Lebih Dekat dengan Sutradara Film Nendes Kombet

Perjuangan dalam menciptakan sebuah karya tak mudah. Tidak terkecuali Sa’idah Fitriyah. Mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mampu menyelesaikan tugas akhirnya dengan membuat berjudul Nendes Kombet.  Putri pertama pasangan Samsul Arifin dan Zahrotul Mufidah ini puas, karena karya film mengangkat tema boso walikan Malangan tersebut mendapat apresiasi dari warga Malang.


Kepada Malang Post, gadis 23 tahun ini menceritakan suka duka membuat film tersebut. Bermula dari kewajiban dirinya untuk menyelesaikan tugas akhir tahun 2014 lalu. Saat itu dosen pembimbingnya yaitu Deddy Setyawan dan Lilik Kustanto memberikan pilihan kepada Sa’idah sebagai produk untuk tugas akhirnya. Yaitu Sa’idah bisa menciptakan karya musik atau karya film, untuk tugas akhirnya.
“Puas, saya tidak menyangka jika karya ini bisa diterima masyarakat, namun masih akan saya benahi lagi secara teknis,’’ katanya dengan tersenyum.
Sekali pun bukan pekerjaan sulit, tapi alumni MI Miftahul Ulum, Pakisaji ini tidak bisa memilih seketika. Dia berpikir, dan mencari ide untuk karyanya. “Saat itu dosen pembimbing mengatakan, kalau karya film yang saya buat, film tersebut harus memiliki unsur lokal,  tempat asal saya dilahirkan,’’ jelasnya.
Hingga akhirnya, pemilik hobi traveling ini teringat budaya Topeng Malangan Panji. Berbagai informasi tentang Topeng Malang Panji dicarinya melalui media internet. Dia juga bertanya-tanya kepada teman-temannya di Malang tentang seni budaya topeng Malangan Panji tersebut.
Namun upaya mengangkat tema topeng Malangan itu gagal dilakukan, karena dia tahu jika riset untuk mengangkat tema tersebut tidak mudah. Disamping narasumber yang minim, beberapa tempat risetnya juga tidak mampu dijangkau.
“Yang saya buat ini adalah film documenter. Syarat film documenter adalah tahu, kenal dan paham. Ini masalahnya, saya tahu ada budaya topeng malangan dan kenal, tapi saya tidak paham,’’ katanya.
Karena urung, alumni MTsN Malang 3 ini kemudian mencari ide lagi. Ide kedua itu adalah mengangkat tema boso walikan Malangan. Tanpa banyak kata, Sa’idah menghubungi Nur Indah Jazilah, temannya di Malang. Tekadnya pun bulat, saat Jazil begitu Nur Indah Jazilah dipanggil memberikan support serta dukungan.
Alhasil, saat ide itu muncul, Sa’idah kemudian memilih pulang sambil membawa proposal tentang proyek film yang akan dikerjakannya. Dia langsung membahas proyeknya itu dengan Jazil. Alhasil, Sa’idah pun memilih judul Plat N untuk karyanya tersebut.
“Saya ambil Plat N karena cocok saja. Karena nopol polisi untuk wilayah Malang adalah N. Dan yang saya angkat adalah budaya boso walikan Malangan,’’ imbuhnya.
Tapi begitu, judul itu ternyata tidak diterima oleh dua dosen pembimbing ini. Tidak dijelaskan alasannya, yang pasti judul yang mirip dengan sebuah merek kaos ini tidak diterima.
Sa’idah kembali berpikir. Dia ingin, bahwa film dokumenternya tidak sekadar sebagai tugas akhir. Dia ingin, film ini bisa booming.  
“Saat itu saya memilih jalan dulu untuk mengambil gambar. Sedangkan judul saya berpikir belakangan,’’ akunya.
Dia memulai proses pengambilan gambar di Alun-alun Tugu Kota Malang. Di alun-alun tersebut, dia ditemani Sahla Silahturahmi, teman mainnya saat kecil. Sa’idah mewawancarai beberapa pengunjung, tentang bahasa Malangan. Hasilnya pun memuaskan. Dalam sehari, satu scene film pun tergarap.
Penggarapan film ini berlanjut. Sa’idah langsung menuju ke Pasar Belanja Tugu untuk pengambilan gambar kedua. Dia pun mengaku puas, karena saat itu ada event, dengan performnya Ledome Percussion. Dari pengambilan gambar inilah, kemudian berlanjut. Dari info Jazil, dia menemukan nama Wahab Adinegoro penulis buku boso walikan. Tanpa banyak kata,  Sa’idah menghubungi Wahab.
“Entahlah, saya mendapat kemudahan saat proses pengambilan gambar. Beberapa sumber dapat saya temui dengan mudah, mulai dari Dwi Cahyono, Arkeolog UM, Ade d’Kross, d’Kross Community dan ahli Linguistik, yang namanya saya peroleh dari Jazil,’’ terangnya.
Menurutnya selain dibantu oleh  Sahla dan Jazil dia juga dibantu Ahimsyah untuk sesi pengambilan gambar tersebut. Sa’idah kemudian kembali ke Jogjakarta, untuk penyelesaian filmnya itu.
Sa’idah juga mengatakan jika proyek film ini nyaris gagal. Itu seiring dengan rusaknya hardisk yang digunakannya menyimpan rekaman film. “Sa’idah sempat putus asa, karena hardisknya hilang,’’ beber Jazil.
Bahkan, karena kecewa dan ingin melupakan kesedihan akan file rekamannya yang hilang  Sa’idah memilih untuk travelling. Tapi begitu, dia justru kebablasan. Dia justru lupa dengan proyeknya itu.
“Saya baru pegang kembali proyek ini Maret 2015 lalu. Dari rekaman dapat diselamatkan saya merangkai film tersebut,’’ akunya, sembari mengatakan dia juga meminta stok shoot kepada Andi Bachtiar Yusuf.  
Setelah semuanya tergarap baik, setiap cuplikan disambungkan, Sa’dah pun puas. Tapi saat itu kurang judul. Sa’idah pun kembali menghadap dosen pembimbingnya, untuk konsultasi. Dari konsultasi inilah, kemudian muncul ide judul filmnya adalah Nendes Kombet. “Artinya Senden Tembok. Memang secara linguistic ada perbedaan bacaan, tapi itulah menariknya bahasa Malangan. Arek Malang butuh ketegasan dalam mengucapkan bahasa, ‘’ katanya.
Untuk menguatkan, Sa’idah ketemu lagi dengan ahli Linguistik, yang menerangkan tentang ketegasan bahasa Malang. “Alhamdulillah semuanya selesai dengan baik. Dan karya itu sudah saya serahkan ke kampus, saya juga ujian mendapat nilai A,’’ kata gadis yang Sabtu (12/9) nanti akan wisuda S1.
Dia juga mengatakan jika karya film documenter Nendes Kombet adalah hasil pengerjaan tim. Selain tiga temannya di atas, pengerjaan proyek ini juga dibantu oleh teman-temannya yang ada di Jogjakarta, diantaranya adalah Mar’atus Solihah, Windi Prihartati, Balya Kretarta, Adlinda Firdienta, Anggi Yanuariska dan Qory Zakia.
Sa’idah sendiri mengaku sangat puas dengan proyeknya itu. Selain dapat nilai A, karya tersebut mendapat apresiasi dari warga Malang. Alhasil, Saidah pun ingin meneruskan proyek ini. Bahkan, kepada Malang Post Sa’idah bercita-cita membuat film documenter lainnya, untuk mengenalkan bahasa Malangan kepada dunia.
“Karena hasil yang ini masih jelek, harus ada editing ulang. Yang pasti, saya ingin menciptakan lagi film documenter lainnya. Terutama budaya Malang. Saya ingin mengenalkan budaya lokal Malang ini ke dunia,’’ tandasnya.(ira ravika/ary)