Serunya Diskusi Dewa Ruci Lewat Apa Kabar Komik Malang

Ngaji Wayang Teguh berlangsung sejak 29 Agustus hingga 31 Agustus 2015 di Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), kemarin. Berbagai kalangan mengapresiasi kegiatan ini. Siswa SMA, warga Eropa, Jepang hingga kalangan budayawan dan akademisi.

Salah satu apresiasidiwujudkan lewat diskusi “Apa Kabar Komik Malang” yang membincang Dewa Ruci. Ya, kisah Dewa Ruci, masih sangat menarik untuk diperbincangkan. Diskusi itu digelar di pelataran DKM Minggu (30/8) lalu berlangsung hangat. Para budayawan yang hadir bersemangat membincang tokoh komik karya komikus Malang alm Teguh Santosa. Cerita bergambar yang dituangkan Teguh memuaskan hasrat pembaca. Lantas siapakah sebenarnya Dewa Ruci?
Dwi Cahyono, sejarawan dari Universitas Negeri Malang memiliki tafsiran tentang Dewa Ruci. Dewa Ruci adalah langkah awal untuk mengabarkan spiritualitas transformatif yang post-religion. Spiritualitas yang melampaui agama dengan menggunakan kearifan, kesederhanaan, keagungan dan perdamaian tradisi lokal. Hal itu memperkokoh agama untuk dapat “turun ke bumi” dan tidak melayang di atas langit belaka.
“Kisah Dewa Ruci menawarkan kepada kita sebagai sebuah bangsa untuk teguh berani menjadi orang-orang beragama dan sekaligus berbudaya lokal dengan bangga dan gembira,” tegasnya.
Dwi Cahyono menggambarkan Dewa Ruci sebagai perwujudan dari Bima. Bima adalah tokoh yang populer, karena kesaktiannya tak sekadar mampu meluluh lantakkan dunia. Bima juga mampu menyuburkan alam semesta. Bahkan, Bima sangat populer, itu sebabnya jejaknya pun masih dapat ditemui di beberapa daerah, terutama di Jawa Timur.
“Jejak Bima di Jawa Timur bisa ditemui di Tengger, Wilis, Penanggungan. Bima sangat populer,’’ katanya.
Dwi memang tidak sekadar berucap. Dia juga membawa beberapa buku pendukung, terkait temuannya soal Bima dan perannya, di budaya dan area agraris. Bahkan bisa dikatakan Bima adalah tokohnya para petani. “Bima membantu petani,’’ tambah Dwi.
 “Bima hadir di seni arca. Dari gambaran itu dia dikultuskan sebagai sosok  yang banyak dicintai para petani. Salah satu tokoh itu bisa dilihat di Puncak Semeru,’’ jelasnya.
Dewa Ruci atau Nawa Ruci tidak bisa dilepaskan dengan kehadiran Bima. Sosoknya yang tegas dan memiliki pendirian teguh, Bima hadir di daerah pinggiran. Popularitas cerita Bima, menghadirkan sebuah budaya pinggiran yang apik dan suci.
“Cerita Bima di Nawaruci dapat dilihat di Candi Sukuh. Termasuk di Gunung Lawu, Mitos Bima dengan anaknya. Cerita Bima sangat berkembang, relief Bima ada di Dewaruci, dan tidak hanya bisa ditemukan di Candi Sukuh, tapi juga di Kendali Sodo,’’bebernya.
Diskusi tentang Apa Kabar Komik Malang makin gayeng dengan hadirnya Profesor Djoko Saryono. Malam itu, Djoko memang tidak mengulas soal komik Dewa Ruci. Sebaliknya, dia bercerita tentang kisah wayang dalam komik. Bahkan, dia juga menceritakan pengalamannya saat kecil, di mana menemukan gambar tokoh pewayangan itu pada permainan umbulan.  
“Saya kecil tahun 1970-an. Media saat itu tidak sebanyak sekarang. Permainan -permainan saat itu juga sangat minim. Tahun 70-an permainan paling populer adalah umbulan. Umbulan itu seni visual, komik wayang. Dan saya mengenal wayang dari umbulan,’’ katanya.
Kepada peserta diskusi, Djoko mengatakan cerita bergambar yang ada di umbulan, sebetulnya bisa memberikan efek kecerdasan pada anak-anak. Karena gambar-gambar yang tertera itu dapat merangsang otak kanan. Terkait dengan komik yang semakin surut, itu dikatakan Djoko karena kurangnya kajian tentang komik.
Djoko mengajak komikus untuk lebih aktif dalam penyebaran komik. Bahkan, jika memungkinkan, komik ciptaan komikus, termasuk di perpustaan kota dan perpustakaan kampus.
Selain dihadiri budayawan asal Malang, diskusi Apa Kabar Komik Malang? ini juga dihadiri oleh Prof Jan van der Putten, dari Jerman. Pria ini terlihat asyik dengan bahasan komik yang didiskusikan. Bahkan, dia juga sempat memberikan masukan terkait perkembangan komik.
Sementara Dhany Valiandra, putra dari almarhum komikus Teguh Santosa mengatakan sangat berterima kasih kepada peserta diskusi. Karena diskusi ini sangat bermanfaat. “Ngaji komik wayang Teguh, yang digelar di Dewan Kesenian Malang (DKM) sejak Sabtu (29/8) lalu banyak memberikan masukan. Karena di sini tidak sekadar komik karya bapak saja yang dibahas, tapi juga perkembangan komik di Malang,’’ urainya.
Dhany mengaku sangat puas. Karena kegiatan Ngaji Wayang Teguh sendiri merupakan salah satu amanah dari Teguh Santosa. “Bapak pernah berpesan, agar saya tidak berhenti, tapi meneruskan apa yang menjadi cita-citanya. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan karya ayah karena wasiat almarhum teruskan..teruskan,’’ tandasnya.
Tanggapan masyarakat juga luar biasa. Yang lebih membanggakan lagi siswa sekolah memasukkan pameran Ngaji Wayang Teguh sebagai salah satu jam pelajaran seni budaya. Siswa SMAN 3 Malang mengirimkan banyak siswa untuk mengapresiasi pameran.
“Kami mewakili keluarga besar Komikus Teguh Santosa.menghaturkan terima kasih kepada Dewan Kesenian Malang yang telah menjadi mitra Ngaji Wayang Teguh.Juga kepada masyarakat seni, pelaku seni pewayangan di Kota.Malang.Juga komikus di Malang Raya.Masyarakat umum,dunia pendidikan dan kawan kawan pers. Serta semua komunitas pendukung Ngaji Wayang Teguh,” pesannya.
Kata Dhany, acara ini masih preview menuju Pameran Besar Seni Komik Teguh Santosa, sekaligus even Teguh Santosa komik award. Di even Teguh Santosa Komik Award akan melibatkan para komikus Malang yang berlaga di Marvel Comic Kanada dan karya karyanya. Semuanya akan diadakan di Malang.
Sementara itua Johny Suhermanto, Sekjen Dewan Kesenian Malang mengakui bahwa tanggapan masyarakat lebih dari ekspektasi yang dibayangkan. Ada beberapa kelompok masyarakat, pegiat seni dan akademisi, ternyata bahwa mereka memiliki harapan yang besar terhadap kegiatan semacam Ngaji Wayang Teguh.
“Ya ini karena Ngaji Wayang Teguh berhasil menghadirkan sebentuk kebersamaan dari berbagai disiplin seni,” celetuknya.
Masih menurut Johny Suhermanto, komik Malang, komik Indonesia dapat dikatakan memiliki kesamaan yaitu bahwa wadah untuk berekspresi ternyata kurang tersedia, kalau tidak mau dikatakan tidak tersedia.Sehingga kenapa komikus Indonesia lebih memilih mempublish karyanya ke luar negeri seperti Admira Wijaya, ilustrator komik Hercules.
“Ada kendala kehendak politik dari pemerintah yang kurang memberikan manajemen dan pengelolaan yang baik.Yang memungkinkan tumbuh kembangnya komik termasuk di Malang,” kritiknya. (ira ravika/bagus ary wicaksono)