Ritual Suci Dahlan Iskan Sebelum Putusan Praperadilan (1)

Allah Maha Segalanya.  Itu telah dibuktikan Dahlan Iskan, tokoh sentral sekaligus panutan di lingkungan Jawa Pos Group. Ketika cobaan diberikan Allah, melalui kasus dugaan korupsi pembangunan Gardu Induk PLN, ketika itu juga Dahlan Iskan tetap yakin kalau Allah memiliki sifat Al Fattah (Maha Pemberi Keputusan).
Berikut ini catatan HARY SANTOSO, Wartawan MALANG POST ketika mengikuti ritual suci yang digelar secara khusus oleh Dahlan Iskan atau yang akrab dipanggil Abah di rumahnya di kawasan Surabaya Selatan, Minggu selepas maghrib.


Menjelang kumandang adzan Maghrib, sekitar pukul 17.15 WIB, Minggu (02/08) Abah tiba dari Juanda setelah terbang dari Jakarta. Begitu turun dari Vellfire warna putih yang dikendarainya, Abah menyempatkan diri menyalami undangan khusus yang sudah hadir dan menunggu di halaman depan rumah.
Tidak ada basa-basi apapun. Abah langsung masuk ke rumah dan tidak begitu lama keluar lagi dengan mengenakan sarung dan baju koko. ‘’Ayo. Ayo kita kumpul di dalam,’’ ajak Abah sembari menuju musala berukuran kira-kira 5x8 di bagian belakang rumah.
Tidak berapa lama, para undangan khusus yang jumlahnya hanya 19 orang sudah memenuhi musala, yang desain bawahnya berupa kolam koi. ‘’Saya tidak tahu acaranya apa. Dia yang punya ide acara ini,’’ papar Abah dengan menunjuk Makmur Kasim, CEO Riau Pos.
Begitu mendengar sayup-sayup adzan Maghrib dari masjid di sekitar rumah Abah, seluruh undangan pun langsung Salat Maghrib berjamaah. ‘’Ayo, Anda imam sholat maghrib. Setelah itu saya yang mimpin,’’ pinta Abah kepada Ali Salim, salah satu sahabat lamanya di Surabaya.
Usai maghriban, Abah langsung mengambil posisi duduk di sajadah imaman. Dengan mimik serius, tenang tetapi teduh, Abah pun menceritakan latar belakang kenapa harus berkumpul di musala yang indah dan sejuk di bagian belakang rumahnya.
Cerita Abah, dahulu di rumahnya di Desa Takeran, Magetan, menjelang Maghrib bapak dan ibunya sedang menunggu Maghrib di beranda rumahnya. Tiba-tiba datang sosok dengan mengenakan jubah serba hitam menghampiri kedua orang tuanya.
Dalam ‘pertemuan’ itu, sang sosok berjubah hitam mengisyaratkan, bahwa dirinya akan mendatangkan 1.000 musibah, 1.000 cobaan, 1.000 bencana untuk keluarga bapak saya, papar Abah sembari membetulkan letak duduknya.
Setelah memberi kabar buruk itu, sosok berjubah hitam langsung menghilang entah ke mana. Dan seketika itu juga kedua orang tua Abah saling bertanya-tanya, gerangan 1.000 musibah apa yang akan ditimpakan? Bencana apa yang akan diberikan untuk keluarga?
‘’Belum sampai pikiran dan pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba datang sosok lainnya. Kali ini, bapak dan ibu saya dihampiri sosok berjubah putih seperti layaknya seorang ulama,’’ kata Abah sembari mempraktikkan tanahnya sebagai tanda sosok serba putih itu mengenakan udeng putih di kepalanya.
Dalam pertemuan singkat itu, kedua orang tuanya diberi tahu kalau 1.000 musibah, 1.000 bencana dan 1.000 cobaan bisa dikalahkan dengan membaca 1.000 kali kalimat Basmalah yaitu Bismillahirahmanirahim.
‘’Kalimat Bismillah juga menjadi ucapan pertama Surat Fatihah dalam Alquran. Dan surat Fatihah adalah ummul qitab (induk kitab Alquran). Karena itu sungguh begitu agung arti dan manfaat bacaan Bismillah,’’ kata Abah.
Setelah diberi pencerahan latar belakang majelis taklim yang digagas Makmur Kasim, hati dan fikiran kami 19 orang yang di musala pun menjadi lebih sejuk dan hening. Lantas Abah pun minta semuanya,  menghadap ke arah kiblat untuk menjalani dzikir yang dipimpinnya sendiri.
Karena dzikir ini memakan waktu kurang lebih satu jam, Abah pun dengan santun dan bijaksana menawarkan kepada majelis. ‘’Karena ini memakan waktu, silakan bagi yang ada keperluan mendesak bisa melanjutkan kesibukannya,’’ pinta Abah. Di sini Abah menunjukkan betapa posisi dirinya sebagai sosok sentral (baca: bos) tidak memaksakan kehendak kepada kami-kami harus mengikuti atau menuruti keinginannya. Sebaliknya, Abah tetap bijaksana dan menghormati majelis dihadapannya.
Agar suasana lebih khusyuk dan keheningan merasuk di pikiran masing-masing, penerangan di musala pun dikurangi. Majelis pun terdiam menunggu Abah mengimami dzikir 1.000 Bismillah.
Sebelum masuk bacaan inti membaca Bismillah, Abah memulai dengan tawasul-tawasul  dengan diiringi bacaan surat Fatihah.  Setidaknya, yang saya ingat, ada empat kali tawasul. Tetapi, karena yang ditawasuli tidak diperdengarkan dengan keras, saya pun penasaran. Siapa saja aulia yang ditawasuli? Atau siapa yang wajib ditawasuli sebelum dzikir 1.000 Bismillah ini diamalkan.
Setelah itu dengan cetho, jelas dan cukup terdengar Abah menuntun majelis masuk bacaan inti. Memulai membaca Bismillahirahmanirrohim 1.000 x. Abah yang 17 Agustus nanti genap berusia 64 tahun, seolah tidak ingin berhenti lidahnya membaca Bismillahirahmanirrohim. Tidak itu saja, perhitungan saya ketika bacaan masuk angka ratusan (100, 200, 300, hingga 1.000) Abah selalu menandai dengan intonasi lebih keras dan jelas. Saya berpikir, betapa nafas dan stamina Abah masih cukup terjaga. Padahal, kesibukannya tidak kalah padat meski sudah tidak menjadi Meneg BUMN lagi.
Sekitar pukul 18.15 WIB, amalan 1.000 Bismillahirahmanirrohim selesai dirampungkan. Seketika langsung disambung dengan amalan membaca 1.000 kali bacaan Laa Ilaaha Illallaah. Dan lagi-lagi dengan khusyuk dan khusyuk, Abah mengamalkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah tanpa henti. Sesekali saja Abah mengambil nafas panjang.
Sama seperti sebelumnya, sebagai tanda jumlah amalan terbaca, dalam pikiran saya saat menginjak angka ratusan, intonasi Laa Ilaaha Illallaah yang dilafalkan Abah sedikit diperkeras. Dan itu menjadikan majelis semakin larut dalam kekhusyukan pula.
Begitu amalan membaca Laa Ilaaha Illallaah mencapai jumlah 1.000, Abahpun menghentikan dan minta Makmur Kasim, yang akrab disapa Gus Amik untuk membaca doa penutup. Gus Amik sendiri adalah cucu mursid Abah di Pondok Sabilil Mutaqien di Takeran, Magetan.
Lafazd doa yang dilantunkan Gus Amik pun saya coba titeni bunyinya. Meski tidak mengerti bahasa Arab, tetapi hati saya merasa yakin kalau doa yang dibacakan, kalau tidak salah sebagian ada di dalam doa Tahlil, memiliki makna dan tujuan tertentu. Artinya, doa itu tidak sekadar pengharapan kepada Allah semata. Tetapi, doa itu sepertinya doa pamungkas penutup amalan 1.000 Bismillahirahmanirahim dan 1.000 Laa Ilaaha Illallaah. ‘’Semoga semua yang kita amalkan tadi barokah dan diterima Allah SWT,’’ pungkas Abah.
Lantas apa hasil (faedah) amalan 1.000 Bismillahirahmanirahim dan 1.000 Laa Ilaaha Illallaah, yang diberikan Allah untuk Abah. Ternyata, Subhanallah, sangat luar biasa. Tim Kuasa Hukum Abah pada sidang pra peradilan di PN Jakarta Selatan, Selasa kemarin, menang.
Dan status tersangka Abah dalam kasus dugaan korupsi dengan kerugian negara Rp 1,63 triliun dibatalkan hakim tunggal Lendriaty saat membacakan amar putusan praperadilan yang digelar di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa 4 Agustus 2015.
Hikmah yang bisa saya petik, betapa seorang Abah yang namanya cukup dikenal dan cukup terpengaruh di negeri ini, ternyata lebih menyerahkan semua masalahnya kepada Allah. Bahwa ada tim kuasa hukum yang dipimpin Yusril Ihsa Mahendra cs, semata-mata abah ingin menunjukkan sunnatullah-nya saja.
Selama ini, Abah tidak pernah sepatah kata pun mengumbar kata kalau statusnya sebagai tersangka yang diberikan Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta salah. Abah juga tidak pernah mengucap suara kalau dirinya merasa sangat yakin akan memenangi sidang praperadilan di PN Jakarta Selatan.
Sebaliknya, Abah dengan segala yang dimilikinya justru merasa ingin lebih baik segera dipenjara kalau memang dirinya dianggap salah. Selama ini, Abah juga tidak pernah menyebut nama orang lain dalam pusaran cobaan yang dihadapinya.
Sebagai manusia, Abah justru menerima keadaan apapun atas diri dan keluarganya kemudian menyerahkan segala keputusannya kepada Allah. Abah yakin Pengeran ora Sareh (Allah Tidak Tidur) karena Allah itu Ar Raqib (Maha Mengawasi).
Begitu juga terhadap hasil putusan kemenangan di PN Jakarta Selatan, Abah tidak merasa jumawa dan tinggi hati. Sebaliknya dengan segala kekurangannya sebagai manusia Abah hanya meyakinkan dirinya kalau 1.000 persen Allah itu Al Hakim (Maha Bijaksana).(has/ary)