Awalnya Ingin Postur Lebih Tinggi, Fokus Renang Gaya Kupu-Kupu

Perenang Buyung Tagar bersama pelatihnya, Taufik Priyandoko Pelatih Club Renang Fitbody Aquagym

Buyung Tagar, Atlet Renang Mahasiswa, Peraih Tujuh Nominasi
Saat kecil Buyung Tagar, merasa memiliki tubuh yang tidak tinggi. Saat itu keinginan untuk belajar renang sangat besar, agar kelak dewasa memiliki postur lebih tinggi seperti teman-teman yang lainnya. Nyatanya, tak hanya mendapat postur tinggi, Buyung malah menorehkan berbagai prestasi dari kemampuan renangnya.

Berawal dari alasan ingin tinggi tadi, Buyung, panggilan akrab pria asal Malang ini serius dalam cabang renang. Berbagai prestasi olahraga renang nasional serta regional ia torehkan.
Perenang yang pada 27 September nanti berumur 22 tahun ini, baru saja memenangkan dua kejuaraan nasional. Pada Juni lalu, ia memenangkan Kejurda (Kejuaraan Daerah) renang di Surabaya, dengan meraih dua emas dan satu perak pada seri gaya kupu-kupu 50 meter dan 100 meter Kupu-kupu.
Selain Kejurda, Buyung juga meraih dua emas dan satu perak dalam Kejurnas (Kejuaraan Nasional) Selam di Surabaya dalam seri 50 meter Bifins dan 100 meter Bifins gaya bebas.
“Waktu kecil saya merasa sangat pendek dari ukuran normal teman-teman saya yang lainnya. Saat itu, ayah menyarankan saya agar latihan renang saja. Kemudian, saya mulai mengikuti latihan-latihan renang. Lama-lama saya makin menekuninya,” papar pria kelahiran 27 September 1993 ini.
Buyung memulai kompetisi renang pertama Buyung adalah kompetisi renang se-Malang raya yang ia ikuti saat duduk di bangku SD Kelas 5. Kompetisi pertamanya tersebut memberikannya dorongan lebih kuat, untuk berlatih lebih rutin dan lebih keras lagi.
Ia juga memenangkan kompetisi renang tingkat mahasiswa se-Malang Raya yang diadakan Universitas Ma Chung pada Februari lalu. Buyung meraih enam medali emas dan dua medali perak sekaligus.
“Saat itu saya mengikuti delapan nominasi sekaligus, yang saya menangkan adalah tujuh nominasi yaitu 50 meter bebas, 25 meter bebas, 50 meter bebas, 25 meter kupu, 25 meter punggung, 25 meter dada, dan 100 meter bebas,” papar pria yang telah mengantongi 10 medali emas bidang cabang olahraga renang ini.
Selain itu, dalam kompetisi yang diikuti 16 perenang se-Malang Raya ini, Buyung mendapatkan penghargaan perenang terbaik mahasiswa se-Malang Raya.
Untuk mendapatkan bentuk tubuh yang fit dan sehat agar dapat memenangkan seluruh kompetisi yang ia ikuti, pria yang merupakan anak tunggal ini, mengaku berlatih tiap hari 2x padi dan sore. Pada pagi hari di Kostrad Malang dan sore hari di Stadion Gajayana.
Selain latihan fisik, menjaga kondisi dan pola makanan merupakan hal yang sangat penting bagi perenang. Buyung mengungkapkan, hal tersulit dalam mengontrol makanan adalah diberlakukannya aturan tidak boleh memakan donat, makanan favorit Buyung.
“Ya, saat akan mengikuti kejuaraan, pola makanan benar-benar diatur ketat oleh pelatih. Tidak boleh ada kelebihan kalori dalam asupan makanan. Nah, kebetulan saya sangat suka makan donat. Tetapi dalam satu gigitan donat yang masuk, berpuluh kilo kalori akan turut masuk pula dalam tubuh. Ya sudah, ngenes deh,” ujarnya sambil tertawa.
Buyung menambahkan, dalam usaha memenuhi standar perenang yang berkualifikasi tidak terlepas dari peran sang pelatih. Taufik Priyandoko, merupakan sosok pelatih yang sangat dibanggakannya, yang membawanya pada prestasi-prestasi yang dapat ia banggakan sampai saat ini.
“Pelatih saya memang sangat tegas. Pada awalnya saya sempat shock, karna latihan yang begitu keras pagi ke siang ke sore. Tetapi, puji Tuhan selama enam tahun beliau melatih saya dari nol hingga bisa seperti sekarang. Tanpa Pak Taufik saya tidak bisa sampai seperti ini,” beber pria semester V, D-III Bahasa Inggris Unmer Malang ini.
Buyung memiliki spesialisasi gaya renang tersendiri, yaitu kupu-kupu. Hal ini dilatarbelakangi oleh kurangnya minat perenang pada gaya serangga cantik tersebut. Ia berujar, kesempatan memenangkan emas sangat besar pada seri kupu-kupu karena tidak banyak perenang menekuni gaya tersebut.
Ia mengungkapkan, gaya kupu-kupu bagi banyak orang terbilang lebih sulit dari yang lainnya. Namun, Buyung didampingi pelatih tetap berada pada spesialisasi gaya kupu-kupu dan tetap menekankan pada gaya tersebut saat latihan serta kompetisi.
“Memang gaya kupu-kupu lebih berat dari gaya yang lainnya, tetapi kata pelatih otot lengan saya kuat maka untuk mempelajari gaya tersulit ini saya diyakinkan untuk bisa. Dan alhasil, saya bisa dan tidak sesulit apa yang saya bayangkan. Malah, gaya ini merupakan gaya renang favorit bagi saya,” terangnya dengan bersemangat.
Perihal prestasi dalam kelas, Buyung mengaku tetap mengejar prestasi akademik dalam perkuliahan yang masih ia jalani tersebut. Pria lulusan SMK Karangploso ini mengaku tidak pernah merasa sulit dalam membagi waktu antara perkuliahan dan kompetisi renang yang ia ikuti selama ini.
Di bidang, akademisi, Buyung juga baru saja mendapat penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi. Baginya  pendidikan akademis juga hal utama yang masih ia kejar. Dalam mendalami kuliah bahasa inggrisnya, dalam sela-sela latihan ia juga turut memantau kegiatan perkuliahannya.
“Untungnya guru dan teman kampus sangat perhatian. Mereka selalu membantu saya dan member informasi-informasi dalam kampus sehingga saya tidak tertinggal kuliah hanya demi mengikuti kompetisi. Jadi, sampai saat ini kuliah tetap lancar,” paparnya saat ditemui di lobby kampusnya, Senin (24/8/15).
Saat ini Buyung tengah mempersiapkan fisik dan mental dalam mengikuti kompetisi renang liga mahasiswa yang akan diselenggarakan di Jogjakarta pada September mendatang. Ia akan hadir mewakili kampus Unmer dalam kompetisi renang seri 50 Kupu dan 100 kupu.
Ke depan, Buyung berharap tetap menekuni bidang renang dan berlatih terus menerus hingga dapat membawa prestasi yang lebih membanggakan lagi. “Selagi masih muda, lakukan hal-hal yang positif. Bekerja keras di masa muda agar tua nanti menikmati hasilnya. Disiplinkan diri, niscaya cita-cita akan terwujud, apa pun itu,” pesan Buyung yang beralamat di jalan Raya Singosari ini.(Fransisca Angelina/ary)