Dipacu Motivasi Kakek,Sisihkan Pesaing dari 21 Provinsi

PERKUMPULAN tenis meja (PTM) Makota menyimpan banyak bakat dan talenta muda calon atlet masa depan Indonesia. Satu di antaranya adalah Adella Putri Anggraini. Atlet yang baru berusia 12 tahun ini sudah malang melintang sebagai petenis meja andalan Jawa Timur. Bahkan, dalam turnamen terakhirnya awal Agustus lalu, Della menyabet gelar juara 1 nasional di kategori tenis meja dalam kompetisi Aksioma, Palembang.

Latihan malam di markas PTM Makota Jalan Puri Amarilis Araya, Jumat lalu (14/8) cukup enerjik. Suara decitan sepatu olahraga, teriakan para anggota klub PTM Makota dan hentakan kaki saat memukul bola ping pong, jadi satu menggaung di dinding-dinding gedung. Di antara para anggota klub yang sibuk memukul bola, ada satu remaja putri yang juga sibuk dengan latihan khusus dari coach PTM Makota.
Adella Putri Anggraini, digeber latihan pukulan bola banyak oleh pelatih PTM, Ricky Arifianto. Bet milik Della, bergerak menyapu bola-bola pendek dan panjang yang diberikan oleh pelatih. Setelah beberapa sesi, Della istirahat. Saat itulah, Malang Post berkesempatan mewawancarai atlet putri tenis meja andalan Kabupaten Malang tersebut.
Putri dari Edi Sulistiyono dan Reni Setia Dewi ini bercerita, dia baru saja menyabet gelar juara 1 nasional tenis meja dalam Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Siswa Madrasah (Aksioma) di Palembang, 6 Agustus lalu. “Alhamdulilah dapat gelar juara 1 nasional di Aksioma Palembang awal agustus. Saya mewakili Jawa Timur di kompetisi ini,” kata Della mengawali wawancara.
Gelar juara 1 nasional tersebut didapat setelah Della menghancurkan perlawanan atlet dari Kalimantan Selatan di partai final. Bahkan, Della menang dua set langsung di laga pamungkas tenis meja putri Aksioma. Meski demikian, siswa MTS Malang 3 Gondanglegi ini menyebut laga final bukan laga mudah.
Menurut Della, dia menyebut lawan tandingnya di partai final cukup menyulitkannya andai dia tak persiapan dan fokus. “Lawan saya di final lumayan juga, sempat menyulitkan. Tapi, saya sudah melakukan persiapan dan selalu fokus dalam pertandingan. Karena itu, bisa mengalahkan lawan,” papar remaja yang hobi voli saat waktu senggang tersebut.
Della menyebut, perjuangannya menjadi wakil Jawa Timur, serta menyabet gelar juara 1 nasional cukup panjang. Dia harus melalui banyak seleksi. Della mengawali seleksi dari level Kecamatan Gondanglegi. Dalam penyisihan ini, Della bertemu dengan atlet-atlet tenis meja dari MTS seluruh Gondanglegi.
Karena unggul pengalaman serta porsi latihan yang banyak di PTM Makota, Della melenggang di penyisihan Kecamatan. Sebagai wakil Gondanglegi, Della lalu bersaing di level Kabupaten Malang, bertemu dengan atlet tenis meja dari MTS seluruh Kecamatan. Della kembali melenggang.
Sebagai wakil Kabupaten Malang, Della akhirnya mengikuti penyisihan di level Jawa Timur. Di sini, Della bertemu dengan beberapa atlet berbakat. Namun, akhirnya Della yang jadi wakil Jawa Timur untuk tampil di ajang kompetisi nasional ini. Della menyisihkan atlet dari 21 provinsi untuk jadi juara 1 nasional.
Kesuksesan remaja yang juga jadi juara 1 turnamen tenis meja Brantas Abipraya level nasional di Jakarta itu, bukan hasil instan. Demi turnamen, Della mengubah porsi latihan. Biasanya, dia hanya latihan tiga kali seminggu. Namun, demi turnamen, dia menambah menu dan jam latihan agar makin matang.
Selain itu, sebelum merengkuh banyak gelar juara, Della sudah melakukan banyak perjuangan dan pengorbanan. Selama kurang lebih delapan tahun, sulung dari tiga bersaudara ini menggeluti tenis meja.
“Sejak usia lima tahun, saya sudah suka tenis meja. Awalnya lihat kakek main. Terus iseng-iseng diajari, akhirnya suka sampai sekarang,” kata Della. Usut punya usut, remaja yang sudah mengoleksi puluhan gelar juara tenis meja ini, memiliki ayah-ibu yang suportif, serta seorang kakek pelatih tenis meja. Dari penuturan sang ibu, Reni Setia Dewi, Della awalnya hanya diajak ikut menonton latihan tenis meja sang kakek. “Pak Seno, kakek Della, awalnya hanya mengajaknya kemana-mana untuk nonton latihan tenis meja. Lama kelamaan, Della yang masih kecil ini, suka dengan tenis meja. Della awal pegang bet sekitar umur TK,” kata Reni.
Setelah itu, Della makin sering latihan bersama sang kakek yang juga melatih tenis meja di ekskul-ekskul sekolah. Della juga mendatangi klub-klub tenis meja di banyak tempat. Kebiasaan ini membuat Della terbiasa dengan pertandingan dan latihan tenis meja. Hal ini juga yang mengawali langkah Della sebagai atlet tenis meja.
Reni menuturkan, sang kakek cukup keras dalam mendorong serta memotivasi Della untuk tetap menekuni tenis meja. “Saya sebagai orang tua mendukung, apalagi anak senang dan punya bakat. Tapi, kakeknya sendiri juga cukup keras memotivasi Della. Kalau Della bolos latihan, pasti kakeknya langsung ngomel dan marah-marah,” tambah Reni.
Sementara itu, coach PTM Makota, Ricky Arifianto mengaku bangga dan senang dengan prestasi yang diraih oleh Della di Aksioma. “Melihat ada bakat besar semuda ini, tentu saya merasa bangga. Tapi, bagi saya itu belum cukup. Della masih bisa berkembang lebih jauh lagi. Masih ada banyak atlet yang tak kalah berbakat dibanding Della,” sambungnya.
“Karena itu, saya siap melatih para atlet berbakat Makota untuk jadi yang terbaik, minimal selalu jadi wakil Jatim, untung-untung jadi juara nasional,” ungkap Ricky, yang juga mantan atlet PON tenis meja ini.(fino yudistira/nug)