Langganan Pameran Luar Negeri, Kini Seriusi Lukis Digital

Banyak pelukis berbakat di Malang dengan ratusan hingga ribuan karya yang telah dihasilkan. Namun, masih sedikit yang seberuntung Drs. Andi Harisman. Di sela kesibukan sebagai dosen di Universitas Negeri Malang (UM), dia masih terus berkarya dan kerap mendapat panggilan untuk pameran di berbagai negara mancanegara.

Sejak kecil, Andi sudah suka dengan dunia seni lukis. Kegemarannya, makin kentara ketika duduk di bangku kelas tiga SMP. "Ya dari kecil memang suka dengan menggambar. Setelah remaja, mulai aktif membuat karya, meski untuk kesenangan sendiri," ujarnya, mengawali cerita.
Menurut dia, ketika sudah memasuki SMA, aktivitas senggangnya sering dibuat untuk melukis. Kanvas, cat warna dan kuas, menjadi pegangannya hampir setiap hari. Di situlah, bakat melukisnya tak terbantahkan. Pujian dari teman-teman dan orang terdekatnya pun memantapkan dia untuk terus berkarya.
"Tidak hanya berkarya untuk konsumsi pribadi, tetapi sering mengikuti pameran. Sejak SMA, ketika masih belum di Malang," papar pria kelahiran Surabaya itu.
Dia menyampaikan, selain mengikuti lomba, Andi juga memantapkan diri dengan bergabung pada sanggar seni. Aktivitas melukis, mengiringi kegiatan belajarnya dan terus berlanjut ketika sudah berkuliah di Malang mulai tahun 1979.
"Apalagi, jurusan kuliah saya pendidikan seni. Ya makin dapat input untuk lebih mantap lagi melukis, terutama dari teman-teman," imbuhnya.
Pertemanan lebih banyak dan pergaulan lebih luas, membuat Andi lebih sering mengikuti pameran, juga mengadakan pameran dengan rekan mahasiswanya. Tidak hanya di Malang, keberanian berpameran di luar kota, menjadi tantangan selanjutnya. Misalnya di Jogjakarta, yang seolah menjadi pusat berkumpulnya seniman tanah air.
Saat berani menggelar karya di Jogjakarta, tantangan dipastikan lebih berat. Kritik tajam dan terkadang menyakitkan, harus rela diterima dari sesama seniman, bahkan sesama pelukis pula. Pria yang mengidolakan pelukis Hendra Gunawan ini mengakui, menjadikan Jogjakarta menjadi ajang mempertebal mental, agar karyanya kian diterima banyak kalangan.
Tahun demi tahun berlalu, karya lukisnya diendus oleh orang mancanegara. Australia menjadi tempat pertama dia memamerkan karya di luar negeri. "Kalau saya yang berangkat sekaligus pameran, pertama ke Australia. Tetapi, karya saya sudah pernah dibeli orang luar, jauh sebelumnya," terang dia kepada Malang Post.
Dosen pengajar Seni Desain ini menuturkan, karena permintaan mengikuti pameran di Australia, dia sempat harus tinggal di sana selama empat bulan. Pertama, antara 1997-1998. Pameran berlangsung dalam bentuk roadshow.
"Temanya pameran lukisan kristiani. Karya-karya yang berhubungan dengan perspektif Alkitab misalnya menunjukkan keluarga berkumpul untuk berdoa. Hampir tiap tahun ada roadshow itu di Australia," jelasnya.
Beberapa karya yang telah dibuatnya pun diboyong ke sana. Tantangannya diakui lebih berat, karena dia harus menyempurnakan penampilan karyanya seorang diri ketika di luar negeri. Mulai dari memasang lukisan ke pigura hingga angkat-angkat dari satu tempat ke tempat lain.
Namun, dari sana nama dia dikenal oleh penyelenggara, bahkan hingga ke wilayah Eropa. Dalam setiap pameran, 20-30 karyanya bisa dibeli oleh pengunjung. Praktis berikutnya, dia mendapat undangan ke negara lain, hingga belasan tahun kemudian.
"Selain Australia, saya sudah pameran di Belanda, Inggris, Kanada, Jepang hingga Singapura. Berkelanjutan, hingga beberapa tahun terakhir," tambahnya.
Namun, dia mesti selektif ketika menerima tawaran ke luar negeri. Pasalnya, dia menyadari posisinya sebagai seorang dosen aktif. Selain mahasiswa yang dia pikirkan, rekan kerja sesama dosen pula. Sebab, bila dengan seenak diri mengambil cuti dan ikut pameran lintas negara, dipastikan menimbulkan kecemburuan.
"Ya selektif dan berpotensi, termasuk pertimbangan karya saya diterima atau tidak di negara itu. Tujuan tambahan juga menjual karya kan untuk biaya hidup," sebut dia lantas tersenyum.
Dalam beberapa waktu terakhir, Andi aktif melukis digital, selain masih pula berkarya dengan melukis manual. Menggunakan bantuan teknologi, diakuinya juga tak kalah rumit dalam menghasilkan karya. "Bisa untuk menghasilkan karya abstrak yang juga dinamis. Di luar negeri, sudah banyak yang mengaplikasikan cara melukis digital. Di Indonesia, masih belum terlalu banyak yang menerima," imbuh Andi.
Andi mengungkapkan, dalam 39 tahun perjalanan karier melukisnya, dia mendapatkan beragam permintaan. Seperti beberapa tahun terakhir, lukisan ilustrasi atau abstraksi memdominasi karyanya. Sebab, banyak yang meminta dia untuk melukis ilustrasi dari sebuah karya seni lain seperti puisi, novel dan ilustrasi untuk teatrikal. "Seperti Agustus tahun ini, ilustrasi tentang cinta tanah air," ungkapnya, sembari menunjukkan beberapa karya yang dimaksud.
Dalam perjalanan karyanya, selain Hendra Gunawan, Picaso dan Ahmad Sadali merupakan sumber inspirasinya. Alhasil, dia pun lebih fleksibel dengan berbagai karya yang telah dia hasilkan sejauh ini, termasuk menggapai mimpinya untuk menggelar pameran tunggal dari beragan karya terbaiknya.(stenly rehardson/ary)