Dari Pelacur Liar hingga Republik Kaum Tikus

Abdul Wahid, Penulis yang Sangat Produktif
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Kutipan di atas adalah dialog tokoh Minke dalam tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer– Rumah Kaca halaman 352. Kutipan itu menggambarkan semangat Abdul Wahid.  Kecintaannya  pada dunia tulis menulis, tak sekadar cinta biasa. Buktinya pria paruh baya yang memiliki senyuman khas ini, telah menghasilkan banyak buku.

Ia mendorong banyak orang untuk menulis, demi mengasah kepekaan sosial. Ya, DR. Drs. H. Abdul Wahid, S.Ag., SH., MH, yang lebih senang disapa Wahid, memulai karir sebagai penulis aktif sejak duduk di bangku MAN Pesantren Denanyar Jombang.
Sejak tahun 1990, sampai kini, ia telah menghasilkan 68 buku. Keinginannya menjadi seorang pegiat literasi ini, berawal dari keikut sertaannya pada lomba karya tulis yang diadakan Jawa Pos.
Kata Wahid, artikel pertama yang ia buat memiliki tema yang saat itu masih tabu untuk dibicarakan. Namun tak disangka, artikel yang mengupas tentang pelacuran liar tersebut, memenangi lomba artikel yang diadakan Jawa Pos pada saat itu.
“Memang sudah sejak SMA, saya sudah jatuh cinta dengan dunia tulis menulis. Saya suka memperhatikan perilaku orang, benda, situasi sekitar dan hal itu lah yang menurut saya sangat menarik untuk dituangkan dalam sebuah tulisan,” ungkap pria beranak tiga ini.
Selepas “nyantri” di Jombang, pria kelahiran Lamongan tahun 1964 ini, melanjutkan studinya di UIN Malang untuk mengambil S1 Pendidikan Islam dan S1 Ilmu Hukum di Unisma. Saat menempuh jenjang inilah, Wahid makin mantap dengan keaktifannya dalam menulis. Khususnya buku-buku bertema ilmu hukum dan agama.
Buku pertama yang dihasilkan Wahid berjudul “Modus-Modus Kejahatan Modern” pada tahun 1990. Wahid menjelaskan, ketertarikannya dalam mengangkat isu hukum sebagai karya pertamanya dilatarbelakangi oleh sebuah kasus keji yang terjadi di Indonesia pada masa itu.
“Waktu itu, banyak kejahatan keji yang tidak terungkap. Saat itu, saya sedang senang-senangnya belajar tentang hukum dan pola kejahatan. Modus dan pola kejahatan seperti pembunuhan dengan mutilasi yang menjadi daya tarik pembahasan pada buku tersebut. Karena saat itu, kejahatan mutilasi menjadi kasus yang sangat menghebohkan, maka saya angkat saja sebagai pembahasan,” jelas pria yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Jurnal Dinamika Hukum ini.
Salah satu karya bertema hukum lainnya yang boleh dibanggakan berjudul “Kejahatan Terorisme” yang diterbitkan pada tahun 2006. Buku yang berisikan tentang perilaku dan pola terorisme mulai dari sebab sampai pengentasannya ini menjadi salah satu referensi buku dalam pembahasan seminar internasional untuk penanggulangan terorisme Mabes Polri dan pembicara asal Australia di Jakarta pada tahun yang sama.
Pria yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Unisma (2007 – 2011) ini mengungkapkan apresiasi pembaca terhadap hasil karyanya lah yang menjadi inspirasinya menulis lebih banyak buku lagi. Ketika melihat melihat bagaimana pembaca mendiskusikan buku yang ia tulis dan dapat membawa manfaat bagi khalayak masyarakat, di situ letak kebahagiaan tertinggi dari seorang penulis.
Wahid bercerita, pada 2014 lalu, ia mendapatkan hibah dari Dikti untuk melakukan penelitian dan membukukan hasil penelitian mengenai terorisme. Buku tersebut berjudul “Anatomi Tindak Pidana Pendanaan Terorisme”. Buku ini diterbitkan pada 2015, yang merupakan buku terbaru yang berhasil ia buat.
“Buku ini menjadi buku yang paling menarik yang pernah saya buat. Membahas tentang terorisme dan polanya sudah merupakan hal yang biasa. Tetapi, pembahasan mengenai sumber dana kegiatan terorisme bisa dibilang belum banyak dibahas di Indonesia,” papar Wahid.
Ia menuturkan, proses pengumpulan data untuk membuat buku tersebut tidak mudah. Sehingga melibatkan mahasiswa-mahasiswi untuk ikut membantu dalam bentuk pembelajaran penelitian. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam penelitian akan melatih kemampuan analitis dan mengembangkan pola pikir mereka ke global sehingga wawasan makin bertambah.
Beberapa karya Wahid yang telah diterbitkan diantaranya Islam di Tengah Pergulatan Sosial, Menggugat Idealisme KUHAP, Quo Vadis Penegakkan Hukum di Indonesia, Penegakkan HAM di Indonesia, Militansi Aswaja dan Islam, Pesantren, Terorisme, dan Agama, Kejahatan Kekerasan Seksual, Cyber Crime, Republik Kaum Tikus, State Terorism, dan masih banyak lainnya.
Wahid yang berkediaman di Jalan Kalpataru 87 B ini juga turut menceritakan suka duka mengantre untuk penerbitan buku-buku yang ia tulis.
“Pada awal memulai karir sebagai penulis, saya harus merasakan ditolak berkal-kali oleh penerbit. Menunggu berbulan-bulan sampai naskah dikembalikan, sampai akhirnya berhasil meyakinkan penerbit untuk menerbitkan buku. Hal-hal itu pasti dirasakan oleh semua penulis,” tandasnya sambil tertawa kecil.
Wahid yang ternyata mengidolakan karya-karya Cak Nun ini menerangkan, buku yang paling banyak diterbitkan berjudul Hukum Islam Kontemporer dengan penerbit Sinar Grafika. Ia berkata, buku tersebut sampai saat ini telah diproduksi sampai tiga kali cetak. Satu kali cetak, terdapat 1000 sampai 2000 eksemplar yang dapat didistribusikan. Sedangkan, rata-rata buku karyanya yang lain  dicetak sebanyak dua kali.
Wahid berpesan pada generasi muda jaman sekarang untuk tetap membiasakan diri untuk menulis dan membaca sejak dini. Menjadi aktivis yang terbilang peka terhadap isu sekitar tidaklah cukup jika hanya berujung pada demo di jalan.
“Anak muda yang benar-benar peka pada situasi sosial di masyarakat haruslah juga menuangkannya pada tulisan. Tulisan dalam bentuk apa pun, merupakan tindaklanjut nyata dari kepedulian seseorang akan sesuatu. Maka biaskanlah menulis,” pungkas Wahid.(mg6/ary)