Tiga Hari Selesaikan Pesanan, Demi Keluarga Tolak Berkarir di Jakarta

Konsisten di dunia musik hingga usai tua, sulit dilakukan. Namun, Edi Pramono musisi kawakan asal Kota Malang ini, berhasil menjaga konsistensi. Bahkan tidak sedikit musisi yang berkiblat dan mengidolakan dirinya. Tak sekadar menyanyi, pria ini juga langganan membuat jingle iklan.

Penampilan Edi sebagai musisi terlihat saat Malang Post melihatnya di salah satu sudut café di Kota Malang. Berambut gondrong, dengan jaket kulit berwarna hitam. Bibir Edi selalu bergerak, saat musik mengalun. Bahkan, dia juga tidak ragu untuk mengayunkan kakinya bergantian, sambil mengikuti tempo musik yang dimainkan.
“Beginilah keseharian saya. Musik seperti sudah mendarah daging. Makanya jika ada alunan musik, apapun itu jenisnya mulut dan kaki tidak pernah diam,’’ kata ayah dua anak ini.
Aktifitas musiknya sendiri dimulai sejak tahun 1980. Saat itu Edi masih berusia 23 tahun, dia bergabung di Perusahaan Rokok Bentoel. Di perusahaan ini, Edi menemukan kesenangan, karena selain bekerja sebagai staf marketing, dia juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakatnya sebagai vocalis. Ya, itu karena saat itu pihak perusahaan membentuk band.
Dengan nama Band Bentoel, Edi pun memulai karirnya sebagai musisi dan bergabung. Awalnya Band Bentoel hanya menghibur karyawan perusahaan, saat ada event. Tapi kemudian, band ini kerap diajak tour oleh perusahaan untuk melakukan promo. Edi dan kawan-kawan, tidak hanya tampil solo, bahkan mereka juga kerap mengiringi musisi-musisi kawakan, seperti Doel Sumbang, Nini Karlina, almarhum Benyamin Sueb, Rita Sugiharto dan lainnya. Tentu saja, Edi sangat bangga dengan aktifitas tersebut. Apalagi, kegiatan bermain musiknya, membawa dirinya ke seluruh Indonesia.
Saat ada produk baru, Band Bantoel ini selalu dibawa manajemen untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Tentu saja, selain membawakan lagu, dia juga membawakan jingle. Jingle yang dibawakan banyak diingat masyarakat. Suaranya yang berat membius warga mengingat produk yang saat itu sedang di promokan. “Ibaratnya kita melakukan hipnotis, sehingga warga ini mengingat produk yang kita promokan,’’ katanya.
Seiring kemudian, nama band ini melambung. Tidak hanya melayani perusahaan dan tampil atas nama perusahaan.  Edi dan kawan-kawan pun kerap tampil di luar perusahaan. Ya meski tidak bebas, namun memberikan hiburan kepada masyarakat menjadi kepuasan tersendiri. Tapi begitu, dia juga mengatakan, dengan menghibur masyarakat, dia juga mendapatkan penghasilan.
Menurut Edi, penghasilan musisi era tahun 1980 memang tidak banyak. Sekali manggung, yang mengundang hanya memberikan biaya ganti bensin saja. Bahkan banyak pemilik kegiatan hanya memberikan makan dan minum saja. Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah, karena pada prinsipnya uang bukanlah hal utama. Tapi dia lebih mementingkan kepuasan batin.
Karirnya sebagai musisi pun melambung. Suara jenis tenornya pun kian dikenal. Tidak sedikit perusahaan rekaman yang mengajaknya hijrah ke Jakarta untuk menjadi artis besar. Saat tawaran itu datang, Edi memang merasa bingung dan bimbang. Tapi setelah dipikir secara masak-masak, kemudian Edi pun memutuskan untuk tetap di Malang. Alasannya saat itu adalah keluarga dan pekerjaannya.
“Jeri teman saya yang kemudian ikut ke Jakarta, dia sukses ikut Iwan Fals, dan albumnya Mata Dewa. Tapi saya saat itu menolak ikut, karena enggan meninggalkan keluarga,’’ kata pria kelahiran 5 September 1957.
Di Malang, dengan tekad yang dimilikinya, Edi terus merintis karir. Dia meyakinkan, dimanapun berada menjadi musisi bisa dilakukan. Karena tujuannya sama, yaitu memberikan hiburan kepada masyarakat.
Sukses dengan bermusik, Edi pun mulai melirik membuat jingle iklan. Memang tidak tiba-tiba namanya dikenal. Tapi Edi melakukannya dengan segala upaya. Termasuk dia ikut Lomba Jingle tingkat nasional. Saat itu dia mengirimkan jingle produk FIF. Hasilnya, dia mendapatkan juara 2. Lomba inipun melambungkan namanya. Terbukti, banyak perusahaan yang kemudian memintanya untuk membuat jingle iklan untuk produknya.
Edi Purnomo, yang kini berusia 58 tahun ini, akhirnya kerap diminta perusahaan untuk membuat jingle iklan. “Kalau ditotal jingle iklan yang sudah saya buat lebih dari 100,’’ kata  bangga.
Dia menceritakan, perusahaan yang paling banyak memintanya membuah jingle iklan adalah perusahaan rokok, seperti rokok 92, rokok Cakra dan lainnya.
“Karena sekarang sudah pensiun, ya pekerjaan yang saya tekuni adalah sebagai musisi, termasuk membuat jingle iklan,’’ katanya.
Membuat jingle iklan memang tidak sesulit membuat lagi. Apalagi jika pihak perusahaan sudah menyusun konsepnya. Menurut Edi dia hanya membutuhkan waktu tiga hari saja untuk membuat jingle iklan. Tapi begitu, dia memberikan garansi, dengan memberikan revisi dua kali.
Sementara untuk rekaman jingle iklan sendiri dilakukan di studio musik miliknya sendiri. Sehingga proses pembuatan jingle tersebut lebih mudah. “Sekarang rata-rata Rp 5 juta untuk satu jingle. Setiap bulan ada dua-empat perusahaan yang meminta saya untuk membuat jingle,’’ katanya.
Sekalipun perusahaan yang memintanya 90 persen adalah perusahaan lokal, Edi mengaku tetap bersyukur. Dia juga mengatakan, aksinya membuat jingle ini tak lain adalah karena eksistensinya dalam dunia musik.
“Jangan takut menjadi musisi. Yang pasti jika kita konsisten, apapun aliran musiknya pasti akan mendapatkan jalan. Bisa langsung ke Jakarta, bisa menghibur disini,’’ tandas suami dari Mariani Tendean ini.(ira ravika/ary)