Dipuji Profesor Musik Hingga Musisi Kelas Dunia di Singapura

Circus Duo Luhung Swantara-Octavianus Triangga dan Melati Nur Fajri, saat berada di Kuala Lumpur Museum Music.

Melati Nur Fajri Merekam Circus Duo ‘Ngamen’ di Dua Negara

Film maker asli Malang, Melati Nur Fajri merekam aksi Circus Duo sebagai karya dokumenter independen di Singapura dan Malaysia. Grup Circus Duo beranggotakan Luhunk Swantara dan Octavianus Triangga. Berikut, cerita Melati yang dihubungi Malang Post via Whatsapp, langsung dari Singapura.
Kisah ini istimewa, Circus Duo menggelar proyek independen, music study tour di dua negara Asia Tenggara tersebut. Dengan biaya sendiri, dua musisi asli Malang ini ‘mengamen’ atau busking street genre instrumental akustiknya sejak 31 Agustus lalu.
Nama Circus Duo tidak begitu familiar untuk warga Malang. Tapi, coba saja tanyai para musisi, khususnya anak-anak Jazz. Pasti, mereka tahu siapa Circus Duo. Luhunk “Plankton” Swantara dan Octavianus “Kuro” Triangga, adalah dua musisi klasik yang berduet. Beberapa videonya nangkring di Youtube.
Luhunk memainkan gitar dengan fingerstyle. Sedangkan, Kuro menggesek cello. Lagu rock Bring Me To Life milik Evanescence disulap jadi akustik. Mereka juga mahir memainkan lagu ala orkestra, seperti One Summer’s Day OST Spirited Away. Mereka masih muda, usianya masih kepala dua.
Namun, mereka tak gentar buat proyek ambisius ini. Saat di Malang, mereka dikenal sebagai pengamen berteknik tinggi. Terinspirasi untuk busking street, mereka berdua ‘mengamen’ di luar negeri. Yakni jalanan Kuala Lumpur dan Singapura. Demi memperkenalkan Malang dan Indonesia, Circus Duo nekat berangkat dengan biaya sendiri.
Demi kesuksesan proyek independen ini, Circus Duo ditemani Melati Nur Fajri. Dia pemain violin. Tapi, namanya lebih dikenal sebagai film maker Malang. Karyanya berjudul Semesta, di bawah bendera Anak Singa Films. Melati saat ini sedang berada di Singapura. Dia merekam sendiri aksi Circus Duo dalam busking street jalanan ibukota Malaysia dan Singapura.
Pendek kata, Circus Duo mengamen di jalanan, lalu direkam gambarnya oleh Melati. Mereka bermain musik dan disaksikan langsung para pengguna jalan. Layaknya pengamen di luar negeri, mereka pamer kebolehan. Luhung terampil dalam gaya fingerstyle. Lima jarinya menari-nari, memetik gitar bergaya klasik.
Sedangkan, Kuro Cello lebih soulful. Bunyi cello Kuro berdecit-decit, mengiringi fingerstyle Luhung. Pengguna jalan terheran-heran. Siapa dua pengamen ini. Circus Duo tampil memukau.
“Alhamdulilah busking street kita lancar. Karena perform kita, banyak orang yang kagum. Kita dapat kesempatan langka bertemu orang-orang hebat,” kata Melati kepada Malang Post, kemarin.
Mereka berpindah-pindah tempat. Jamnya pun tak tentu. Kadang mereka mengamen di KLCC Malaysia. Seringkali juga perform di stasiun kereta yang sibuk. Namun, Circus Duo dan Melati selalu mengambil jam-jam sibuk. Mereka pilih golden times saat orang berlalu-lalang. Supaya, mereka mendapat penonton banyak.
Pujian dan tepuk tangan mengalir. Pengamen berteknik ini tak hanya membuat kagum orang biasa. Mereka menarik perhatian para musisi Singapura. Circus Duo mendapat sanjungan dari profesor musik akademi terkenal di Singapura, serta musisi instrumental kelas dunia. Andai mereka main buruk, tentu tidak mungkin menarik perhatian sang profesor dan musisi internasional.
Circus Duo dan Melati, menarik perhatian profesor musik dari NAFA (Nanyang Academy of Fine Arts) Singapura. Mereka diundang oleh Profesor Foo, untuk melihat latihan dari orkestra NAFA.
“Kita merasa beruntung bisa busking street di Singapura. Kita ketemu dengan profesor Foo dari NAFA, dan diundang ke ruang orkestra. Kita melihat sendiri Singapore Orchestra for Musical Rehearsal,” tandasnya.
Bahkan, mereka mengaku street perform di Singapura, juga menyedot perhatian Leslie Tan. Leslie adalah cellist internasional dari grup instrumental T’ang Quarter yang bermarkas di Singapura. Circus Duo merasa beruntung bisa berkenalan dan berbagi dengan musisi kelas dunia lewat busking street atau mengamen di jalanan ini.
“Kita bersyukur, project yang kita biayai sendiri ini, bisa menghasilkan sesuatu yang berharga. Kita bisa ketemu profesor musik dari salah satu akademi musik terbaik Asia, serta ketemu musisi cello internasional. Kita berbagi banyak hal dan kita mendapat sesuatu dari project ini,” sambung wanita yang juga sedang berproses untuk ISFF (Indonesia Short Film Festival) ini.
Melati menyebut, proyek independen ini bakal terus berlangsung hingga tanggal 7 September. Mereka akan terus berkeliling Singapura demi perkenalkan musik instrumen ala Circus Duo. Menurut wanita yang sedang bikin film Negeri Para Topeng ini, tak ada hambatan berarti saat tur musik di luar negeri.
Penerimaan komunitas musik Singapura dan Malaysia cenderung positif.
“Ini adalah tempat yang bagus untuk belajar dan berkembang. Busking ini juga jadi jalan untuk belajar musik secara nyata, dan bersosialisasi dengan komunitas musiknya. Walau beda budaya dan bahasa, musik jadi bahas universal untuk berkomunikasi dengan musisi kelas dunia di sini,” kata Melati.
Satu-satunya kendala buat proyek independen ini adalah biaya. “Kita biayai sendiri. Hambatannya biaya hidup yang tinggi di Singapura, utamanya. Mungkin kita jadi sering tirakat di sini, hahaha,” tutup Melati sembari ngakak penuh semangat.(fino yudistira/bagus ary wicaksono)