Habiskan 14 Kapolres, Anak Didik Jadi Anggota Brimob

“Belajar ikhlas dan tulus itu sangat sulit, karena keikhlasan hati itu adalah rahasia Allah SWT. Oleh sebab itu, sampai sekarang ini saya terus belajar untuk selalu ikhlas dan tulus,".
Kalimat itu yang kali pertama terucap dari Hasan. Pria berusia 50 tahun ini, adalah muadzin di Masjid Polres Malang. Ia sudah 20 tahun ini, menjadi muadzin.

Suara lantunan adzan, terdengar merdu dari pengeras suara Masjid Sabilul Huda (Ashumul Muhsinin) Polres Malang Kabupaten. Suaranya terdengar menggema di seluruh ruangan Polres Malang. Panggilan adzan itu, dilantunkan Hasan.
Tak lama setelah adzan berhenti, beberapa anggota polisi bergegas pergi ke Masjid untuk menjalankan salat berjamaah. Di barisan depan, terlihat Hasan berdiri menunggu jamaah lain, dia bersiap menjadi imam salat berjamaah.
Ya, rutinitas sebagai muadzin dan imam ini, dijalani Hasan sudah lama. Sejak sekitar 20 tahun lalu, saat Kapolres Malang masih dijabat oleh AKBP Anang Sisworo Yuwono. Pria kelahiran Juli 1965 ini, menjadi muadzin untuk salat Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Keterbatasan fisik, lantaran kakinya cacat sejak kecil, tidak menghalanginya untuk menjadi seorang muadzin.
"Sudah lama saya menjadi muadzin. Kalau dihitung sudah sekitar 20 tahun lalu, sejak Kapolres Malang masih dijabat AKBP Anang (Anang Sisworo Yuwono, Red). Jika dihitung pergantian Kapolres, mulai awal sampai sekarang sudah 14 Kapolres," terang Hasan, sembari menyebut satu persatu nama Kapolres Malang.
Salah satunya ketika Kapolres Malang dijabat oleh Irjen Pol Unggung Cahyono, mantan Kapolda Jatim yang kini menjabat Asops Kapolri. Hasan mengaku, telah menjadi imam salat berjamaah, saat Unggung masih menjabat Kapolres Malang.
Dipercayanya Hasan sebagai muadzin di Masjid Polres Malang, karena saat itu ia tekun menjalani salat berjamaah di Masjid Sabilul Huda. Kejujuran serta ketekunanya dalam ajaran agama Islam, membuat Hasan dipercaya sebagai muadzin sampai sekarang. Termasuk menjaga kebersihan masjid turut dipikulnya sebagai tanggungjawab.
Tanpa ada pamrih, Hasan menjalaninya dengan ikhlas. Sebagai muadzin, diakui sebagai panggilan hati. Meski pun waktunya setiap hari harus dihabiskan di Masjid. Namun ia menganggap bahwa apa yang dilakukannya saat ini, adalah sebuah keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT.
“Setiap harinya, saya berangkat dari rumah di Sukonolo Bululawang, sekitar pukul 09.00 – 10.00 dengan naik sepeda listrik. Pulang ke rumah lagi setelah selesai salat Isya. Ketika ada waktu senggang, kadang saya gunakan keliling ke pasar dan Pondok Pesantren untuk berjualan minyak wangi,” tuturnya.
Selain menjadi muadzin dan imam, Hasan juga menjadi guru ngaji membaca Alquran dan gerakan salat bagi anak-anak anggota polisi yang tinggal di asrama Polres Malang. Meski pun jadwal mengaji tidak tetap, karena berbenturan dengan jadwal les sekolah anak didiknya, namun ia mengaku bangga bisa menularkan ilmu membaca Alquran kepada anak-anak.
Bahkan salah satu anak didiknya yang dulu belajar mengaji, sekarang ini sudah ada yang menjadi anggota Brimob. “Kalau dulu jadwal mengaji rutin setiap Ashar. Namun sekarang jadwalnya menyesuaikan anak-anak. Bahkan dulu, sempat mengajar ngaji di garasi rumah anggota,” jelas bapak satu anak dan satu cucu ini, dengan nada bangga.(agung priyo/ary)