Ditolak Sponsor,Terpaksa Berhutang Teman

MESKI  mendapatkan pendanaan dari kampus, Dikti hingga Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), langkah Berliana Restyanova dan kawan-kawan tak berjalan mulus. Untuk melaju ke kompetisi tingkat Asia di Korea Selatan awal Agustus lalu, mereka rela di tolak target sponsor hingga hutang ke teman untuk menutup kekurangan akomodasi.

Barangkali, Blue Machine Technology (BMT) adalah jembatan bagi Berliana Restyanova, Dewi Wulandari, Nur Hamidatus Sa'adah dan Farouq Syahrondhi Mawalid, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) menuju impian yang selama ini diidam-idamkan.
Perjuangan mereka dirajut sejak awal menjadi mahasiswa pertengahan 2014 silam dengan keberhasilan dalam kompetisi Rektor Cup. Inovasi mereka kemudian juga dilirik oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) dan didanai sebesar Rp. 10 juta. Begitu juga dengan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) yang mendesak mereka untuk menerapkannya secara nyata pada masyarakat nelayan di Sendang Biru Malang Selatan dengan bekal Rp. 6 juta.
Dengan pencapaian itu saja, rasanya memang sudah cukup hebat. Namun mereka masih punya target tinggi dengan membawanya dalam ajang level Asia. Kebetulan, saat itu mereka menemukan peluang pendaftaran di International Youth Invention Contest (IYIC) 2015 yang diselenggarakan di Seoul Trade Exhibition & Convention (SETEC), Seoul, Korea Selatan.
“Saat itu kami nekat hanya dengan mengirimkan abstrak. Selang beberapa waktu kami menunggu, kemudian kami dinyatakan lolos dan harus ikut pameran di Korea Selatan,” ungkap Berliana Restyanova kepada Malang Post  di kampus UB.
Sayang, impian mereka sempat hampir terhenti karena masalah dana. Berliana atau yang akrab disapa Bela mengaku, ia dan teman-teman lain sempat pontang-panting mengajukan dana ke kampus hingga ke pemerintah daerah di masing-masing wilayah asal. Bahkan, salah satu proposal permohonan bantuan dana Bela juga sampat ditolak oleh salah satu perusahaan.
Namun mereka tetap tak menyerah. Setelah berhasil mengantongi sebagian dana dari universitas dan fakultas, beberapa dari mereka juga rela berhutang kepada teman untuk menutupi biaya akomodasi yang lumayan besar untuk kantong mahasiswa.
Atas keberanian itu, akhirnya mereka berhasil berangkat ke Seoul dalam formasi lengkap. Berangkat 5 dan pulang pada 8 Agustus untuk bergulat melawan delegasi dari negara lain. Persiapan materi presentasi yang matang hingga dekorasi stand pameran khas Indonesia bernuansa batik, akhirnya sukses menghasilkan medali emas untuk kategori machinery juga Special Prize Award dari World Invention Intellectual Property Association (WIIPA).
Semuanya kesuksesan itu berkat Blue Machine Technology (BMT), sebuah alat kejut listrik bertegangan tinggi sebesar 2.500 voltage untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan yang melimpah. Alat ini terinspirasi dari metode pengawetan ikan oleh nelayan yang masih konvensional yakni menggunakan puluhan balok es.
Sayangnya, penggunaan balok es, selain harus sangat banyak juga menghasilkan kualitas yang tak terlalu bagus. Dengan BMT, pengawetan yang semula menggunakan 90 balok es bisa efisien hanya dengan 45 balok saja. Kualitas ikan menjadi lebih bagus. Selepas diawetkan, ikan tidak lembek, tidak bau anyir serta mata ikan yang masih tampak segar.
"Dengan kejut listrik bertegangan 2.500 voltage itu bisa membunuh bakteri seekor ikan sebesar 97,125 persen. Sehingga bisa mengawetkan ikan dalam jangka waktu yang cukup lama,” tandas Bela.
BMT adalah alat menyerupai mesin penggiling padi berbentuk tabung dengan ujung memanjang. Alat ini diinstalasikan pada kapal nelayan sehingga ketika sedang berlayar di laut ikan hasil tangkapan nelayan bisa langsung diawetkan.
Kendati telah sukses diikutkan dalam beberapa kompetisi, BMT masih berada pada tahap pengujian alat. Objek sasarannya adalah hasil tangkapan nelayan di Sendang Biru dimana mayoritas hasil tangkapan adalah ikan tuna. Memang, BMT yang saat ini diciptakan masih dikhususkan untuk ikan tuna.
"Kami memang sengaja membuat alat kejut untuk ikan tuna karena mayoritas hasil tangkapan nelayan di Sendang Biru adalah tuna. Antara ikan tuna satu dengan yang lain mempunyai frekuensi kejutan yang berbeda-beda tergantung ukurannya," imbuh Bela.
Untuk mengatur frekuensi kejutan listrik, BMT dilengkapi layar LCD dengan tingkatan-tingkatan frekuensi kejutan yang disesuaikan dengan ukuran dan berat ikan tuna yang dimasukkan ke dalam tabung. Satu kali kejutan BMT membutuhkan waktu 2,4 detik. Dengan menggunakan BMT nelayan bisa mengawetkan 25 kuintal ikan yang biasa mereka peroleh dalam satu kali perjalanan melaut.
Sayang, alat ini masih belum jadi seratus persen. Bela mengatakan, saat ini penelitian masih terus dilakukan untuk menyempurnakan BMT sehingga bisa dipasarkan di masyarakat nelayan.
"Satu kali produksi BMT, paling tidak kami membutuhkan dana Rp 6 juta. Sehingga kami berharap untuk ke depannya dapat bekerjasama dengan mitra kerja. Kami saat ini juga sedang mengurus untuk patennya," tambah Bela.
Dengan dibuatnya BMT ini, Bela dan kawan-kawan berharap bisa lebih memaksimalkan hasil tangkapan nelayan Sendang Biru."Selama ini nelayan Sendang Biru tidak mempunyai tempat pendingin untuk mengawetkan ikan. Sehingga ikan-ikan tuna hasil tangkapan yang melimpah dengan penanganan yang kurang, menyebabkan kualitas ikan yang buruk" pungkas Bela. (Nunung Nasikhah)