H Abdul Fatah, Mantan Preman dan Aktivis yang Kini Insyaf

Siapa yang tidak kenal dengan sosok H Abdul Fatah. Mantan aktivis ini, kerap memimpin aksi unjukrasa menyoroti kinerja dan kebijakan pemerintah yang dianggap bertentangan dengan harapan masyarakat. Saat itu, ia tergabung dalam aktivis PMII. Sekarang ia menjadi pejabat penyelenggara undang-undang, sebagai Komisioner Panwaslih Kabupaten Malang, yang harus siap didemo dan bahkan digugat.
 
H Abdul Fatah, adalah anggota Komisioner Panwaslih Kabupaten Malang, sejak tahun 2014 lalu. Ia mendapat tugas sebagai Divisi SDM dan Organisasi. Sebelum menjadi anggota Panwaslih Kabupaten Malang, Fatah, panggilan akrabnya ini ternyata sosok pria yang pernah ditakuti oleh orang.
Saat masih muda, pada tahun 1998 – 2000 lalu, Fatah adalah seorang preman, di tempat tinggalnya Sampang Madura. Kesehariannya, selain membuat masalah, ia juga kerap berkelahi. Namun dengan perkembangan zaman, ia insyaf dan memutuskan untuk hijrah ke Malang pada tahun 2000. Ia menjadi kepala geng ‘LIAR’ (Lelaki Insyaf akan Rayuan Setan).
“Saya ini mantan preman. Dulu saat di Madura, saya pernah menjadi kepala geng,” kata pria kelahiran 2 Maret 1980 ini.
Di Malang, Fatah tinggal di Desa Kuwolu, Kecamatan Bululawang. Ia mulai memikirkan masa depannya. Selain menimba ilmu di perguruan tinggi, ia juga mencari pengalaman hidup. Mulai dari menjadi aktivis PMII, yang selalu melakukan aksi unjukrasa menyoroti kinerja dan kebijakan pemerintah yang dianggap bertentangan dengan harapan masyarakat.
Sampai ia menjadi Ketua Lembaga Kajian Hukum GP Ansor Kabupaten Malang, sampai sekarang ini. Sebelum mewujudkan cita-citanya menjadi pengabdi pada Negara, seperti saat ini sebagai anggota Komisioner Panwaslih Kabupaten Malang, Fatah beberapa kali terpilih sebagai Ketua PPK (Panitia Pemilih Kecamatan) di Kecamatan Bululawang.
Mulai dari Ketua PPK saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur, Pemilihan Legislative (Pileg) sampai Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2014 lalu. Berbekal pengalaman itulah, pada saat pemilihan anggota Panwaslih Kabupaten Malang pada 2014 lalu, Fatah mencoba keberuntungan untuk mengabdi kepada negara.
Bersama 15 calon anggota Panwaslih Kabupaten Malang, saat itu ia mengikuti serangkaian tes. Mulai dari tes materi untuk dia diambil 12 besar, kemudian mengikuti fit and proper test oleh tim seleksi, untuk diambil 6 besar. Dan kembali mengikuti fit and proper tes oleh Bawaslu Provinsi Jatim untuk diambil 3 besar sebagai anggota Panwaslih Kabupaten Malang.
“Usaha untuk menjadi anggota Panwaslih Kabupaten Malang itu, ternyata berhasil. Saya bersama M Wahyudi (Ketua Panwaslih Kabupaten Malang) dan George da Silva (anggota Komisioner) terpilih,” ujarnya.
Ketika terpilih sebagai anggota Komisioner Panwaslih Kabupaten Malang, Fatah langsung bekerja sebagai penyelenggara undang-undang. Ia mengawasi setiap tahapan penyelenggaraan pemilu, mulai dari tingkat bawah sampai atas. Selama menjadi pengawas, ia dituntut harus bersikap adil, tidak boleh mengeluarkan kebijakan yang mendiskriminasi calon.
Dua metode sebagai anggota Panwaslih Kabupaten Malang, yaitu preventif dan reprensif harus dipegang betul. Preventif adalah melakukan suatu tindakan atau proses pencegahan dini, untuk meminimalisir adanya pelanggaran. Sedangkan reprensif adalah melakukan penindakan apabila tindakan pelanggaran sudah dilakukan oleh siapapun.
“Saya menjadi anggota Panwaslih Kabupaten Malang, ini adalah untuk mencari pengalaman di bidang kepemiluan. Ingin mengawali proses demokrasi yang profesional. Sekaligus untuk mengabdi pada negara dan meningkatkan kualitas pemilu,” tuturnya.
Apakah ada pengalaman menari selama menjadi anggota Panwaslih ? Fatah, mengatakan bahwa banyak intervensi dari beberapa instansi terkait yang memiliki kepeningan.
“Tetapi kami di Panwaslih mampu mengantisipasinya dengan baik. Karena sejak menjadi anggota Panwaslih, saya berubah total. Dulu yang selalu menyoroti kebijakan pemerintah, namun sekarang sebagai penyelenggara undang-undang yang harus siap didemo dan digugat,” paparnya.(agung priyo/ary)