Hermawan, Pemilik Empat Gerai Swa Chicken

Di tengah perkembangan gerai cepat saji yang dimiliki oleh pebisnis asing di Malang, ada gerai lokal yang turut menggeliat dengan bisnis serupa. Swa Chicken yang dimiliki oleh Hermawan.  Bisnis kuliner ini telah berkembang di empat lokasi yang tersebar di Malang dan Kabupaten Malang. Hermawan sukses pasca meninggalkan jabatan sebagai manajer gerai McD, demi memulai bisnisnya.

Tak ada yang mengetahui garis hidup seseorang. Begitu pula yang terjadi pada diri Hermawan. Bercita-cita menjadi tenaga ahli di bidang elektronika ketika masih remaja, Hermawan justru kuliah di bidang pertanian. Begitu lulus dari perguruan tinggi, kenyataan berlawanan kembali dihadapinya. Potongan ayam justru menjadi sajian sehari-hari dalam pekerjaan.
“Ya, lulus dari kuliah, justru bekerja di Mc Donald. Jauh dari cita-cita masa kecil saya,” ujarnya, mengawali cerita.
Kiprahnya di gerai cepat saji asal Amerika ini pun tidak serta merta menjadi orang penting yang kesehariannya mesti memakai kemeja dan berdasi. Pria yang akrab disapa Wawan ini harus dimulai dari bawah. Mencuci piring dan mengolah potongan ayam, pernah dia rasakan. Sebelum akhirnya, mendapatkan kepercayaan sesuai dengan lamaran yang dia ajukan.
Selama sembilan tahun, Wawan bekerja di McD. Dari sana, dia mendapatkan banyak hal, termasuk teknik memasak fried chicken yang tepat dan lezat. Alhasil, ketika dia sudah menjadi atasan di sebuah gerai, tidak bisa lagi dibohongi oleh anak buahnya. “Misalnya ada ayam yang kurang beres atau tidak sesuai standar, pasti langsung tahu. Saya kan paham juga resep dan hasilnya,” beber dia kepada Malang Post.
Menurut dia, setelah sembilan tahun menjadi karyawan, perjalanan hidup seakaan dimulai. Lelah dengan target dan perhitungan keuntungan milik orang lain, dia pun tertarik untuk berbisnis sendiri. Namun, ketika memutuskan keluar masih belum yakin bila ingin berbisnis yang berhubungan dengan ayam.
Setelah beberapa saat, Wawan berkonsultasi dengan teman serta alumnus Mc D pula, dia pun memutuskan membuka Swa Chicken pertamanya, sekitar empat tahun lalu. Tidak jauh dari rumahnya, Swa Chicken edisi pertama, tidaklah seperti sekarang yang memiliki lokasi bisnis yang terhitung luas dan mampu menampung 30-40 customer.
“Saya tertarik dengan teman-teman yang sukses dengan bisnis kuliner. Kebetulan saya paham soal fried chicken, ya diputuskan kembali bergelut dengan paha dan dada ayam,” terang dia, lantas tertawa.
Modal sekitar Rp 15 juta dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha itu. Nominal itu, hanya untuk membeli peralatan dan bahan baku. Sementara, untuk lokasi tidak masuk dalam hitungan, sebab rumahnya yang dia sulap menjadi tempat bisnis. Bersama sang istri, modal tersebut sudah mencapai break event point (BEP) dalam tempo tiga bulan saja.
Sembari terus mengerjakan satu gerai Swa Chicken yang berlokasi di kawasan Arjowinangun, dia mulai melirik lokasi yang lebih di pusat kota. Kali ini, kawasan Mergosono yang dia bidik. Setelah gerai kedua mampu menghasilkan keuntungan, gerai ketiga pun telah siap berdiri. Kini, wilayah kabupaten yang menjadi bidikan. Konon, dia membidik masyarakat yang berlalu lalang mau menuju kota. Gerai ketiga, berada di Pakisaji. Berlanjut hingga gerai ke empat, yang baru dibuka awal tahun ini di Bululawang.
Fried Chicken yang dia jual, memiliki mutu yang bagus, sekalipun dijual dengan harga yang jauh lebih murah dari gerai seperti KFC atau McD. Mampu bersaing pula dengan restoran cepat saji milik lokal. “Saya harus memiliki produk yang enak, meskipun berharga lebih murah. Setelah perhitungan tepat, harga di bawah Rp 10 ribu per potong ternyata masih bisa. Itulah yang membuat Swa Chicken diminati,” papar alumnus Universitas Brawijaya ini.
Terkait bisnis tersebut, diakuinya memiliki omset berbeda di setiap lokasi. Dalam sehari, dari berjualan fried chicken yang dipadukan dengan  burger dan kebab, omset yang dibukukan mencapai Rp 7 juta lebih. Menurutnya, dalam sehari ada lebih dari 500 orang masuk di empat gerainya. Paling banyak memang yang berada di tengah kota, Swa Chicken Mergosono. Dalam sebulan, perputaran uang di atas Rp 250 juta. Sementara keuntungan, diakui dia lipat kali tiga dari gajinya selama sebulan, dulu.
Dari bisnis tersebut, ada kesenangan tersendiri pula baginya. Sebab, Wawan bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sedikitnya, ada 17 karyawan yang kini menjadi anak buahnya dan mesti digaji per bulan. Tidak sedikit pula, dia telah ‘meluluskan’ karyawan yang ingin menggapai sukses sendiri. “Mereka yang ingin keluar dan memulai bisnis baru, itu tantangan yang tidak bisa dihindari. Tetapi asik juga sebagai pewarna hidup,” tambah bapak tiga anak itu.
Suami dari Sonya ini pun menargetkan, bila di tahun ini ada dua gerai baru yang akan dibuka. Menurutnya, masih menentukan lokasi yang tepat, sekalipun tidak berada di tengah kota. Pertimbangannya, di tengah kota membutuhkan budget lebih tinggi dan persaingan jauh lebih berat pula.
“Tahun ini harus tambah lagi. Tahun depan juga. Saya tidak ingin membayangkan justru jumlah gerai berkurang, makanya setiap tahun harus menargetkan bertambah,” yakin dia.(stenly rehardson/ary)