Hanya Delapan Orang Bikin Kocar-Kacir Musuh di Timor Timur

PERINGATAN hari jadi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) selalu identik dengan para pahlawan. Di Malang, veteran perang Sertu (Purn) Iswan patut diberi apresiasi khusus.

Kiprah salah seorang Veteran Pembela Kemerdekaan RI ini, tidak bisa dipandang sebelah mata. Veteran yang saat ini berusia 75 tahun tersebut, terlibat beberapa operasi besar pada eranya. Diantaranya Operasi militer Trikora tahun 1961-1963, Operasi militer Dwikora tahun 1964-1966 dan Operasi militer Seroja Timor Timur (kini Timor Leste, Red) tahun 1975-1976.

Pasca kemerdekaan RI tahun 1945, prajurit TNI AD saat itu harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan kemerdekaan. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terancam dan Iswan yang merupakan Veteran TNI AD ini, juga turut turun dalam medan tempur.
“Yang paling saya ingat saat itu adalah operasi militer di Timor Timur,” ujar Iswan, kepada Malang Post, kemarin. Meski usianya sudah 75 tahun, namun, dia masih ingat betul peristwa yang dialamianya saat operasi di Timor Timur tersebut.
Saat itu, dia bertugas menyapu ranjau darat di Distrik Bobonaro, Timor-Timur. Tujuan penyapuan ranjau itu, supaya mempermudah para prajurit pemukul yang lewat, untuk menuju sasaran. Selain itu, dia juga bertugas mengirimkan logistik kepada para prajurit lainnya. Saat mengirimkan logistik itu, pertempuran hebat dialaminya.
“Saat itu, kami harus bertempur dengan pasukan lawan di hutan di Distrik Bobonaro, Timor Timur itu,” imbuhnya. Dia menceritakan, dalam kondisi  gelap,   pasukan kecil beranggotakan delapan orang itu tiba-tiba dihujani tembakan dari berbagai arah. Situasi begitu mencekam, mereka coba melawan dengan membalas tembakan musuh.
Saat membalas tembakan  itu, pasukan lawan kocar-kacir. “Saya juga tidak tahu mengapa pasukan lawan lari tunggang langgang. Mungkin dikira kami membawa pasukan yang banyak,” teran pria dua anak ini.
Setelah itu, mereka meneruskan perjalanan dan berhasil mengantarkan logistik. Berisi senjata, amunisi, obat-obatan dan makanan. Tidak hanya itu saja, dua operasi militer penting lainnya juga dia rasakan. Meski kiprahnya tidak sepertti Jenderal Sudirman dan Soekarno, namun dia tetap bangga. Tercatat, dia juga telah menerima sebanyak tujuh penghargaan sebagai veteran.
Antara lain, Satya Lencana Seroja, Wradarma, Styadarma, Kesetiaan 8 Tahun, Kesetiaan 16 Tahun, Kesetiaan 24 Tahun dan Penegak. Berapa penghargaan itu, yang menjadi semangatnya saat ini supaya berbuat lebih baik. Yakni mengabdikan dirinya sebagai Sekretaris Legiun Veteran Rebuplik Indonesia (LVRI) Kecamatan Lawang.
“Saya bangga menjadi bagian dari pembela kemerdekaan. Karena itulah, saat ini Indonesia menjadi tidak terjajah lagi,” tegasnya.
Melalui pengalamannya itu, dia ceritakan kepada anak-anaknya. Selain itu, juga sebagai semangat pemuda saat ini, supaya meniru semangat pahlawan. Utamanya untuk memajukan kepada bangsa ini, melalui beberapa presatasi. Menurutnya, maju tidaknya bangsa ini, tergantung dari kiprah para pemuda sebagai penerus bangsa ini.
“Para pemuda harus memiliki semangat dan jiwa pahlawan untuk memajukan bangsa ini. Bentuknya adalah dengan belajar meningkatkan keilmuan, bekerja keras dan selalu berupaya untuk meraih berbagai macam prestasi. Sehingga, di tangan pemuda bangsa ini akan semakin maju dan berkembang,” pungkasnya.(Binar Gumilang)