketiga" yang menggunakan jalan kearifan lokal. Teori itu merupakan sintesa teorinya Marx dan Lenin. Tapi saya malah dituduh menjiplak karya Antony Gidden yang saya sendiri tidak pernah membacanya,” terangnya kepada Malang Post.
Selepas kepulangannya dari Rusia, Soesilo diminta menjadi dosen di salah satu Universitas di Jakarta salah satunya adalah Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag). Ia menularkan keilmuannya dalam bidang ekonomi dan pernah melakukan penelitian di Pulau Seribu bersama mahasiswa-mahasiswanya.
Namun suatu ketika, saat ia ingin melakukan legalisasi ijazah doktornya di Kementerian Pendidikan ia lagi-lagi mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan. Saat itu ia bingung dan diminta untuk menyertakan legal document.“Saya tanya ke petugasnya, legal document itu maksudnya apa? Saya ditertawakan karena Doktor tapi kok tidak tahu legal document. Belakangan saya tahu kalau itu maksudnya duit,” paparnya.
Karena itu, akhirnya Soesilo mundur dan memilih untuk mengurungkan niatannya untuk melegalisasi ijazahnya.Ia kemudian pindah lagi ke Blora karena sempat diusir oleh lurah ditempatnya tinggal di Bekasi. Saat itu, Soesilo menggunakan tanah kosong disekitaran rumahnya untuk usaha. Ia juga telah izin kepada sang Lurah dengan dibubuhi materai.
Namun karena bangkrut, sang Lurah akhirnya mencoba merebut tanah itu untuk ia gunakan. ”Saat itu saya geger dan Lurah itu memanggil warga dengan mengatakan bahwa saya PKI. Saya hampir saja di pukuli. Saya lawan, pukul saja kalau berani. Akhirnya karena istri mendesak, kami pindah ke Blora menempati rumah keluarga,” urainya.
Meski bergelar doktor, hidup Soesilo sangatlah sederhana. Dalam kesehariannya, Soesilo menghabiskan waktu untuk menjaga perpustakaan sembari menulis.”Saya menulis sejak berumur 14 tahun. Biasanya tulisan saya kirim ke media cetak dan mendapatkan uang,” ujarnya.
Banyak karyanya yang juga ditata rapi di rak buku perpustakaan Pataba. Seperti buku terbarunya, ”Komponis Kecil”, ”Pram Dari Dalam”, dan ”Pram dalam Kelambu”.Disamping menulis, Soesilo juga melanggengkan kegemarannya memulung. Hampir setiap hari, saat kebanyakan orang terlelap dalam mimpi, ia memlih menyusuri jalanan dan sungai Lusi.
Disana ia banyak menemukan barang-barang buangan yang dapat ia manfaatkan seperti palu, tang dan lain sebagainya. ”Dari situ saya menemukan bahwa manusia itu sangat teledor. Saya menemukan apa saja dari memulung itu. Termasuk dompet yang berisi uang,” ceritanya.
Soesilo mengatakan, kegemarannya memulung itu memang tumbuh sejak kecil. Awalnya memang karena desakan ekonomi dimana keluarga tak mampu memenuhi kebutuhannya.”Akhirnya saya memutuskan untuk memulung. Lha mau dimana, Pram itu cuma memberikan sangu (uang saku, Red) Rp. 10 rupiah. Itu untu, buat beli buku, jajan, tas dan lain-lain. Ya mana cukup. Akhirnya saya nyari uang sendiri dengan memulung,” paparnya.
Sejak itu, Soesilo terus saja menjalani kegemaran uniknya itu hingga diusianya sekarang ini.

”Saya melakukan segala sesuatu yang membuat saya senang. Termasuk menulis dan memulung,” tegasnya. (nunung nasikhah/habis)