Miliki Segudang Karya, Berjodoh dengan Korea Selatan

PRESTASI  dan kebanggaan tidak harus ditunjukkan dengan keberhasilan meraih titel juara atau piala. Hal itu berlaku bagi Winarto, salah satu penari sekaligus koreografer dari Kota Malang. Karyanya, diakui oleh luar negeri, termasuk di akhir Agustus lalu ketika berhasil menarik minat internasional dan menjadi sajian dalam ajang World Martial Arts Union (Womau) di Chungju, Korea Selatan.

Malang Post menemui Winarto, beberapa hari setelah kepulangannya dari Korea Selatan. Ditemani minuman ginseng hangat, dia mulai bercerita tentang perjalanan tepatnya 21-29 Agustus 2015 tersebut. Dia bersama tiga anak didiknya berhasil menjadi penari yang diundang oleh penyelenggara untuk mengisi acara di perlombaan beberapa olahraga beladiri itu.

“Tidak bertanding memang, namun yang membanggakan baginya adalah mewakili Indonesia. Kami mewakili Indonesia, menjadi pengisi acara di sela-sela padatnya kegiatan,” ujarnya, mengawali cerita.

Menurutnya, berbagai acara menampilkan tari-tarian tradisional Indonesia. Tak terkecuali tiga tari kreasinya, yakni Tari Citra Malang, Tari Monel Malang dan Tari Mban Edreg, yang merupakan andalan kreasinya. “Kami membawa tujuh macam tarian. Tari Cendrawasih Bali, Tari Jejer Banyuwangi, Tari Remo Bolet Jombang dan Tari Topeng Malang ditambah tari ciptaan saya,” terang pria yang akrab disapa Win Ekram ini.

Dia menyampaikan, kesempatan ke Korea ini adalah kali pertama baginya. Dulu, diakui dia sempat mendapatkan undangan. Akan tetapi karena kesibukannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemkot Batu, dia terpaksa tidak mengambil kesempatan. Pernah pula, beberapa negara lain mengundangnya. Kendala yang hampir sama, membuat langkahnya untuk tampil di luar negeri, batal.

“Pergi atau tampil di luar negeri banyak hal yang harus diperhitungkan. Tidak hanya membawa badan. Misalkan perlengkapan, biaya hingga ijin ke kantor. Itu yang membuat tantangan,” terang bapak tiga anak ini.

Pengalaman di Chungju, menurut dia sangatlah menjadi pelajaran, bagi dia serta tiga penari Kiki Devi, Karin Milda dan Stevani O. Menurutnya, apresiasi untuk sebuah karya seni, sangatlah besar. Ketika mereka tampil, tidak ada kondisi gaduh. Ribuan pasang mata, seketika melihat lenggak-lenggok tarian. Begitu selesai, aplaus meriah yang didapatkan.
Selain itu, fisik harus benar-benar disiapkan. Pasalnya, tidak hanya satu venue saja mereka tampil dalam sehari. Malahan, bisa tiga sampai empat lokasi. Bisa dibayangkan, bagaimana mempersiapkan kostum, beralih tempat hingga harus memukau panggung. “Tetapi itu serunya. Kami juga benar-benar melihat, ketika tampil di Korea, waktu harus diperhitungkan,” papar dia panjang lebar.

Pria berusia 43 tahun ini pun menyampaikan, pasca penampilannya ini, dia akan mendapatkan kembali kesempatan untuk mendampingi dan tampil di beberapa tarian, di Andong Mask Festival di Andong City, Korea Selatan akhir September ini. “Ada even festival tari topeng di sana. Kesempatan lagi menampilkan karya di luar negeri,” jelas dia.
Selain itu, dia mendapatkan kesempatan pula, dan masih berhubungan dengan orang Korea, untuk tampil di ajang Korea Solo International Performing Art Festival, bulan ini di Solo. Menurutnya, yang mengundang berbeda-beda, tetapi jodohnya seakan dengan warga Korea. “Entah, selalu Korea yang tertarik mengundang saya. Mungkin mereka selalu mengamati karya saya,” jelas pria berusia 43 tahun ini.

Dia pun bercerita akan satu karyanya, Tari Mban Edreg. Tari ini, mendapatkan apresiasi pula dari penyelenggara dan juga audiens yang menyaksikannya. Bernuansa satire namun disajikan dengan model humor, tari ini juga kerap menjadi andalannya show di beberapa kota di tanah air. Tari yang disajikan dengan penari yang bertopeng ini, bisa jadi merupakan master piece dari karyanya.

“Ceritanya seorang buruh atau batur berjuang di tengah hiruk pikuk perjuangannya. Tetapi, pembawaannya kocak,” papar orang tua dari Rama Sakti, Natia Laksmi, dan Puspa Nareswari itu.
Sarjana seni dari STIS Surakarta ini menyebutkan, total karyanya sudah mencapai 60 lebih. Menurut dia, itu juga menjadi bukti kecintaannya di dunia tari dan akan terus berlanjut, selama dia masih bisa bergerak. Sembari mengembangkan Malang Dance Studio miliknya, yang menjadi tempat dia belajar sekaligus mengajar tari. “Jika sudah banyak, tentu ingin menggelar show tari yang berisi karya terbaik,” sebut Win.
Terkait perjalanan kariernya, dia mengakui tidaklah gampang. Dia tidak serta merta tampil di papan atas sebagai penari dan koreografer yang mapan seperti sat ini. Menurut pengakuannya, ia meniti hobi dan profesi yang dicintai ini sejak masih belia dan sempat mendapatkan tantangan dari orang tuanya. Ya, semasa SD, dia harus mencuri waktu untuk berlatih tari. Jika ketahuan, bisa dipukuli oleh orang tuanya. Ketika lulus, dia disekolahkan di Madrasah Tsanawiyah yang mengharuskannya untuk berhenti total menari. “Berlanjut SMA, hasrat seniman saya salurkan melalui pantomime di ekstra Pramuka,” urainya.
Hingga akhirnya, dia bisa bebas setelah masa kuliah. Di situlah dia kian aktif menari dan berkarya dan mencapi prestasi maksimal. Sang ayah pun angkat jempol akan prestasinya. “Nah ketika sudah berkeluarga, ya makin bebas termasuk berkarya. Karya terus muncul sejak 2001, setelah lulus kuliah,” imbuh dia.
Di akhir ceritanya, dia mengakui akan terus mengembangkan apa yang dicintainya dan juga menjadi satu sumber penghasilan baginya. Ya, melalui tari itu pula, dia harus melengkapi berbagai kostum untuk tariannya, yang pada akhirnya kini disewa oleh banyak penari lain hingga instansi ketika akan menggelar even kesenian. Tidak hanya dari Malang, sebab penyewa bisa dari Pasuruan dan Probolinggo.
“Saya masih akan menari, terus berkarya, di Malang, Indonesia, atau mungkin kembali di tingkat internasional. Menari sudah menjadi jiwa saya yang akan berhenti ketika tidak bisa bergerak lagi,” pungkas dia. (stenly rehardson/nug)