Makiatul Madaniyah, Mahasiswi UM Penghafal Alquran Terbaik Tingkat Nasional

Makiatul Madaniyah, penerima beasiswa bidikmisi di Universitas Negeri Malang (UM) ini berhasil mendapatkan predikat sebagai mahasiswa penghafal Alquran terbaik tingkat nasional. Ia sukses menguasai 30 juz selepas lulus jenjang Madrasah Aliyah (MA) tanpa sepengetahuan kedua orang tua.

Melalui sebuah rekaman di handphone, Dr. Yusuf Hanafi, S.Ag., M.Fil.I, pembina Alquran Study Club (ASC) UM memperdengarkan suara Makiatul Madaniyah saat grandfinal Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) XIV di Universitas Indonesia (UI) awal Agustus lalu.
Suaranya sangat merdu dengan variasi serak-serak basah. Bacaannya halus, lancar dengan nada dan kefasihan yang tak diragukan lagi. Untuk ukuran orang menghafalkan Alquran, gaya membacanya sangatlah bagus dan cenderung tidak tergesa-gesa.
Selain mampu menghafalkan bacaan Alquran, menurut Yusuf, putri dari pasangan Hj Mansur dan Hj Mahmudah tersebut memang unggul dalam segi suara dan kefasihan. Ia mampu menghipnotis para juri dengan suara emas, kelancaran serta tajwid yang sangat bagus.
”Memang jika dibandingkan peserta lain, Makia lah yang memiliki suara paling bagus. Dan ketika final, dia bisa melibas semua pertanyaan dari juri, tanpa terkena bel,” ungkap Yusuf yang juga sebagai dosen di jurusan Pendidikan dan Bahasa Arab UM.
Dalam kompetisi itu, Makia memang hanya ikut dalam cabang hifdzil Quran 10 juz. Saat itu, setiap peserta diberikan lima pertanyaan dari juri berupa sambung ayat. Perwakilan juri memberikan sebuah ayat untuk kemudian diteruskan oleh peserta hingga durasi yang tidak ditentukan minimalnya.
Kendati ayat yang diberikan memang memiliki kemiripan dengan ayat lain, Makia mampu meneruskannya hingga berbaris-baris. Ia memang sempat terhenyak karena lupa. Namun bisa kembali meneruskan dalam waktu sebentar sehingga terbebas dari ancaman bel juri.
Terlepas dari pembinaan pihak kampus sebelum berangkat dalam MTQMN XIV di UI, Makia memang telah memiliki kemampuan emas itu sejak lepas dari bangku Madrasah Aliyah. Kepada Malang Post, Makia mengaku dulunya sekolah di MAN Keraton Al Yasini, satu komplek dengan Pondok Pesantren Al-Yasini Pasuruan.
Kebetulan, Makia saat itu berstatus sebagai santri di sana. Awal kedatangannya di Pondok, sebagaimana santri lainnya, Makia diwajibkan mengikuti ujian untuk penentuan kelas. Saat itu, Makia tampak sangat lancar melafalkan nadhom-nadhom shorof tingkat dasar dan beberapa hafalan lainnya.
”Mulai saat itu, Abah Yai (pengasuh pondok, Red) meminta saya untuk menghafalkan Alquran karena merasa hafalan saya cukup lancar. Sebelumnya, saya memang tidak pernah kepikiran untuk menghafalkan Alquran,” tutur gadis yang sangat santun tersebut.
Karena dukungan Sang Kiai, Makia berniat meminta izin kepada orangtuanya di rumah. Sayang, saat itu, ia tak mendapatkan izin untuk menghafalkan Alquran karena kekhawatiran tidak bisa menjaga hafalan suci tersebut.
Untungnya, Sang Kiai  terus mendukung Makia kendati tak mendapatkan restu dari orang tua. Hingga akhirnya ia bertekad menghafalkan Alquran ditengah kesibukannya sebagai santri dan murid di sekolah.
Waktu terus berlalu dan Makia tetap setia dengan hafalan Alqurannya. Ia mengaku, perjalananya memang cukup berat karena harus bisa membagi waktu dengan kesibukan lain sebagai murid dan santri.
”Bahkan ketika saya sudah selesai kelas dua itu, saya baru bisa menghafalkan 15 juz. Padahal Abah Yai mentarget saat lulus dari MA, saya harus bisa khatam dan menghafalkan Alquran hingga 30 juz,” ucap mahasiswa asal Pasuruan tersebut.
Dalam jangka waktu setahun mendekati deadline, Makia sempat drop dan sakit-sakitan. Namun karena tekadnya sudah bulat, Makia berhasil menyelesaikan hafalan hingga akhirnya menjalani wisuda sekalian prosesi tashih.
”Saat wisuda itu, orang tua saya baru tahu kalau saya menghafalkan Alquran dan sudah selesai sampai 30 juz. Mereka juga mengaku tidak menyangka karena memang sebelumnya sempat tidak diperbolehkan,” imbuh mahasiswa semester tiga tersebut.
Makia menyatakan, ia tidak memiliki garis keturunan dari penghafal Alquran. Hanya saja, dua kakaknya memang jebolan pondok pesantren dengan suara yang terkenal sangat merdu.
”Jika dibandingkan suara kakak-kakak saya, suara saya yang paling jelek. Kalau suara saya kan ada serak-seraknya. Kalau suara kakak saya bagus dan halus,” ujarnya.
Dalam kesehariannya, Makia adalah pribadi yang sangat sederhana. Di Malang, ia tinggal di PP Al Hijrah, sebuah pesantren dibawah asuhan mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Prof. Imam Suprayogo.
Di sana, selain menjadi santri, Makia juga diberi mandat untuk membimbing santri lain di bidang Alquran. Ia juga sering mendapatkan tambahan uang jajan dari kemampuannya membaca Alquran yang sangat baik itu.
Bahkan, Makia juga telah dilirik oleh pihak kampus untuk direkrut menjadi dosen setelah lulus. Ia akan disekolahkan dan diminta mengabdi di kampus untuk bisa membimbing mahasiswa lain di bidang hifdzil Quran. (Nunung Nasikhah/ary)