Meratakan Distribusi Pendidikan di 54 Wilayah di Indonesia

Teachers Quality Improvement Program (TEQIP) yang merupakan unggulan Universitas Negeri Malang (UM), memunculkan nama Dr. Isnandar M.T. Ia adalah inisiator pertama yang menghubungkan UM dengan sang donatur, PT Pertamina Persero. Program yang berhasil mendapatkan Millennium Development Goals (MDGs) Award 2014 ini telah sukses menyisihkan 443 program lain se-Indonesia.

Bisa jadi, program TEQIP memiliki popularitas tinggi atas penghargaan yang diberikan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (United Nations) 2014 lalu. TEQIP dianggap sebagai implementasi pas ala Millennium Development Goals (MDGs), delapan rangkaian tujuan mulia yang menjadi kesepakatan internasional sejumlah 192 negara di dunia tersebut.
Sejak kali pertama beroperasi tahun 2010, TEQIP ini telah dijalankan di 20 provinsi yang meliputi 54 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Program dijalankan dari wilayah Sabang sampai Merauke dan merengkuh wilayah terpencil di pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua.
Seluruh proyek mendapatkan sokongan dana langsung dari Pertamina. Untuk tahun pertama Pertamina menggelontorkan dana sejumlah Rp 14,5 Milyar, tahun kedua sebanyak Rp 6 Milyar, tahun ketiga sebanyak Rp 16,5 Milyar, tahun keempat mendapatkan dana hingga Rp 29,5 Milyar dan tahun kelima menurun drastis hingga mencapai Rp 5,5 Milyar saja.
Pria asal Tulungagung ini menyatakan, TEQIP telah memberdayakan ribuan guru di beberapa wilayah terpencil dengan kualitas pendidikan di bawah standar. Setiap guru dilatih mendidik yang baik dan dibiasakan membuat karya tulis ilmiah yang berguna untuk kenaikan pangkat.
”Setiap guru yang telah dibimbing harus bisa membimbing guru lainnya lagi sejumlah yang telah ditentukan. Jadi bentuknya seperti Multi Level Marketing,” jelas pria yang juga menjadi Dosen di Fakultas Teknik UM tersebut.
Kendati seluruh rancangan program dibuat secara tim, namun Isnandar adalah sang inisiator program yang bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Kepada Malang Post, Isnandar bercerita, awalnya ia bertemu dengan pihak Pertamina karena mewakili Rektor yang berhalangan hadir pada acara peresmian Gedung Pertamina Universitas Brawijaya.
Saat itu, Isnandar tengah menjabat sebagai Wakil Rektor IV di UM dan diminta untuk melobi hibah untuk pembuatan kolam renang dari Pertamina.
”Dari pertama kali pihak pertamina itu datang, saya membuntuti terus di belakang. Akhirnya pada saat makan-makan saya memperkenalkan diri. Karena tahu saya dari IKIP (UM dulu IKIP, Red) pak Frederick yang menjabat sebagai Direktur Keuangan Pertamina meminta bantuan untuk membuatkan program pengembangan 1000 guru,” urai Isnandar.
Saat itu Pertamina tampak sangat tertarik dengan program yang dikembangkan oleh UM. Bahkan awalnya Pertamina memberikan dana sekitar Rp  16,5 Milyar untuk pelaksanaan perdana. Namun,  setelah dihitung-hitung kembali, program awal itu hanya membutuhkan Rp  14,5 Milyar saja.
"Saat saya diminta presentasi di Jakarta oleh Pertamina, saya presentasi dua proyek yang pertama soal kolam yang kedua soal TEQIP itu. Nah kebetulan yang disetujui program TEQIP nya. Rektor saat itu malah nggak tahu soal TEQIP itu," ceritanya.
Setelah disetujui,TEQIP mulai dioperasikan tahun 2010 di lima provinsi, 15 kabupaten. Dilanjut pada tahun 2011 di dua provinsi, empat kabupaten. Tahun 2012 di tiga provinsi, enam kabupaten, tahun 2013 di 12 provinsi 22 kabupaten. Sedangkan tahun 2014 Isnandar dan tim menginisiasi adanya seminar nasional dan penerbitan jurnal yang dibuat oleh guru-guru yang telah dibimbing.
"Selama ini banyak guru yang kesulitan menulis karya ilmiah karena tidak terbiasa. Maka dari itu kami ajarkan mereka menulis dan harus dipresentasikan di aeminar nasional dan dipublikasikan dalam bentuk jurnal. Untik TEQIP tahun ini dilakukan di lima provinsi dan enam kabupaten," jelasnya.
Isnandar dan kawan-kawan sadar betul bahwa program TEQIP tidak akan langgeng. Untuk itu, ia bersama rekan lain membuat Asosiasi Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia (APPPI). Kendati APPPI baru setahun berdiri, namun asosiasi ini telah memiliki wilayah binaan di kawasan industri Morowali Sulawesi.
"Kalau dari APPPI ini programnya lebih bagus lagi. Yang dikembangkan tidak hanya guru, namun juga siswa dan manajemen pendidikannya," tegasnya.
Karena inisasinya itu, Isnandar mendapatkan kehormatan untuk menjadi koordinator TEQIP dan Ketua APPPI hingga saat ini. (nunung nasikhah/ary)