Siap Pentas Tiga Negara, Diawali Manggung Keliling Pulau Jawa

Azis Suprianto (bertopi) berlatih peran dengan seorang rekannya. Latihan ini untuk persiapan pementasan di tiga negara yaitu Jerman, Belanda dan Perancis

Lebih Dekat Dengan Azis Suprianto, Aktor Teater Asal Malang
Kecintaannya terhadap seni peran membawa Azis Supriyanto bisa keliling Indonesia. Bahkan, sebentar lagi, seniman ini bakal keliling Eropa. Bersama kelompok Teater Keliling, pria asal Kota Malang ini akan pentas di tiga negara, yaitu Jerman, Belanda dan Perancis pada awal Oktober – 15 November 2015 mendatang.

Seorang pria kurus menggunakan jaket kulit dengan celana jeans warna hitam kemarin tampak duduk di salah satu sudut ruangan kantor Dewan Kesenian Malang (DKM). Menggunakan topi ala pelukis almarhum Tino Sidin, pria tersebut tersenyum ke arah Malang Post.
Azis mengaku mencintai seni peran sejak ia duduk di bangku sekolah. Berkembang hingga kelas 3 SPG Jurusan IPS Kesenian, ketika sekolah mewajibkan siswa membuat karya. Yaitu karya musik, karya  drama, dan karya tari.
Azis mengerjakan satu persatu karya yang menjadi syarat kelulusan tersebut. Dimulai dari karya musik dengan menciptakan lagu. Serta mengarasemen sendiri lagu ciptaannya.
Lantas membuat naskah drama. Azis tidak sekadar membuat dialog sederhana. Tapi ia mampu menciptakan membuat dialog absurd. Memadukan unsur simbolik di dalamnya. Alhasil, karya seni yang baru diciptakannya itupun mendapat apresiasi para guru. Itu sekitar tahun 1980-an.
“Tahun itu teater sudah ada. Tapi untuk bermain saya tidak pernah. Dari naskah yang saya kerjakan sendiri itulah kali pertama main teater,’’ katanya.
Bak menemukan dunianya, Azis yang dibantu beberapa temannya memainkan peran dengan karakter yang diciptakannya sendiri. Adegan yang diciptakan mampu menghanyutkan perasaan siapapun yang melihatnya. Tak jarang penonton menangis dengan lakon yang diperankannya, tapi tidak jarang pula aksi panggungnya mengundang gelak tawa.
Dari aksi panggung pertamanya itulah, jalan menuju sebagai aktor dalam seni teater terbuka bagi Azis. Terbukti, dia pun langsung diterima saat bergabung dalam komunitas Teater Pandansari, Madiun.
“Di Teater Pandansari, saya terus belajar, mengasah bakat dan kemampuan,’’ akunya. Ia terus mengasah kemampuannya, bahkan juga kursus pendidikan seni drama dan film Perintis di Surabaya.
Tahun 1990, Azis yang sudah berulang kali manggung tiba-tiba mendapatkan tawaran masuk Teater Keliling, Jakarta. Saat itu Azis tidak langsung mengiyakan. Itu karena dia berpikir, saat bergabung ia hanya mendapatkan kesenangan saja. Sedangkan kesejahteraannya akan terabaikan.
Tapi begitulah, pemikiran realistis itu terpatahkan dengan keinginan serta dukungan dari rekan-rekannya. Terbukti, selah beberapa saat setelah tawaran tersebut, bersama empat temannya yaitu Dodok, Alm Yuwono, Alm Mulyadi Harsono dan Alm Endik Sarkara, Azis pun mulai bergabung.
Entah itu adalah berkah, yang pasti begitu bergabung Azis langsung diajak keliling ke seluruh nusantara. Dimulai dari Malang, Jember, Banyuwangi, Bali, Papua Kalimantan, Sumatera, Jakarta dan Jogyakarta.
Rasa lelah dalam perjalanan tur Indonesia, Azis menemukan banyak kesenangan. Bermain lebih dari 1.000 pentas, dengan sedikitnya 15 judul naskah, membuat Azis merasa puas. Apalagi dari naskah yang dimainkan, banyak karya penulis terkenal, diantarannya Arifin C Noer, Iwan Simatupang, dan D Jah Kusuma.
Rasa lelah, dan gaji yang tidak seberapa kala itu terkalahkan dengan dinamika kehidupan, sebuah permainan peran di panggung. Seakan khilaf dengan obsesi hidup, Azis muda memilih mengabdi dalam dunia teater.
“Gaji pertama saya Rp 40 ribu. Sedikit memang, tapi kepuasan yang saya dapatkan tidak  bisa dibandingkan dengan apapun,’’ ungkap pria yang pernah kuliah di STKIP Yuwana Madiun.
Azis kian bangga, karena setelah berhasil melakukan tur nusantara ia diajak bermain di luar negeri. Ada empat negara yang diingatnya. Yaitu Malaysia, Korea, Thailand dan Mesir. Di Mesir, Azis dan grup Teater Kelilingnya mentas di sebuag gedung teater yang usianya 100 tahun. Gedung yang memiliki nilai sejarah itu ditaklukkan Azis dkk dengan riuh gema tepuk tangan para penonton.
“Salah satu kebanggaan saya adalah bisa bermain di gedung kesenian itu. Luar biasa,’’ uangkapnya sembari tersenyum.
Beberapa kali saat bercerita, Azis mengubah gaya duduknya. Dia sangat bersemangat kemarin. Selain keliling yang membuat ia berkesan adalah rekan kerjanya. Di Teater Keliling, pemain teater memiliki profesi all around. Artinya, setiap orang memiliki profesi berbagai macam. Seperti dirinya, ia sebagai pemain, penata kostum, artistik, penata musik dan lain-lainnya. Dalam menghafalkan naskah, Azis tidak butuh waktu lama. Karena dialog naskah itu juga diucapkan saat perjalanan tur dengan teman-temannya.
Yang membuat Azis kian cinta dengan teater adalah dalam cerita yang dibawakan selalu ada pesan yang disampaikan. Tidak menutup kemungkinan, bahwa cerita yang dibawakan berisi sindiran-sindiran. Tapi banyak pula cerita komedi yang dibawakan. “Ada dialog naskah yang hingga saat ini berkesan bagi saya. Yaitu dari naskah berjudul Mega. Dalam dialog tersebut ada sebuah pertanyaan Kenapa Kamu Tidak Menjadi Penyanyi, yang kemudian dijawab Segala Bisa ada Mau, apalagi cuma Jadi Penyanyi,’’ katanya. Dialog tersebut mengisyaratkan, bahwa semua bisa dikerjakan asal ada kemauan.
Kendati berada di Malang, Azis tidak susah dalam mendapatkan seni peran. Komunikasi melalui email, dan media sosial dilakukan dengan anggota Teater Keliling yang berbasis di Jakarta. Bahkan, naskah untuk penampilan di tiga negara juga sudah diterimanya.
“Karena kami kumpul sudah lama, chemistry-nya (baca:kemistri) sudah ada, ya kami tidak kesulitan,’’ tandasnya. Ia dan grup teater kelilingnya akan mulai melakukan latihan pertengahan Agustus mendatang. Bukan hanya bertemu, tapi langsung mentas keliling Jawa.(ira ravika/ary)