Teruskan Misi Sang Ayah, Bawa Boso Walikan Sampai ke Taiwan dan Laiden

Dr Emalia Iragiliati Sukarni Lukman hadir dalam diskusi dan nonton film nendes kombet yang digelar Malang Post beberapa waktu lalu. Siapa sangka putri kelima pahlawan nasional Sukarni Kartodiwirjo, sudah membawa bahasa walikan sampai ke luar negeri. Bersama dua juniornya Nurenzia Yannuar SS MA dan Evynurul Laily Zen SS MA, ia membawa BWM sampai ke Tiongkok dan Belanda.

Sosok kepahlawanan sang ayah masih melekat erat di benak Emalia Iragiliati. Meski dulu ia sering ditinggal sang ayah karena sibuk mengurusi dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, namun tak berarti memori perjuangan sang ayah ia lupakan begitu saja. Ema, panggilan akrab wanita berkacamata ini, masih ingat betul bagaimana sosok si ayah yang tahun lalu mendapat gelar pahlawan nasional.
Peristiwa Rengasdengklok pastinya sudah menjadi catatan sejarah yang umum bagi masyarakat. Pada peristiwa yang terjadi menjelang kemerdekaan Indonesia ini, ada perdebatan sengit antara dua tokoh nasional yang mewakili kaum muda dan kaum tua. Mereka adalah Soekarno dan Sukarni Kartodiwirjo. Soekarno adalah pihak yang diculik, sedangkan Sukarni merupakan si penculik.
Dari "penculikan" yang diinisiasi Sukarni itu, akhirnya 17 Agustus 1945 menjadi hari penting bangsa Indonesia. Karena itu, kemerdekaan Indonesia ini jelas tidak lepas dari peran pria kelahiran Garum, Kabupaten Blitar, 14 Juli 1916 itu. Dengan semangat antikolonialismenya saat itu, ia mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Sukarni memang dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat tinggi untuk mengangkat nama baik Indonesia. Ia wafat pada 12 Februari 1981 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Kiprahnya di dunia politik Indonesia, mencapai puncak saat dirinya menjadi duta besar di Tiongkok dan Mongolia.
Baru pada November 2014 lalu, Presiden Joko Widodo alias Jokowi resmi memberi gelar pahlawan bagi Sukarni. Plakat diberikan langsung kepada sang ahli waris yang tidak lain adalah Ema. Kebanggaan bagi ia dan keluarga, mewakili sang ayah yang akhirnya mendapat gelar pahlawan berkat jasa-jasanya kepada negara.  
Wafatnya sang pahlawan Sukarni, tak menghentikan misi untuk terus membangkitkan nasionalisme bangsa Indonesia. Semangat itu, ia tularkan kepada anaknya, salah satunya Ema. Putri kelima Sukarni ini, sampai sekarang terus memberikan sumbangsih kepada bangsa Indonesia. Ema punya cara lain, ketika ayahnya berjuang melalui jalur politik, Ema memilih jalur akademis untuk menanamkan nasionalisme di tengah arus globalisasi yang begitu deras.
Ema kini menjadi dosen Sastra Inggris di Universitas Negeri Malang (UM). Ia aktif menulis buku, serta melakukan penelitian yang berkaitan dengan nasionalisme bangsa Indonesia. Salah satu penelitiannya, dia ambil dari kearifan lokal yang ada di Malang, yakni boso walikan Malang (BWM. Red). Bersama dengan dua juniornya, Nurenzia Yannuar SS MA dan Evynurul Laily Zen SS MA, ia membawa BWM sampai ke Tiongkok dan Belanda.
Penelitian ini mereka lakukan sekitar satu tahun lalu. Saat itu ia mendapat hibah bersaing Dikti (Dirjen Pendidikan Tinggi) untuk melakukan penelitian. Akhirnya, keunikan BWM membuat ia tertarik untuk menelitinya. Mulailah ia melakukan penelitian bersama dua juniornya itu. Masing-masing memiliki tupoksi sendiri dalam penelitian.
Ema yang juga ketua tim peneliti, mulai melakukan penelitian ini dengan menggali informasi di lapangan, mencari data dari berbagai narasumber, serta terus menambah literasi untuk memperkaya datanya. Bahkan, Ema sampai ke Hongkong, bertemu ke Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Malang yang ada di sana untuk melihat, apakah ada TKI yang masih memakai BWM.  Alhasil, ia tak temukan ada TKI yang  menggunakan BWM di Hongkong.
Wanita yang sejak 1985 menjadi pengajar di UM ini, meneliti BWM melalui perspektif sosiopragmatik linguistik. Ia mengkonsentrasikan penelitiannya mengenai fungsi BWM dalam meningkatkan nasionalisme masyarakat di Malang. Hasilnya, BWM benar-benar mampu meningkatkan nasionalisme.
"Ini karena penggunaan BWM menjadi suatu pengikat kekeluargaan antar masyarakat, penggunaan BWM membuat harga diri kita tidak ada perbedaan, baik miskin atau kaya, apa pun jabatannya, dengan menggunakan BWM kita merasa setara," imbuhnya.
Perempuan kelahiran Jogjakarta ini juga mengatakan, bahwa BWM sebagai ikon Malang, sampai saat ini tetap eksis. Di luar perkembangannya yang signifikan, manfaat BWM terus menjadi kebanggaan arek-arek Malang. Memang penggunaan BWM berasal dari akar rumput, namun saat ini sudah bergeser ke kelas menengah dan atas.
"Fungsinya terus tidak hilang, BWM ini masih memiliki fungsi untuk mengikat sesama penggunanya, meski tak semua mengerti, tapi BWM akan membuat si pemakai serta lawan bicara merasa dekat," jelasnya.
Semangat kebersamaan BWM inilah yang ia nilai akan menjadi benih-benih nasionalisme. BWM akan mengikat penggunanya bersama dengan lawan bicara yang berasal dari suku lain ke dalam sebuah ikatan kebersamaan. Toleransi pun timbul, nasionalisme muncul.  
"Riset ini kami presentasikan pada ICAL (Internasional Conference Austronesia Linguistic) ke-13 di Taipei (RRT) Juli 2015 lalu," imbuh wanita yang lahir delapan tahun setelah hari kemerdekaan Indonesia.
Responsnya positif, para peserta pada pertemuan itu tertarik dengan BWM. Mereka menilai BWM unik. Apalagi, BWM memiliki catatan sejarah panjang mengenai perjuangan para pahlawan di Indonesia. Tapi, memang diakui, saat pertemuan itu hanya satu pertanyaan yang tak bisa dijawab, yakni kenapa muncul Ebes Lanang dan Ebes Wedok. "Ya, hanya itu yang kami tak bisa jawab. Lainnya, respons peserta sangat bagus, mereka tertarik," jelasnya.
Hasil penelitian itu juga akan dipublikasikan ke jurnal internasional yang bisa dipastikan tak abal-abal kualitasnya. Hasil penelitian itu akan dipublis di jurnal internasional empat bulan mendatang.
Tak hanya itu, kini juniornya, Nurenzia Yannuar,  juga sedang melakukan riset lain di Leiden University, Belanda. Riset itu tidak lain juga mengenai BWM sebagai syarat kelulusannya dalam meraih gelar PhD. Sampai saat ini, mereka berdua masih sering berkomunikasi untuk membahas hal-hal ilmiah mengenai BWM. "Ternyata, di Leiden banyak referensi mengenai BWM," kata Ema.
Dengan begitu, artinya kini BWM tak hanya berkiprah di seputaran Malang atau Indonesia saja. Sekarang, BWM sudah dibawa sampai ke Tiongkok dan Belanda. Menurutnya, itu sangat membanggakan, karena bagi Ema sendiri, BWM merupakan bahasa rakyat yang mempersatukan,masyarakat, membuat mereka percaya satu sama lain dan sama-sama membuat bangga.
BWM tak membuat strata di tatanan masyarakat, tak ada kaum proletar dan tak ada kaum borjuis, yang ada cuma "kita" yang sama-sama merupakan bangsa Indonesia. "Ayah saya juga begitu, beliau adalah sosok yang sederhana, tak membedakan siapa yang kaum bangsawan dan siapa yang kaum proletar. Beliau adalah sosok yang sangat anti dengan konolialisme. Karena itu, saya bangga untuk membangkitkan nasionalisme masyarakat. Saya harap, hasil riset ini bisa dimanfaatkan oleh stakeholder di Malang," tegas Ema.
Ema sendiri mengaku masih memiliki dua Pekerjaan Rumah (PR) terkait riset mengenai BWM yang ia lakukan. Pencapaian kedua dan ketiga, saat ini masih sedang proses dan hasilnya akan dipublikasikan satu dan dua tahun ke depan.  Selain penelitian mengenai BWM, jiwa nasionalismenya juga ia salurkan melalui buku tentang sang ayah, Sukarni dan Actie Rengasdengklok.(muhamad erza wansyah/ary)