Malang Raya Paling Rentan Termakan Isu (1)

Dalam rangka 17 tahun Malang Post, mari sedikit kilas balik ke masa 1998, masa awal koran ini berdiri. Di tahun 1998 itu, koran ini benar-benar leading di pemberitaan kriminal, menggambarkan karakteristik warganya yang gampang termakan isu. Charles A. Coppel peneliti Australia, tahun 2006 bahkan memakai Malang Post sebagai obyek penelitian isu ninja hingga dukun santet. Tulisan ini dipersembahkan Samsuliyono, Redaktur Malang Post.

Oktober 1998. Malam itu sekitar pukul 20.30, ruang redaksi Malang Post  yang nebeng di paviliun Jawa Pos Perwakilan Malang, sudah penuh personil  sirkulasi pimpinan almarhum Patmono yang sibuk menerima order koran dari agen maupun loper untuk terbitan esok hari. Sementara redaksi selain berkutat menulis berita terkini maupun  pengembangan sambil antre komputer bermodal  disket dan dos untuk membuka program WS 7.
Di  ruangan mungil yang tak layak disebut kantor itu, memang sarana dan prasarana serba terbatas bahkan semuanya pinjaman. Maklum, harian pagi anak sulung Jawa Pos di awal reformasi itu usianya belum genap tiga bulan yang didirikan dengan modal semangat plus nekat. Saya sendiri  tak kalah tegangnya lantaran diburu deadline, walaupun  yang sedang saya ketik hanyalah peristiwa biasa namun bisa jadi luarbiasa.
Judul yang saya buat  Lindungi Kiai, Santri Tewas Termakan Perangkap. Lima menit lagi berita dari wilayah Singosari itu, harus di tangan Sugeng Irawan redaktur Hankam yang sudah melotot minta secepatnya dikirim. Saya makin tegang apalagi terus-terusan  diganggu Patmono sang ‘Komandan Sruntul’.’’ Sip Om.. beritane, besok Sruntul biar jualan ke Singosari,’’ucap Patmono penuh semangat.
Tiga menit kemudian, telepon kantor berdering dan Bambang TL pemasak foto memanggil  saya  untuk menerima. Saya makin keruh, karena walaupun sekadar telepon, tetap mengganggu pada jam-jam rawan tersebut.’’ Assalammualaikum Mas,’’ucap suara seorang perwira polisi yang sudah saya kenal.’’ Mohon dengan sangat dan tolonglah saya, berita yang tadi jangan sampai dimuat,’’rengek perwira polisi itu di sambungan telepon.
Saya pun kebingungan  lantaran sulit mengabulkan, namun Cak Nun ( Husnun ) Pimpred dan  para redaktur lainnya tetap bijak sehingga  mengamini setelah saya jelaskan persoalannya. Peristiwa yang sedang saya tulis saat itu memang sepele, yakni seorang santri di sebuah Ponpes di Singosari, tewas dan tubuhnya terjatuh dari lantai dua akibat tersengat listrik.
Peristiwa itu menjadi sangat menarik, lantaran para santri  sengaja memagari gedung Ponpes dengan aliran listrik dengan maksud melindungi Pak Kiai oleh serbuan Ninja yang diisukan bisa menghilang sekaligus membidik tokoh-tokoh agama untuk dijadikan mangsa. Ditambah lagi dalam sepekan itu, Malang Raya sedang heboh oleh  ulah Ninja tersebut.
Saya pun pulang ke Batu tidak tertarik untuk melanjutkan kasus  santri tersengat listrik, dan nyampek rumah sekitar pukul 22.30. Belum sempat ganti baju, pesawat pager berbunyi ngik..ngik.. dan setelah saya baca pesan itu dari warga Sumberpucung memberi info di Desa Jatiguwi ada Ninja tertangkap massa dan kepalanya dipenggal di pinggiran jalan.
Rentang 10 menit saya pun ngebut lengkap dengan kamera Pentak meluncur ke lokasi kejadian, dan sampai  di TKP massa masih berkerumun berhadap-hadapan dengan petugas Dalmas. Lettu (sekarang disebut Iptu, Red) Suroto Kasat Reskrim Polres Malang, berteriak menghalau massa yang beringas. Kamera saya pun action, dan warga bersorak bersemangat begitu melihat ada kilatan lampu blitz wartawan.
Namun hardikan Suroto yang asli orang Madura , jauh sakti dari kilatan lampu kamera sehingga massa berangsur balik kanan meninggalkan  sosok mayat pria tergolek di pinggiran jalan dengan tubuh berlumur darah. Mayat yang ditutup kertas koran itupun saya foto. Sekitar pukul 02.15, saya gabung ke ruang Reserse Polres untuk tidur, lumayan sudah ada berita peristiwa untuk terbitan besok.
Esok harinya, pager kembali menyalak memberi info bahwa di Jalan Raya Langsep Kota Malang, massa massa sedang memburu bayangan Ninja.’’ Itu..bayangannya masuk pohon palem,’’teriak salah seorang ketika saya sudah sampai di lokasi. Arus lalu lintas macet total, Wakapolresta Malang Mayor (Kompol) Luky Hermawan langsung memerintahkan memotong pohon palem yang berdiri tegak di pinggiran Jalan Raya Langsep.
Saat itu siapapun terpengaruh dengan omelan Ninja bisa masuk pohon, karena diisukan bisa menghilang dan berubah wujud. Gergaji senso pun dengan cepat beroperasi memotong pohon itu menjadi beberapa bagian, namun Ninja yang dicari pun tak terpotong.’’ Ninja beralih masuk pohon Cary,’’teriak salah seorang warga yang berkerumun. Mendengar itu, perintah Luky Hermawan berbalik arah.’’ Tangkap yang ngomong !!,’’teriak Luky, massa pun semburat berlarian takut diringkus polisi.   

SINDIRAN
Kasus Ninja, Oktober 1998 saat itu benar-benar mampu menjadi konsumsi publik Malang Raya. Tak hanya masyarakat awan, orang-orang berilmu dan alim pun termasuk saya termakan oleh isu yang dirangkai secara sistematik dan dahsyat ini. Di mana-mana ada orang yang tak dikenal  dicurigai sebagai Ninja, lalu dibunuh berjamaah. Setidaknya di wilayah Kabupaten Malang ada lima orang termasuk di Desa Gondanglegi Kulon, dan seorang lagi di Kebalen Wetan, Kedungkandang Kota Malang. Faktanya, korban-korban pembunuhan secara sadis itu hanyalah orang-orang gila dari daerah lain lalu sengaja  didrop ke wilayah tertentu.
Ada ungkapan Kapolres Malang Letkol H Suhartono, yang sampai sekarang membekas di kalbu saya. Saat itu, wilayah Kabupaten Malang benar-benar kacau oleh isu Ninja. Bahkan, sejumlah ulama dan kiai pun tak sedikit merasa  resah oleh isu dijadikan sasaran Ninja.
‘’Apakah Pak Kapolres berani menjamin keselamatan kami dari aksi Ninja  ?,’’tanya seorang ustad ketika bersama-sama sejumlah kiai berdialog dengan kapolres di Ruang Rupatama Polres Malang. Pertanyaan itu juga mendapat dukungan dari yang hadir lainnya.’’ Yang terhormat para alim ulama, mohon jangan merasa ketakutan melebihi rasa takut kita kepada Alloh SWT,’’jawab Kapolres Suhartono, dan yang hadir di ruangan itupun terdiam seribu bahasa.
Rentang lima menit, dari ruangan pertemuan itu terdengar suara yel-yel massa disusul suara berondongan peluru karet.’’ Bapak-Bapak, mari kita lihat bersama apa yang terjadi di luar,’’ajak Kapolres kepada peserta pertemuan.
Para tokoh masyarakat, tokoh agama siang itu bisa menyaksikan langsung pasukan Dalmas sedang menghadang ratusan orang yang konvoi mengarak penggalan kepala yang ditancapkan pada potongan kayu berujung mirip mata tombak. Mereka berniat memasuki pintu gerbang Mapolres, namun dihadang polisi.
Kepala tersebut baru dipenggal dari tubuhnya di Desa Druju, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Waktu itu ada dua orang tak dikenal yang dicurigai massa sebagai Ninja. Kemudian, satu orang langsung dibunuh dan seorang lagi diselamatkan polisi menggunakan truk. Namun di tengah perjalanan massa menghadang truk tersebut, lalu menurunkan korban untuk dibunuh dan dipenggal kepalanya. Setelah itu, dari Turen kepala berlumuran darah itu diarak menuju Wajak, Bululawang, Pakisaji hingga Mapolres. (samsuliyono/bersambung)