Haryono, Guru Otomotif SMKN 1 Singosari Wakili Indonesia ke Prancis

Guru Otomotif SMKN 1 Singosari, Haryono ST, baru saja pulang dari Prancis, usai mengikuti pertukaran guru Indonesia-Prancis. Dia terpilih bersama enam guru lainnya asal Indonesia yang ditunjuk oleh Direktorat Pembinaan SMK untuk mewakili Indonesia pada program itu. Dipilihnya dia, melalui atas prestasinya mengembangkan mobil Digdaya dan Mobil Rajawali.

Seorang pria mengenakan hem berwarna biru dan bertuliskan SMK Bisa, tengah asyik mengutak-atik mobil di tempat perakitan SMKN 1 Singosari. Sedangkan di belakangnya, terdapat murid-murid yang sedang menyimak dengan serius arahan dari pria itu. Ya, dia adalah Haryono, Guru Otomotif jurusan Teknik Kendaraan Ringan, SMKN 1 Singosari.
Kemudian aktivitasnya berhenti ketika mengetahui kedatangan wartawan Malang Post di tempat tersebut. Guru yang telah mengabdikan diri di sekolah tersebut seama 24 tahun ini, mulai bercerita kesuksesannya terpilih mengikuti pertukaran guru Indonesia-Prancis.
“Sebelumnya, saya ditunjuk oleh sekolahan untuk mengikuti ajang pertukaran guru Indonesia-Prancis. Setelah mendaftar, kemudian saya mengikuti seleksi dan test yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan SMK,” ujar Haryono kepada malang Post. Saat itu, dia harus bersaing dengan puluhan guru SMK seluruh Indonesia untuk mengikuti ajang tersebut.
Mulanya, terdapat 16 guru terpilih untuk lolos ke tahapan selanjutnya yakni test tulis dan test wawancara pada bulan Maret 2015 yang lalu. Hingga pada akhirnya guru lulusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang (UM) ini terpilih mengikuti pertukaran guru itu. Dia bersama enam guru lainnya, terpilih untuk mengikuti pertukaran guru selama tiga bulan.
Yakni mulai bulan Juni 2015 hingga bulan Agustus 2015. Pria berusia 47 tahun ini, lalu berangkat ke Prancis. Selama di Negara yang mempunyai julukan the hexagon ini, dia mengambil banyak hal.  Terutama, dia menyerap paling banyak industry yang ada di Prancis, salah satunya di Pabrik pembuatan mobil terkenamaan Peugeot.
Di pabrik itu, dia melihat modernisasi tentang pembuatan mobil. Meski dia mengakui belum bias ditiru di Indonesia, namun memberikannya pengetahuan. “Setidaknya saya menjadi termotivasi untuk berupaya mengembangkan mobil rakitan SMK ini,” terangnya. Selain mengunjungi pabrik Peugeot, dia juga mengunjungi beberapa tempat yang terkenal di prancis.
Seperti Menara Effiel hngga Mont-Saint Michel yaitu sebuah gereja yang berada di tengah laut. Seain itu, dia juga menyerap berbagai macam pelajaran tentang sistem manajemen sekolah. Terutama pencatatan administrasi yang lengkap dan mudah untuk dicari. Meenurutnya, sistem manajemen adnministrasi pengelolaan sekolah itu, wajib ditiru.  
“Mayoritas sekoahan yang ada di Prancis itu, dikelola dengan baik. Selain itu, pencatatan administrasinya tertata dengan rapi. Sehingga, bila suatu saat nanti dibutuhkan mudah untuk dicari,” terangnya. Program pertukaran guru ini, bukanlah pengalaman pertamanya. Sebelumnya, dia juga pernah mengikuti pertukaran guru di Jepang
Hal itu dieaihnya, atas prestasi mengembangkan mobil Digdaya dan Mobil Rajawali yang menjadi cirri khas SMKN 1 Singosari “Kedepannya kami akan merakit mobil pedesaan atas penunjukan dari Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi,” imbuhnya. Untuk Provinsi Jawa Timur, kata dia, hanya terdapat dua lembaga pendidikan yang ditunjuk
Selain SMKN 1 Singosari, Institut Teknologi Surabaya (ITS) juga ditunjuk untuk mengembangkan mobil pedesaan. “Kami juga kaget mendengar penunjukan ini. Apalagi yang menunjuk adalah Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi,” imbuhnya.
Keberhasilannya mengembangkan mobil rakitan SMK itu, juga tidak terlepas dari keseriusan dan kemauan seluruh siswa-siswinya untuk neajar Untuk itu, dia jga berjanji akan terus menlarkan ilmu yang didapatnya. Sementara itu, Kepala SMKN 1 Singosari, Sali Rochani S.Pd.,M.M.Pd mengatakan Haryono adalah sosok yang low profile.
“Selain low profile, beliau juga rendah hati dan cerdas. Sehingga, keberadaanya sangat penting bagi sekolahan ini untuk memberikan pendidikan bagi seluruh siswa-siswi,” tuturnya. Diapun tidak lupa mendorong kepada seluruh guru untuk meniru apa yang dilakukan oleh Haryono. Selain itu, juga memfasilitasi guru untuk meraih prestasi di ajang yang lebih tinggi. (Binar Gumilang).