Malang Raya Paling Rentan Termakan Isu (2/habis)

Pada 2 Februari 2000, Samsuliyono saat masih wartawan desk kriminal di Kabupaten Malang, Red) diwawancarai oleh Nicholas Herriman peneliti dari Australia. Hasil penelitian kemudian termuat dalam buku “Violent conflicts in Indonesia; Analysis, representation, resolution” yang diedit Charles A. Choppel. Tulisan berikut adalah kilas balik isu ninja dan dukun santet dari redaktur berinisial jurnalistik Lyo itu.


Dalam kurun tahun 1998-2000, darah terus menggenang di Kabupaten Malang. Massa masih liar tak peduli ada jeritan pilu. Sudut-sudut  kampung berubah menakutkan, seiring adanya pembantaian korban isu dukun santet menyusul  korban isu Ninja pada Oktober 1998. Sejauh itu, arsitek penebar isu pun tak pernah diungkap. Berganti tahun, sasaran beralih pada penjarahan hutan jati, perkebunan cokelat, pembakaran pabrik yang endingnya penguasaan tanah.
 Desember 1999, kondisi fisik aparat Polres Malang plus Brimob bisa diibaratkan telah kehabisan tenaga. Betapa tidak, dalam rentang kurang dua pekan telah terjadi pembantaian terhadap orang-orang yang diisukan sebagai dukun santet. Peristiwa itu berlangsung di wilayah kecamatan berbeda, dengan kondisi medan cukup sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat.
Tak beda dengan polisi, kondisi fisik saya pun sama bahkan teman-teman meledek saya mengalami lesu darah. Lantaran siang dan malam harus memacu motor Yamaha Force -1 mendatangi semua tempat kejadian perkara (TKP) di kawasan Malang Selatan. Pembunuhan berkedok isu dukun santet di Desa Sumberkerto Kecamatan Pagak, Kamis (23/12) 1999 menjadi pamungkas tewasnya 8 orang dan dua orang luka-luka korban isu dukun santet pada penghujung tahun itu.
Peristiwa Sumberkerto, Pagak, menyusul pembantaian sama di Desa Pitrang Kecamatan Kalipare, dan di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Beruntung polisi bergerak cepat sehingga tokoh-tokoh pelaku utama di Kalipare tertangkap salah satunya adalah berinisial  M pemuda asli Desa Pitrang, yang sudah lama menjadi preman di Jakarta. Dialah yang menjadi ujung tombak menggerakkan massa hingga tersulut membantai tiga orang korban isu dukun santet.
Secara sembunyi sembunyi, saya berhasil mewawancarai M ketika ditahan di Mapolres. Dari keterangannya, massa mendapatkan daftar siapa saja yang dicurigai sebagai dukun santet dari bocoran seorang petugas keamanan. Hasil wawancara  saya dalami, dan dua hari berikutnya saya tulis. Responnya gempar, saya dicari banyak orang  dan beruntung saya mendapat pengawasan dari Dandenpom Malang yang saat itu dijabat Letkol CPM Djayusman.
Di sisi lain, dari hasil pemeriksaan polisi disebutkan bahwa preman M yang saat itu kebetulan menjadi buron di Jakarta dan terpaksa mudik ke Pitrang, justru dibayar oleh pentolan preman lainnya di wilayah Si Pitung itu. Bahkan, Kapolda Jatim yang saat itu dijabat Mayjen Pol  Drs M Dayat, SH, MBA, MM, bahwa pelaku pembantaian di Kalipare dibayar Rp3 juta.
 
MEMBUJUK PERWIRA JAGA
Peristiwa di Malang Selatan itu, diawali pembantaian  di Dusun Sumberasih Desa Harjokuncaran Kecamatan  Sumbermanjing Wetan pada 9 Desember 1999 dengan korban keluarga Martawi. Yakni  Martawi sendiri, mbok Bugimah dan Buchori. Polisi sempat menangkap tiga tersangka, dan massa  menyerbu Mapolsek Sumbermanjing Wetan (10/12/1999) untuk membebaskan tersangka yang sudah lebih dulu ditahan di Mapolres.
Kemudian disusul satu korban lagi, yakni mbok Arni di Kecamatan Ampelgading, yang tewas dibakar massa. Kejadian itupun merebak  ke tiga desa di Kalipare secara serentak. Yakni, pada 15 Desember.
Dari semua TKP itu, paling mengesankan adalah liputan di Kalipare. Informasi adanya kejadian saya terima sekitar pukul 23.30. Lantaran menjelang larut, saya pun harus gambling untuk berangkat ke TKP dengan menghitung kancing baju, berangkat-tidak..berangkat-tidak akhirnya hitungan kancing baju terakhir berpihak pada berangkat.
Tengah malam pun saya berangkat dari Batu, dan selama perjalanan rasa bimbang pun muncul karena begitu nanti  keluar dari Kepanjen, kondisi jalan pasti sangat senyap apalagi selepas melintasi Bendungan Karangkates, harus menerobos hutan jati, serem dech. Tak kurang akal, saya pun mampir ke Mapolres Malang di Kepanjen melakukan pendekatan dengan perwira jaga.
‘’ Bang, kalau saya berangkat ke TKP sendirian pasti akan ada korban baru, yakni saya, entah itu dihadang begal (rampok) ataupun tindak kriminalitas lainnya,’’rajuk saya kepada seorang perwira polisi letnan dua (Ipda) yang asli Sumenep ini.
’’Mau  sampeyan?,’’ tanyanya termakan rajukan.’’ Ya tolong bisa diantar anggota dong,’’ timpal saya.
‘’Anggota piket sudah habis berada di TKP semua, tinggal yang jaga mako dan polisi tahanan provos,’’bisiknya. ‘’Mantap, ‘ngebon’ yang di dalam dong (tahanan provos),’’bujuk saya agak memaksa.
Cukup lama untuk mendapat persetujuan itu, namun melihat keseharian saya berada di Mapolres, perwira tersebut akhirnya percaya. ’’Ada syaratnya, sebelum jam enam pagi anggota ini harus sudah berada di tahanan provos,’’ujarnya dengan agak ragu.
’’Siapp..’’jawab saya cepat agar persetujuan itu tak berubah.
Menariknya, polisi berpangkat pembantu letnan satu (Peltu) yang ditugasi mengawal saya itu malah girang bukan main. Bahkan, dialah yang menawari mengendalikan motor saya. Apes, begitu saya tuntas mengikuti polisi olah TKP, wawancara saksi-saksi maupun keluarga korban, Wakapolres Mayor (Kompol) Joko Irtarto bergabung dengan saya untuk ngobrol sambil menunggu waktu subuh.
Saya menjadi salah tingkah lantaran di samping saya ada tahanan provos.  Namun sang Peltu itu buru-buru menutup kepalanya dengan kain sarung berpura-pura kedinginan. ’’Gawat, ada Wakapolres. Kamu temui Beliau, aku tak ngilang,’’bisiknya sambil berlahan-lahan berlalu.
Apesnya lagi, sang Peltu justru meninggalkan saya balik ke Mapolres dengan motor saya. Saya sendiri kelimpungan karena tertahan di Kalipare hingga siang hari lantaran teman-teman reserse yang akan saya tumpangi harus TKP ulang plus menunggu evakuasi yang lokasinya sangat sulit.(samsuliyono/habis)