Selektif Terima Tawaran, Aktif Kembangkan Training Center

Usia senja tidak menghalangi aktor kawakan Pong Harjatmo tetap aktif beraktivitas. Lebih selektif dalam menerima tawaran bermain film dan kian aktif mengembangkan Pong Harjatmo Training Center. Bahkan kerap  mengkritisi kejanggalan di sekitarnya, tak terkecuali pemerintahan. Malang Post berkesempatan berbincang dengan Pong dalam kunjungannya ke Malang, beberapa waktu. Berikut tulisannya.

Aktor ternama ini menceritakan pilihan hidupnya , yang diakui sesuai dengan hatinya. Menurutnya, besar di dunia film, tidak serta merta Pong bisa meninggalkan akting. Namun dia memastikan, bila sekitar 10 tahun terakhir, aktivitasnya sudah jauh berkurang. Bilapun menerima tawaran syuting, sangat selektif
"Saya sudah mengurangi aktivitas syuting. Sesekali, bila sesuai dengan visi dan misi saja," ujarnya, ketika mengawali cerita.
Dirinya hanya menerima tawaran main film yang memiliki visi dan misi yang sama dengan dirinya. Pong tidak ingin apa yang dilakukannya selama berkarir di dunia akting hancur sia-sia hanya karena bermain dalam film ecek-ecek.
Pria yang 4 September tahun ini berusia 73 tahun itu mengakui, bila dunia film Indonesia kini berkembang pesat. Namun, sebagian besar diproduksi dengan mengedepankan sisi komersil, tanpa melihat apa yang dibuatnya positif bagi penikmat film atau tidak. "Yang seperti itu saya tolak. Sayang sekali, bila apa yang sudah saya bangun puluhan tahun rusak karena salah menerima tawaran," beber dia kepada Malang Post.
Untuk urusan honor, Pong pun tidak terlalu mempermasalahkan, asal cerita yang dipilih merupakan sesuatu yang disukainya. "Saya lihat yang idealis, tapi kalau yang nawarin niatnya cari duit, tunggu dulu, masa mereka nyari duit," terangnya.
Pria kelahiran Solo ini menuturkan, untuk saat ini fokus kariernya lebih pada sesuatu yang bermanfaat. Salah satunya, dia lebih sering menerima tawaran untuk memberikan seminar motivasi, pembentukan karakter hingga berbagi akan hal akting. Hal tersebut, diakuinya lebih menyenangkan, karena bisa berbagi dengan orang lain.
"Ada kepuasan tersendiri. Saya masih bisa dikenal meskipun tidak dari layar kaca. Saya juga lebih merasa kaya dengan membuat orang lain memiliki wawasan, bila fokus untuk main film, pasti lebih melelahkan," papar dia.
Pong menjelaskan, dia pun terbuka dengan siapapun yang ingin belajar mengenai apa yang dipahaminya. Tak terkecuali tentang ilmu. Kepada Malang Post pun, dia menyampaikan, dalam bahasa yang sesekali bercampur Bahasa Jawa. "Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake," sebutnya.
Secara harafiah dapat diartikan, Kaya tanpa Harta, memiliki Kesaktian tanpa Ilmu atau benda pusaka, Menyerang tanpa Bala Pasukan, Menang tanpa Merendahkan. Sembari menjelaskan apa arti keseluruhan kata tersebut, dia memastikan lebih bangga ketika bisa menjalankan prinsip berbahasa Jawa itu.
"Usai tidak begitu aktif syuting film, lebih tenang. Ya seperti prinsip orang Jawa itu," tambahnya.
Pong mengakui, prinsip tersebut juga dia sebarkan, pada beberapa orang. Sebab, dia merasa lelah melihat keadaan di sekitar, banyak kejadian seperti perebutan kekuasaan, saling menjatuhkan hingga balas dendam. "Bila semua memiliki pandangan yang lebih santai, pasti lebih nyaman," ujar dia.
Tak heran, beberapa tahun terakhir, Pong kerap kritis terhadap pemerintahan. Tidak jarang, Pong harus dipanggil oleh pemerintah karena kritikannya, baik melalui surat terbuka maupun orasinya.
Pong, kini aktif juga di Pong Harjatmo Training Center. Sekolah yang dia kembangkan sejak tahun 2007 ini, menjadi kesibukan barunya. Di sekolah itu, pendidikan karakter, akting hingga modeling.
"Sekarang sudah ada empat sekolah itu, Jakarta, Jogjakarta, Solo dan Purwokerto. Saya coba kembangkan ke kota lain, yang berpotensi," ujar dia.
Malang, menjadi kota kelima yang dia bidik. Sebab, menurut dia, banyak anak muda yang harus mendapatkan ilmu yang dibagi di Pong Harjatmo Training Center. "Kota pendidikan, banyak kampus. Pelajar dari berbagai pulau. Bila mendapat ilmu karakter yang tepat sejak dini, pasti masa depannya lebih terarah," sebut pria yang masih sangat bugar sekalipun berusia kepala tujuh itu.
Dia menuturkan, kini tengah mengurusi segala kelengkapan untuk sekolah itu di Malang, salah satu kota yang sering dia kunjungi, termasuk untuk berlibur.(stenly rehardson/ary)