Pemegang Prinsip Sedulur Selawase, Rivalitas Hanya 90 Menit

Almarhum Suharno ketika mengajak para ofisial tim, makan di warung Sunda favoritnya, di Soreang, Kabupaten Bandung.

Catatan Pribadi Tentang Sosok Coach Suharno
Coach Suharno yang dikenal ramah dengan siapa saja itu, telah tiada. Pak Once, julukan Suharno, adalah pemegang prinsip sadulur selawase (persaudaraan selamanya). Pelatih Arema Cronus yang selalu puasa ketika timnya bertanding itu telah tiada. Berikut catatan pribadi wartawan Malang Post Fino Yudistira.
Dulur, deadline sudah selesai? Saya kirimi nasi Padang ke kamar ya. Dulur, nanti saya tunggu di lobi ya, kita jalan-jalan muter-muter Banyuwangi. Dulur, dopingnya (satu slop rokok, Red) sudah siap untuk kerja deadline. Kalimat di atas selalu mengawali pembicaraan saya dan Suharno, baik lewat telepon, obrolan di lobi hotel saat tur Arema, atau sekadar pesan singkat. Kata yang pendek, mengawali perhatian simpel tapi berkesan tak lekang dari ingatan.

Saya langsung merasakan dalamnya makna kata dulur ala Suharno, ketika mendengar bahwa Once tak lagi ada, Rabu (19/8) malam lalu. Semua orang bicara bahwa Suharno adalah pribadi yang blater, supel, mudah akrab dan komunikatif. Itu semua benar. Dari sekian banyak pelatih yang pernah membesut Arema, mungkin Once adalah yang paling akrab dengan jurnalis.
Saya mengenal Once dua tahun terakhir, sejak ia menggantikan pelatih senior lainnya Rahmad Darmawan. Selama dua tahun ini pula, saya melihat betapa Once sangat menghargai dan mengakrabi para wartawan Malang yang ikut tur Arema ke luar kota. Dalam setiap kesempatan, Once tidak bosan mendatangi kamar wartawan.
“Dulur, kamar berapa? Ajak Pasek juga ke kamar, ngobrol-ngobrol santai,” tanya Suharno kala itu. Selalu, Once kirim pesan singkat untuk isi waktu, usai melatih tim. Hanya sekadar nongkrong, duduk-duduk sambil ngobrol ringan. Atau, jika sedang mood, maka Suharno akan mengajak asisten pelatih, untuk guyon hingga larut malam di kamar wartawan.
Kebetulan, saya dan I Made Pasek Wijaya, asisten pelatih Arema, tahu benar kocaknya Suharno ketika bercanda. Tak ada sekat. Akrab. Ia pun sering berinisiatif mengajak wartawan, serta ofisial untuk jalan-jalan keluar. Saat tur di Bandung, Once mengajak wartawan dan ofisial kuliner di rumah makan khas Sunda langganannya ketika masih melatih Persikab Kabupaten Bandung era 2009-2010.
Atau, saat tur ujicoba di Pekalongan, Once memamerkan warung sop kaki kambing favoritnya di alun-alun kota. Saat masih melatih Persibat Batang 2005-2006, Suharno selalu main ke Pekalongan, sehingga jadi akrab dengan para pengurus sepakbola di Persip Pekalongan dan kuliner andalannya.
Sebagai wartawan, saya pun mengamati kebiasaan Once. Satu hal yang pasti, ia tak pernah menolak Aremania. Dengan sabar, Once melayani keinginan suporter untuk foto, tak peduli di kota mana, entah itu Padang, Jakarta, Pekalongan, Solo, Sleman, Palembang, dan kota-kota lain. Once selalu rela mengambil waktu sejenak untuk  melayani suporter. Sosok yang supel dan enerjik serta tanpa dendam, sudah menempel erat pada karakter Suharno.
Bahkan, suatu kali, saat tur Arema di Semen Padang, Once tetap tenang dan kokoh, menghadapi ‘pembantaian’ dari jurnalis-jurnalis PS Semen Padang. Saat itu, Arema imbang 2-2 di Stadion Agus Salim, dan melenggang ke babak semifinal ISL 2014. Once, tanpa dukungan siapa pun, dengan tenang dan masih enerjik, melayani ‘cercaan’ para wartawan Padang yang tidak terima dengan hasil yang menggugurkan peluang Semen Padang melaju ke babak lanjutan.
Namun, sosok Once tidak selamanya kuat dan tenang. Ada kalanya ia tampak kesepian. Ada masanya ketika mantan pelatih Persiwa Wamena ini pun tak bisa selalu sumringah, tak bisa melayani ego orang lain. Ada saatnya, Once pun bersedih. Beberapa kali ngobrol, Suharno tak jarang curhat, tentang tim, tentang sepakbola, tentang masalah yang dihadapi sebagai pelatih Arema.
“Dulur, lagi prihatin kondisi kita. Sepak bola tidak segera bangkit. Pemain sedang kesulitan dulur. Kalau gak segera kompetisi, kasihan pemain. Kalau saya sudah tuwuk hidup di sepakbola dulur. Anak pun sudah mentas, ucap pelatih kelahiran Klaten ini,” demikian curhatan Suharno. Curhat-curhat pendek, di sela-sela wawancara, kadang  tak kuasa ‘keprucut’ dari bibir Suharno.
Curhatan itu, termasuk keinginannya untuk terus menjadi bagian dari Arema, selama yang dia bisa. “Kalau saya inginnya ya di Malang saja dulur. Apa yang saya cari? Sudah tidak ada,” ungkapnya.
Tampaknya, harapan di sudut hati Once untuk jadi pelatih Arema selama mungkin kesampaian. Hingga napas lepas dari badan, bahkan saat sakaratul maut menjemput, ia tetap berkostum Arema.
Seandainya ada keinginan di hati kecilnya, Suharno hanya ingin melihat putra tunggalnya mapan. Di hadapan putra tunggalnya, dr Dheka Putra yang kini menjadi dokter tim Bali United, Once adalah sosok yang sangat ‘manja’. Hanya saat bersama dr Dheka, Once sumringah dan sesekali berlagak seperti anak kecil. Mood-nya pun selalu baik ketika bersama anak kesayangannya. Saat tur Banyuwangi pertama di bulan puasa, turnamen Sunrise of Java Cup ditunda karena larangan MUI.
Dr Dheka, berencana pulang bareng skuad Arema ke Malang, bersama ayahnya. Malam sebelum pulang, saya sempat nongkrong di kamar dr Dheka dan Suharno. Saya melihat sendiri, bagaimana Suharno memuja putra tunggalnya ini. Bagaimana Once yang kokoh menghadapi kritik dan cacian, jadi lembut dan penuh belas kasih di hadapan dr Dheka.
Air mata dan tangis kini menggenang di pelupuk mata dr Dheka. Ayahnya yang kocak, humanis dan punya empati untuk orang lain, sudah pergi untuk selamanya. Tak ada lagi guyonan manja dari sang bapak. Tak ada pula sesi ngobrol hingga larut pagi saat tur away di luar kota. Once kini jadi kenangan selamanya, untuk semua orang yang mengenal sisi lainnya.
Once, juga tipikal orang yang tak suka pamer rasa sakit. Ia selalu berusaha tampil kuat dan supel, walaupun ternyata sudah mengalami kesakitan. Saya baru menyadari, bahwa Once sejatinya suka memendam rasa sakit, sampai benar-benar tak tertahankan.
Saat tur Arema di Bali Island Cup, Once pernah mengeluh kesakitan. Ketika itu, Once baru saja menyelesaikan press conference. Ternyata, ia ketinggalan bus tim. Tiba-tiba, sesaat setelah keluar dari ruang preskon, Once memegangi ulu hatinya, dan mengeluh kesakitan. Ia merasa sesak napas dan kesulitan berjalan. Keringat dingin keluar deras dari pelipisnya.
Wajahnya pucat pasi. Dia hanya bisa duduk sembari menahan diri agar tidak pingsan. Saat itu, ada suporter Bali United yang menanyai Once. Namun, Suharno mengaku hanya sakit perut saja. Begitu tahu bahwa Once sedang kesakitan, saya memanggil panitia untuk mengantarkan Once dengan mobil operasional.
Beruntung, Once membaik begitu ditangani oleh dokter tim, saat itu masih dr Indrawan Dwantoro. Usut punya usut, Once punya sakit maag. Tapi, itu bukan maag karena telat makan. Setiap hari H pertandingan, Suharno selalu tirakat. Ia puasa saat Juan Revi dkk bertarung di atas lapangan hijau selama 90 menit.
Jam berbuka puasa Suharno juga beda. Jika orang normal berbuka saat Maghrib, maka Suharno baru memasukkan makanan ke mulutnya, begitu pertandingan selesai. Apabila main malam hari, Suharno baru berbuka puasa di atas pukul 9 malam. Bahkan, sakit maag-nya pun, diderita demi Arema.
Selain itu, saya pun melihat sosok lain dari  Once, ketika melayat almarhum HM Mislan, Ketua Yayasan Arema era awal Ligina. HM Mislan adalah salah satu kawan akrab Once. Sebagai pelaku sepakbola, Suharno sangat memfavoritkan HM Mislan. Bahkan, Suharno menyebut Mislan sebagai pahlawan bola.
“Saya sejak 1988 sudah kenal Pak Mislan. Saya terenyuh, memandikan jenazah Pak Mislan, sembari menyadari bahwa beliau sebenarnya adalah pahlawan sepak bola yang terlupakan,”  ungkap Suharno dalam kesempatan berbeda. Saat ikut menguburkan jenazah keesokan harinya, Once duduk begitu lama menghadap nisan makam HM Mislan.
Mulutnya terlihat komat kamit. Matanya menerawang. Seakan-akan, dia diperingatkan oleh sahabatnya ini, bahwa jalan hidup manusia selalu ada ujungnya. Air kepedihan mengintip di sudut mata Once. Namun, dia menahannya, di tengah hiruk pikuk isak tangis keluarga almarhum HM Mislan.
Pemakaman sahabat karibnya itu rupanya jadi peringatan tersembunyi untuknya. Almarhum HM Mislan belum genap sebulan mangkat. Tak lama kemudian, Suharno, ikut menyusul sahabat karibnya ke alam baka. Namun demikian, pertemuan terakhirnya dengan almarhum HM Mislan itu, menjadi doa Once. Ia sangat mengharapkan, kematian jangan sampai ikut mengubur jasa dan pengorbanan seseorang untuk olahraga sepak bola Indonesia.
Sebagai wartawan, saya bukanlah orang paling dekat dengan Suharno. Tapi, tulisan ini sekaligus jadi pesan dan doa untuk Suharno. Jangan khawatir dulur. Namamu akan selalu dikenang sebagai orang yang berjasa untuk sepak bola Indonesia. Dulur, sekarang ini engkau telah mewariskan kebanggaan. Engkau sudah menaruh wasiat satu jiwa Arek Malang buat Aremania.
Engkau pun telah mengajarkan sepak bola hanyalah 90 menit rivalitas di lapangan, selebihnya kita semua adalah saudara. Jangan khawatir dulur. Peninggalanmu akan selalu diingat insan sepak bola. Kegigihanmu bakal jadi kenangan terbaik buat generasi sepakbola masa depan. Jangan khawatir dulur. Engkau pergi sebagai pelatih dari klub sepakbola terbesar di Indonesia.
Engkau pergi sebagai bagian dari keluarga besar Arek-Arek Malang. Tenang saja. Saat ini, puluhan ribu Aremania, meneteskan duka untukmu Once. Tangan Arek-Arek Malang, menengadah, mengirim doa buat perjalananmu di keabadian. Selamat jalan, dulur. Semoga engkau tenang di alam sana.(fino yudistira/ary)