Dalang Juma’ali, Kreator Wayang Plastik Asli Kepanjen

Wayang suket (rumput) sudah tenar, wayang golek juga sudah termahsyur, apalagi wayang kulit yang eksistensinya sudah mendunia. Nah, Juma’ali, 47 tahun, malah memunculkan jenis wayang yang baru. Warga kelahiran Kepanjen ini berani menciptakan wayang plastik.

Juma’ali, yang sekarang berdomisili di Jakarta ini menciptakan kreasi baru yakni wayang plastik sejak tahun 2013. Wayang sederhana ini, terbuat dari botol plastik bekas air mineral. Namun mampu merepresentasikan makna cerita-cerita wayang yang luhur.
“Seni tidak harus mahal, wayang plastik murah sehingga bisa menjadi sarana belajar tak terbatas” alasan pria yang pernah menjabat sebagai kepala jurusan sebuah PTS di Surabaya ini kenapa dia memilih bahan plastik.
Karya itu, bisa dibentuk dari plastik bekas minuman mineral yang harga per kilonya cuma Rp 7.000. “Dengan hanya Rp 7.000 kita sudah bisa membuat 40 - 50 buah wayang plastik ukuran standar. Sehari  bisa jadi sampai finishing dua wayang,” ungkap pria yang pernah membuka usaha kuliner soto di Bekasi dan Jakarta ini.
Soal daya tahan, wayang plastik ini jagonya. Dia mencontohkan ketika suatu waktu dia harus “ndalang” di luar kota. Saat itu membawa puluhan wayang plastiknya, ketika itu dia harus naik bus. Karena sempitnya ruang, akhirnya wayang-wayangnya harus masuk bagasi dan terlipat-lipat.
“Meski pun terlipat dan tertumpuk barang-barang orang lain di bagasi bus, namun setelah saya panaskan dengan seterika kembali ke bentuk semula mas,” paparnya sambil terbahak.
Selain menjadi produsen wayang plastik, Juma’ali memang merangkap sebagai dalang. Dia juga aktif mengadakan workshop dan berkolaborasi dengan seniman setempat. Menurut dia cerita apa pun bisa dimainkan dengan media wayang plastik ini.
Soal mendalang, dia tidak memasang tarif, tergantung kemampuan ekonomi si penanggap.
Mengenai karakter wayang, Juma’ali memiliki kekayaan tokoh. Misalnya kelompok hewan, dia punya satu set, peralatan kerja, alat transportasi, bahkan figur dinosaurus. Hal ini dia lakukan untuk mempermudah ketika mendalang. “Dengan begini cerita apa saja saya InsyaAllah siap, anak-anak kecil juga suka dengan figur wayang dan cerita yang saya bawakan” tuturnya.
Pada 24 September 2014 lalu, dalam rangka Hari Tani, Juma’ali berhasil menelurkan karya wayang tani. Karya itu, dibuat bekerjasama dengan Aliansi Petani Indonesia (API). Bercerita tentang agrarian dan pertanian di Indonesia. Karya itu rencananya kembali ditampilkan pada peringatan Hari Tani Nasional di Banten yang rencananya dibuka oleh presiden Joko Widodo.
Bulan Oktober depan, dia juga terpilih sebagai pengisi acara sebuah pondok pesantren di Tasikmalaya. Juma’ali juga berhasil membuat wayang bio diversity, yang digelar Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) yang bekerjasama dengan Profauna Indonesia dan disponsori oleh Perum Jasa Tirta.
Bahkan pada kurun waktu tahun 1996 hingga tahun 2000 silam, dia dipercaya untuk berkolaborasi dengan kelompok seniman Belgia dalam sebuah pertunjukan teater boneka.
Malang Post menemui Juma’ali di gedung Dewan Kesenian Malang (DKM) Jalan Mojopahit Kota Malang beberapa waktu lalu. Saat itu, dia mengikuti Ngaji Wayang Teguh, Maestro Komikus Malang. Juma’ali adalah salah satu murid Teguh Santosa (almarhum) yang sempat menimba ilmu “sinau seni” di Kepanjen pada waktu itu.
 “Ya, Kepanjen itu gudangnya komikus tahun 70an. Sekarang saatnya dedikasi buat sang guru” ungkap pria yang lulus dari ISI Jogja tahun 1998 ini.
Harapan bapak satu putra ini, dengan murahnya bahan wayang plastik siapa pun bisa membelinya, sehingga bisa jadi sarana belajar dan bermain yang murah bagi anak-anak. “Jaman sekarang banyak orang individualis, apalagi gadget membuat generasi sekarang menjadi generasi ‘menunduk’. Dengan adanya wayang plastik ini bisa menjadi sarana membangun kolektifitas dan kesadaran sosial”.
Wayang ini, dibuat dengan membeli bahan dari pengepul botol pastik dihitung per kilogram. Setelah itu cuci dengan sabun cair pencuci piring. Lantas dipotong membentuk pola sesuai ide yang spontan.
Khusus untuk warna, Juma’ali mendatangkan cat transparan dari Perancis, titip pada teman lama seniman asal Indonesia yang sekarang di Perancis. Satu botol yang mirip kemasan kutek seharga Rp 70.000.
“Kalau cat biasa nggak tembus kalau disinari cahaya mas, kalau cat ini tembus, transparan tembus warnanya” paparnya.(dicky bisinglasi/ary)