Dipasarkan Sampai Malaysia, Kini Bajakan Sekarung Rp 500 Ribu

Bambang Priadi alias Erost BP komikus Islami berdiskusi dengan Prof Jan Van Der Putten peneliti komik Indonesia, di Gedung DKM beberapa waktu lalu.

Membaca Lagi Masa Kejayaan Komik Islami di Malang

Malang pernah menjadi pusat pembuatan komik bernuansa Islam di Indonesia. Mulai kisah nabi-nabi, sampai cerita surga dan neraka. Komik Islami, dibaca tak hanya sebatas hiburan belaka, tapi juga dijadikan referensi untuk mengetahui nilai-nilai keislaman pada anak-anak. Distribusinya, bahkan tembus pasar internasional, ini menarik minat Prof Jan Van Der Putten, peneliti komik Indonesia.

Masa keemasan para komikus asal Malang ini, terjadi sekitar tahun 1980-an. Selama kurang lebih satu dekade, Malang menjadi sentra pembuatan komik Islami. Sedikitnya, ada 10 komikus Islami yang  menjadi pengkarya komik-komik Islam saat itu. Setelah komik 32 halaman itu selesai dibuat, langsung dikirim ke salah satu penerbitan di Surabaya, dan distribusikan ke toko-toko buku yang tersebar di penjuru Indonesia, bahkan dunia.
Sekali kirim, komik itu bisa dicetak sebanyak 400 ribu eksemplar. Dipasarkan dengan harga Rp 500 sampai Rp 1.000. Dibeli oleh kebanyakan anak-anak, sampai guru-guru sekolah, maupun guru ngaji. Menjadi bahan bacaan ringan bagi orang tua, sampai referensi para guru untuk diajarkan ke murid-muridnya.
Bambang Priadi alias Erost BP (nama pena, Red), merupakan saksi sekaligus lakon sejarah masa keemasan komikus Islam asal Malang.  Komikus ini melahirkan hampir 40 judul komik Islami saat itu, seperti cerita tentang Nabi Muhammad beserta para sahabatnya, Nabi Khidr, sampai komik berjudul Surga dan Neraka. Bambang lah, satu dari sepuluh komikus Islami yang berperan  menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui komik.
Malang Post menemui Bambang di markas Dewan Kesenian Malang (DKM) Jl Majapahit, Klojen, Kota Malang, beberapa hari lalu. Ia tengah berbincang-bincang dengan seorang ilmuwan sastra asal Jerman, Prof Jan Van Der Putten. Posisi Bambang di sana sebagai sumber informasi mengenai komik Islami di Malang, sementara Jan (baca: Ian) menjadi peneliti keberadaan komik Islami asal Malang, tepatnya Kepanjen.
Jan adalah seorang dosen sastra di Hamburg University, Jerman. Jan mulai sering ke Indonesia sejak 1979. Ia berkebangsaan Jerman, namun istrinya merupakan orang Medan.. Ia bersama anak tunggalnya, tinggal di Jerman. Kedatangannya ke Malang bertujuan meneliti keberadaan komik Islami yang konon para komikusnya berada di Malang. Dari perbincangan mereka berdua, banyak hal menarik dari keberadaan komik Islam di Malang terungkap.
Mulai dari karir Bambang di dunia komik Islam. Ia yang saat itu mengajak sejumlah teman senimannya, ditawari untuk jadi komikus Islami oleh salah satu penerbit di Surabaya. Pengalamannya sebagai komikus, serta keadaan finansialnya saat itu, membuat ia tertarik dengan tawaran tersebut. Tawaran itu diterima, diajak pula teman-temannya untuk terlibat ke dalam proyek tersebut.
Pasca dijalankan, ia menghadapi sebuah tantangan. Menggambar komik Islam, dirasa berbeda dengan membuat komik tema lain. Sebab, komik Islami harus didasari dengan referensi yang kuat agar tidak ditentang khalayak banyak. Ini mengharuskan ia untuk belajar, mencari, menambah dan memperkuat wawasannya.
Selama tiga sampai empat hari, rata-rata ia habiskan untuk membuat satu judul. Paling lama, ia bisa menghabiskan waktu selama satu minggu untuk menyelesaikan satu judul. Setiap judul, dibeli oleh penerbit sekitar Rp 50 ribu. Bambang sendiri, pernah membuat komik untuk dua penerbit, yakni penerbit Tamrin dan Balai Buku.
"Dua penerbit itu berada di Surabaya, saat itu, menjadi pusat toko buku religi di Indonesia,"  kata Bambang kepada Malang Post.
Bambang mengaku tak tahu, komik karya tangannya itu tersebar sampai ke mana. Meski begitu, yang ia tahu satu judul komik sekali cetak bisa 400 ribu eksemplar sekaligus. Baginya, itu jumlah yang sangat fantastis. "Bahkan, jumlah pencetakan itu lebih banyak dari pencetakan komik sekarang pada umumnya," kata Jan.
"Tapi saya tidak tahu, ke mana saja komik itu disebar," lanjut Bambang. Sambil menunjukkan komiknya, Bambang kembali menanggapi. "Paling tidak, saya pernah diceritakan oleh kenalan guru ngaji. Ia (guru ngaji) menggunakan komik saya untuk menyampaikan pesan keislaman kepada murid-muridnya," imbuhnya.
Setelah berucap begitu, Bambang melirik Jan, seolah mengisyaratkan kalau Jan tahu distribusi komik Bambang sampai ke mana.  Bambang juga tak tahu jika komiknya muncul dalam versi lain, diduga ada yang edisi bajakan. Ia tidak pernah mendapat informasi dari pihak penerbit.
"Ya, memang. Karena di Surabaya itu penerbitnya selalu menerbitkan dalam jumlah besar. Banyak distributor, ambil buku-buku religi dari sana. Karena saat itu sistem yang gunakan beli lepas, jadi saya tidak tahu sudah sampai ke mana saja. Ternyata kata pak Jan, sudah sampai Malaysia dan Singapura," jelas Bambang.
Terakhir, saat ia menemui pemilik penerbitan, si pemilik penerbitan sudah tidak meneruskan usaha penerbitannya dan beralih menjadi pengusaha rokok. Meski begitu, ia tidak mau menduga-duga, apakah komik itu bajakan atau bukan, yang pasti ia sudah tidak membuat komik Islami.
Bambang berkarir sebagai komikus Islami hanya sampai 1985. Setelah itu, ia beralih menjadi seniman lukis dan kaligrafi. Baru beberapa tahun belakangan ini, ia kembali menggeluti dunia komik. Namun, orientasinya sekarang bukan komersil, melainkan kepuasan batin.
Nah, mengenai laju komik milik Bambang itu, malah diketahui dari Prof Jan Van Der Putten. Jan pernah menemui beberapa komik Bambang di banyak daerah. Tak hanya di Indonesia, bahkan Jan menemui komik Bambang di  Malaysia dan Singapura.
"Awal saya menemukan komik pak Bambang, waktu saya berkunjung ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Saya melihat-melihat di sana dan menemukan satu komik pak Bambang," jelas Jan menjawab lirikan Bambang.
"Saya temukan lagi komik itu di Sulawesi, Bima, sampai Tanjung Pinang. Waktu berkunjung ke Malaysia dan Singapura, ternyata saya temukan juga. Kalau begitu, artinya sangat luas," imbuhnya.
Terkait dugaan bahwa komik Bambang dibajak, Jan mengakui pernah melihat komik yang serupa tapi bukan karya asli Bambang. "Sekitar 2010 kemarin saya menemukan judul komik pak Bambang, tapi covernya berbeda. Judul dan isinya sama, saya yakin sekali itu komik pak Bambang," lanjutnya.
Apa artinya ada komik karya Bambang yang edisi bajakan sekarang masih beredar? Jan mengangkat bahunya. "Ya, tidak tahu juga, yang jelas covernya berbeda," ungkap Jan.
Jan mengaku akan terus melanjutkan penelitiannya tentang komik Islami di Malang. Dalam waktu dekat ini, ia bakal sering berkunjung ke Malang, akan menemui sekitar 15-20 komikus lain asal Kepanjen, Malang. "Saya ingin lihat, apa latar belakang komik Islam di Malang muncul, tujuan, serta bagaimana keberadaannya saat itu. Penelitian ini tak akan berhenti," pungkas Jan.
Pertanyaan mengenai komik Bambang yang dibajak, langsung terjawab di Gedung DKM. Ki Jembrong, perupa asal Tegal yang sedari tadi berada satu ruangan dengan Jan dan Bambang tiba-tiba berkata kalau ia baru saja menemukan komik karya Bambang.
"Jadi pak, saya belum lama ini lihat komik bapak (Bambang, Red) dijual. Waktu itu, saya sedang jalan-jalan di Pasar Malam (Rombengan Malam atau Roma) dan saya lihat buku bapak dijejer di antara buku-buku bekas lainnya. Saya tanya ke tukangnya, ini dapat darimana? Tukangnya jawab, kalau ia dapat dari Pasar Senen (Jakarta). Harganya, Rp 500 ribu satu karung!" ujarnya heboh.(muhamad erza wansyah/ary)