Kaboel Karso, Jawa Suriname Lacak Kakeknya di Malang

Kaboel Karso adalah keturunan Jawa Suriname yang sudah 15 tahun ini, bolak-balik Suriname – Belanda - Indonesia demi menemukan anggota keluarganya. Minggu (23/8) malam lalu, Malang Post berkesempatan bertemu Kaboel di Harris Hotel, Malang. Pria berusia 58 tahun ini, generasi ketiga dari Jawa Suriname bernama Wakirah, wanita Jawa yang diculik penjajah Belanda, pada masa prakemerdekaan.


Kaboel berada di Malang untuk menjadi pembicara di kampus Universitas Negeri Malang (UM), kemarin.  Malam sebelum ke UM, ia kontak Malang Post untuk bertemu di Harris Hotel. Secangkir kopi hitam menemani perbincangan hangat di restoran hotel kawasan Riverside itu. Dinginnya udara Kota Malang tak lagi terasa, diusir hangatnya kopi.
Sehangat sambutan Kaboel Karso dan istrinya Tine Moestar saat menyambut Malang Post. Kaboel dan Tine, adalah generasi ketiga dari orang Jawa yang dikirim ke Suriname, untuk jadi buruh perkebunan, kata halus dari perbudakan penjajah Belanda masa itu.
Wajah Kaboel seperti orang Jawa pada umumnya. Kulitnya coklat sawo matang. Matanya tidak terlalu besar. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Rambutnya telah memutih, tanda-tanda usia yang sudah lebih dari setengah abad. Ia tak bisa berbahasa Indonesia, itu yang sudah pasti. Saat ditanyai oleh pramusaji soal pesanannya, Kaboel kebingungan.
“Nggawe boso Jowo ae mbak,” ungkap Kaboel.
Begitu si pramusaji memakai bahasa Jawa, ia langsung mengerti. Bahasa Jawa sudah jadi bahasa ibu yang ia pakai sejak kecil. Sebab, ayah ibunya masih murni keturunan Jawa. Meski pun, bahasa Jawa yang dipakai oleh Kaboel, adalah Jawa campuran, yang  tidak berkiblat pada Jawa Timuran atau Jawa Tengahan.
“Aku bahasa Indonesia iso sitik-sitik (bisa sedikit-sedikit). Terima kasih, makan, minum, maaf, yo iku-iku ae sing iso,” ujar Kaboel.
Walau pun tak bisa berbahasa Indonesia, Kaboel cukup fasih berbahasa Jawa. Dengan logat Jawa Tengahan ngoko atau kasar, Kaboel bercerita tentang hidupnya sebagai seorang Jawa Suriname.
Kaboel yang menginjak usia 58 ini, adalah keturunan ketiga dari Wakirah, wanita asal Kedu, Magelang yang diculik Belanda pada tahun 1918 dan diboyong ke Suriname. Neneknya itu, menjadi satu dari sekian banyak wanita Jawa yang dipaksa Belanda untuk menambah populasi para pria Jawa di negara Amerika Latin yang kini merdeka itu.
Menurut Kaboel, era prakemerdekaan Indonesia menjadi era mencekam untuk para Jawa. “Sebab, saat itu yang dikirim ke Suriname adalah  dominan pria, untuk jadi pekerja perkebunan. Rasionya, 10 pria dan 4 wanita. Akibatnya, para pria rebutan wanita Jawa di Suriname,” papar Kaboel.
Bahkan, rebutan wanita di Suriname bisa berujung perkelahian berdarah. Demi menyeimbangkan populasi, Belanda menculik lagi wanita-wanita Jawa agar tak ada peristiwa berdarah lagi di perkebunan Suriname. Akhirnya, terjadilah penculikan wanita-wanita Jawa, termasuk nenek buyut Kaboel, bernama Wakirah.
Setelah itu, para Jawa di Suriname berkembang biak. Hingga saat ini, kata Kaboel, ada sekitar 75 ribu Jawa Suriname di antara total populasi 600 ribu orang.
“Saya besar di Suriname. Tapi, pada umur 30, saya mulai sering meninggalkan tanah kelahiran, untuk pergi ke Belanda, mulai menelusuri jejak yang hilang dan ikatan persaudaraan dengan Jawa di Indonesia,” tutur Kaboel.
Tahun 2000, menjadi awal kedatangan Kaboel di Indonesia. Namun, ia masih belum bisa menemukan anggota keluarganya. Tahun 2002, ia menemukan database orang Jawa yang diboyong dari Indonesia (saat itu Hindia-Belanda) ke Suriname. Dari situ, Kaboel mulai menelusuri jejak Wakirah yang jadi nenek buyutnya.
Demi memperluas jaringan perburuan saudara-saudaranya di Jawa, Tahun 2005 bapak dua anak dan dua cucu itu mendirikan Setiga Javanese In Flavoland, disingkat SJIF.
Frekuensi kedatangan Kaboel semakin banyak di Indonesia. Tahun 2007, pencariannya membuahkan hasil. Dia menemukan sanak keluarga pertamanya, yakni bulek bernama Sukanti, yang berada di Surodadi Magelang. Setelah itu, satu demi satu ia menemukan lagi anggota keluarga yang satu garis keturunan dengan Kaboel.
“Tahun 2012, saya ketemu keluarga lagi, bernama Suwono dan Suminah, itu sepupu saya. Tapi, saat bertemu, umur mereka sudah di atas 80 tahun,” sambung pria yang juga seorang Konsultan Brand Manager di perusahaan swasta Suriname. Keluarganya pun sekarang sudah hampir lengkap.
Lebih dari 100 sanak famili akhirnya bersatu lagi setelah dipisahkan penjajahan dan peculikan oleh Belanda, 125 tahun silam. Lalu, bagaimana ceritanya Kaboel tiba di Malang? Ia bertemu dengan Sejarawan Malang, Dwi Cahyono yang mengikuti kongres Setiga Javanese In Flavoland beberapa waktu  lalu.
“Pak Dwi tertarik dengan sudut pandang cerita Jawa Suriname. Karena itu, saya diundang sebagai pembicara di UM 24 Agustus. Saya membawakan presentasi tentang Jawa Suriname, berjudul 125 Years In Western Hemisphere, Javanese Endangered Labour,” cerita Kaboel.
Jawa Suriname, katanya, berbeda jauh dengan Jawa Indonesia. Jawa Suriname, besar dengan sistem pendidikan Eropa ala Belanda. Kualitas SDM Jawa Suriname, pun berbeda dari Jawa Indonesia. Lalu, secara bahasa, Jawa Suriname hanya mengenal bahasa Jawa ngoko atau Jawa kasar.
Namun, ada persamaan kuat antara Jawa Suriname dan Jawa Indonesia. Kedua Jawa, kata Kaboel, sama-sama kehilangan unsur adat Jawa dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak muda Jawa Suriname, sedikit demi sedikit meninggalkan budaya Jawa peninggalan nenek moyang. Hal tersebut, juga terjadi untuk Jawa Indonesia
Ia menyebut, sejatinya silsilah keluarganya tersebar di seluruh Indonesia. Mulai dari Padang, Medan, Aceh, Batam, serta tersebar di pulau Jawa. Namun, ternyata ada pula satu nama keluarganya, yang hilang di Malang. Menurut Kaboel, ia memiliki seorang kakek bernama Tarimin.
Informasi dan data keluarga, menyebut bahwa Tarimin terakhir kali hidup di Malang. Namun, ia mengaku kesulitan berburu informasi terkait kakek Tarimin.
“Terbatas sekali informasi soal kakek Tarimin. Ia tinggal di Malang, tapi saya tidak tahu di mana. Saya pernah berburu info ke sini, tapi hanya dapat tempat tinggal di Malang Utara, bukan anggota keluarganya. Sayang, kakek di Malang tak terlacak,” sambung Kaboel.(fino yudistira/ary)