Tertua di Malang, Lahirkan Insinyur dengan Karya Besar

JURUSAN Arsitektur ITN kini berusia 35 tahun. Perayaan Lustrum ke 7 Jurusan Arsitektur tertua di Malang tersebut sukses digelar, Sabtu (5/9/15) lalu. Rangkaian acaranya meliputi pameran karya mahasiswa dan alumni, temu alumni dan seminar nasional.

Sebuah sketsa dari bangunan pertokoan modern menghiasi halaman depan kantor jurusan Arsitektur ITN Malang, Sabtu lalu. Bangunan tersebut adalah proyek Malang Trade Centre (MTC), Blimbing Malang. Rupanya, proyek prestisius tersebut adalah salah satu karya dari alumnus ITN Malang angkatan 1986, Bonnyke. Tak hanya itu, sederet karya unik juga menghiasi halaman yang didesain menjadi ruang pameran itu. Insinyur ITN memang telah banyak menancapkan kuku di dunia arsitektur. Sebut saja pembangunan Kediri Water Park yang juga didesain alumni ITN, bangunan rektorat UB dan masih banyak lainnya. Kiprah mereka tak hanya di dalam negeri, bahkan hingga manca negara.
Salah satu alumni kebanggaan ITN Malang adalah Wali Kota Malang HM Anton. Abah Anton, begitu sapaan akrabnya, Sabtu lalu juga dihadirkan sebagai pembicara dalam seminar nasional bertema Kebijakan,Strategi dan Konsep Pembangunan Kota Berkelanjutan.
Abah Anton dengan penuh percaya diri membeberkan konsep penataan Kota Malang di bawah kepemimpinannya. Bahkan, ide pengembangan untuk 20 tahun ke depan disampaikan panjang lebar.
”Masterplan Kota Malang untuk 20 tahun ke depan sudah selesai disusun, dan bahkan diantaranya sudah dilaksanakan pembangunannya,” ungkapnya.
Abah Anton pun mempertontonkan video animasi masterplan yang menjadi andalan dalam kepemimpinannya hingga 2018 nanti. Proyek yang sudah diselesaikannya seperti alun-alun Malang. Revitalisasi juga akan segera dilakukan di sejumlah titik jalan seperti Jalan Kertanegara dengan ikon wisata Stasiun Kota Baru. Kawasan Ijen juga akan menjadi salah satu proyek besar 2016 nanti, dengan perencanaan taman sebagai kawasan heritage public space. Proyek ini akan dimulai pada bulan ini dengan lokasi garapan mulai dari Musem Brawijaya, Jalan Bandung dan Veteran.
”Khusus kawasan Pecinan kami juga akan menghadirkan sebuah tatanan istimewa khas Tiongkok, akan ada banyak warna merah di sana, gak ada warna hijau tidak apa-apa,” gurau Abah disambut tawa ratusan peserta seminar.
Selama pemutaran video tersebut, seluruh peserta memang terlihat antusias. Bahkan tak sedikit yang terlihat merekam video yang ditayangkan melalui dua layar lebar di sisi kanan kiri panggung. Video tersebut membeberkan detail masterplan Kota Malang dari berbagai sudut wilayah. Termasuk rencana Pemkot Malang untuk membuat jalan tembus Dinoyo-Kampus 2 ITN Karanglo.
”Kami sudah mengusulkan akan ada jembatan untuk memecah kemacetan arus Dinoyo, juga jalur alternatif Sudimoro menuju Kampus 2 ITN, setuju yaa,” ujar Abah bersemangat.
Ia menuturkan, sesungguhnya pemerintah telah memiliki masterplan tata kelola kota sudah sejak lama. Masterplan dalam pengelolaan kota tersebut akan dibawa ke beberapa bagian pemerintahan yang terkait agar nantinya dapat diberi masukan dan pendapat sehingga dapat terealisasikan.
Ia mengungkapkan, tiap tahun terdapat target untuk perealisasian konsep. Namun itu semua tergantung anggaran dan dukungan dari pihak ke-3, atau program CSR dari partner-partner stakeholder lainnya.
“Saya harap lebih banyak dukungan dari investor atau program CSR dalam mendukung tata kelola kota Malang dengan cepat,” tandas Anton.
Pemaparan Abah Anton ini pun mendapatkan respons positif dari pembicara yang dipasangkan dengannya dalam seminar tersebut. Diungkapkan Prof Ir Achmad Djunaedi, Guru Besar Perencanaan Wilayah Kota (PWK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pria yang juga pernah menjabat Kepala Bappeda DIY ini memberikan apresiasi kepada langkah besar yang dibuat oleh Kota Malang.
”Saya sangat senang mendengarkan paparan Abah Anton. Terus terang baru kali ini saya ke Malang dan melihat paparan itu saya jadi sangat tertarik untuk datang lagi,” ungkapnya.
Diakuinya, Malang sejak dulu sudah memiliki nama besar. Bahkan, ketika ia duduk di birokrat, dalam perencanaan strategis selalu memperhitungkan Kota Malang.
”Malang itu kompetitornya Jogyakarta, kota pariwisata dan pendidikan. Bahkan dulu ketika Jogya diterpa isu negatif, banyak pelajar yang memilih studi di Malang,” ucapnya.
Selain Abah Anton dan Achmad Djunaedi, seminar kemarin juga menghadirkan pembicara Prof Dr Ir Respati Wikantiyoso dari Unmer Malang. Suasana berlangsung gayeng dan hangat.
Tak hanya pembicara seminar yang luar biasa, para alumni hebat jurusan Arsitektur pun juga turut memeriahkan acara tersebut. Sebelum gelaran seminar, para alumni dari angkatan 80-an, 90-an, dan 2000-an membentuk tim formatur. Ada sembilan orang yang kompak mendeklarasikan semangat mereka untuk bisa berkontribusi pada jurusan.
”Banyak hal yang bisa disinergikan antara alumni dan jurusan, mulai dari informasi perkembangan di dunia kerja, kiprah alumni dan lainnya,” ungkap Zain Mohammad Yani.
Yani adalah lulusan Arsitektur ITN angkatan 1980. Ia sukses menjadi arsitek ternama yang tak hanya berkarya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Hadir juga dalam kesempatan tersebut Poppie Pratiwi, lulusan angkatan 1991. Ia sekarang aktif sebagai desainer interior dan menjabat Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jatim. Mereka adalah sedikit contoh dari ribuan alumni sukses ITN Malang yang memiliki kontribusi besar untuk negeri ini. Seperti harapan Rektor ITN Dr Ir Lalu Mulyadi MT, jurusan Arsitektur ITN harus mampu menciptakan lulusan yang memiliki karya unggul, profesional, peka terhadap nilai etika, ekologi budaya dan kearifan lokal. (lailatul rosida/red/ary)