Setahun Raih Dua Penghargaan

Syaiyuri, Pembina Pramuka Sekaligus Pendiri Batik Gandring//sub
Raih Dua Penghargaan Bergengsi, Terinspirasi Keris Ken Arok//judul

Syaiyuri pengrajin Batik Gandring di Jalan Rogonoto Gang IV Kelurahan Losari Kecamatan Singosari ini, termasuk pria gigih. Belajar membatik dari paguyuban lanjut usia, kini dia bisa mengembangkan hingga ke luar daerah. Pembina Pramuka di SDN Pagetan 1 menjadi pengrajin batik, sukses membawanya meraih dua penghargaan prestisius.

Rumah sederhana ditempatinya di di Jalan Rogonoto. Meski sederhana, rumah itu tampak asri. Lantaran tepat di depan rumah tersebut, terdapat hamparan sawah yang luas. Sehingga membuat yang tinggal di dalam rumah tersebut, menjadi betah  Pria berusia 44 tahun tengah mengenakan seragam Pramuka, maklum profesinya memang sebagai pembina Pramuka.
Namun yang tampak di ruang tamunya adalah beberapa penghargaan berkat kegigihannya menjadi pengrajin batik Gandring khas Singosari. Batik yang dibuatnya dengan inspirasi keris Ken Arok, buatan Empu Gandring.
Diantara banyak penghargaan itu, terdapat dua penghargaan prestisius yang berhasil diraihnya sepanyak tahun 2014 kemarin. Yakni Citi Mikro Entrepreneur Award (CMA) 2014, di Jakarta, 26 Februari 2014 lalu. Penghargaan itu, diadakan oleh Citi Bank bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI).
Sedangkan penghargaan kedua, diraihnya saat mengikuti festival Malang Tourism  Centre (MTC) pada Desember tahun 2014. Bapak dua anak ini menceritakan, awal mula menekuni membuat batik ini pada tahun 2007 lalu. Saat itu, dia tertarik dengan ibu-ibu lanjut usia (Lansia) yang membuat batik di Pusat Kerajinan Kendedes (PKR) Singosari.
“Saya belajar membuat batik ini secara otodidak dengan meniru ibu-ibu lansia tersebut,” ujar Syaiyuri kepada Malang Post.
Mulanya, dia membuat batik bermotif Candi Singosari dan patung Dwarapala, yang menjadi ciri khas dari Kecamatan Singosari.
Bentuk candi dan wajah buto yang menjadi bagian dari goresan batiknya, memberikan kesan berbeda dibandingkan batik-batik lain di Kabupaten Malang. Sedangkan proses pembuatannya, sama dengan batik tulis pada umumnya. Sedangkan peralatan untuk membuat batik, dia membelinya langsung dari Solo, Jawa Tengah.
“Kalau di Malang tidak ada. Harus pesan terlebih dahulu ke Solo dan Jepara Jawa Tengah,” terangnya. Selanjutnya, kata dia, waktu pembuatan batik itu disesuaikan dengan tingkat kesulitas desain pemesannya. Lebih sulit desain yang dibuat, maka waktu menyelsaikannya lebih lama lagi. Paling lama pembuatannya adalah satu minggu.
Sedangkan paling cepat, antara dua hingga tiga hari. Dia mengambil nama batik Gandring, lantaran tertarik nama filosofis dari Empu Gandring. “Saya analogikan membuat batik itu sama dengan membuat keris,” tuturnya.  Seiring berjalannya waktu, kerajinan batik yang dibuatnya, mengalami kemajuan pesat.
Sedangkan batik bikinannya itu merambah pasar nasional. Mulai dari Medan, Palembang, Balikpapan, Manado dan Makassar. Ilmu membuat batiknyapun dia tularkan. Saat ini, dia membina 26 kelompok pengrajib batik se Kabupaten Malang. Diapun memberikan pelatihan batik gratis kepada pelajar dan mahasiswa.
Selain itu, dia juga acap kali dipanggil Pemkab Malang untuk mengisi pelatihan membuat batik. “Yang jadi perhatian saya saat ini adalah, harus ada generasi penerus yang meneruskan pembuatan batik ini,” ucapnya.
Untuk itu, dia membuat pelatihan gratis membuat batik kepada kaum muda mudi ini. Dengan harapan, bisa mencetak generasi muda yang berkualitas dalam membuat batik tersebut. Sehingga, keberadaan batik Gandring Singosari ini dapat terjaga.(Binar Gumilang/ary)