Hobi Keliling Pelosok, Dapat Pengakuan Anies Baswedan

Menyandang status mahasiswi, terasa belum lengkap bagi dara kelahiran Tulungagung, 26 Mei 1993 itu. Nila Husniah, mahasiswi Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) ini tak ingin masa kuliahnya dihabiskan sia-sia. Anak kedua dari pasangan Alm Ali Muhsin dan Luluk Mahruzatin ini memakai waktunya untuk mengajar anak-anak di pelosok Malang Raya.

Di kala banyak mahasiswa lain memilih santai saat akhir pekan datang, Nila lebih sering menghabiskan waktunya untuk hal yang bermanfaat. Perempuan berusia 22 tahun ini, lebih sering menggunakan akhir pekannya untuk mengajar di daerah-daerah pelosok yang ada di kawasan Malang Raya. Seperti Dau, Ngadas, Taji, Tangkilsari, Randugading, serta Kepanjen. Aktivitas itu ia jalani selayaknya mahasiswa lain menjalani hobinya masing-masing.
Terinspirasi oleh program besutan Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (dulu Rektor Universitas Paramadina, Jakarta), yakni Indonesia Mengajar, Nila mulai menjalani aktivitas mengajar di daerah-daerah terpencil saat bergabung menjadi volunter pada Sanggar Pinoki, sanggar yang mengajarkan anak-anak di daerah sekitar tentang kesenian dan bahasa Inggris pada tahun 2011.
Nila bergabung dengan Sanggar Pinoki, didasari keinginan kuatnya untuk mengajar di daerah-daerah pelosok Indonesia. Ya, pada awal ia masuk kuliah di tahun 2011, Nila langsung bergabung dengan Sanggar Pinoki.
"Sebenarnya saya mau ikut program Indonesia Mengajarnya Anies Baswedan, tapi setelah saya tahu itu baru bisa setelah lulus kuliah, maka saya bulatkan tekad untuk masuk ke Sanggar Pinoki dan menjadi volunteer," jelas Nila kepada Malang Post, kemarin (15/9/15).
Aktivitasnya itu, ia lakukan terus menerus sampai tahun 2013. Saat menjadi volunteer di Sanggar Pinoki, keinginan Nila untuk terus mengajar semakin kuat. Hingga pada akhirnya, ia memutuskan terus menambah pengalamannya untuk mengajar di daerah-daerah lain.
Di tahun yang sama, yakni 2013, Nila menambah pengalamannya dengan bergabung di Komunitas Encompass Indonesia, komunitas yang bergerak di bidang pendidikan sikap dan nilai multikultural. Di sana, ia dikirim untuk menjadi pengajar di beberapa sekolah, baik di sekolah Advent yang berbasis kristen Advent.
Saat di Encompass, ia juga dikirim untuk menjadi pengajar di salah satu Pondok Pesantren yang berada di Tulungagung. Kedua lembaga pendidikan ini memang memiliki basis agama yang berbeda, namun hal itu tak menjadi kendala bagi Nila untuk terus mengajar. Baginya, banyak pelajaran yang bisa diambil dalam perbedaan tersebut.
Bagi mahasiswa biasa, mungkin menjadi volunteer dan mengajar untuk dua lembaga berbeda adalah hal yang cukup berat. Akan tetapi, hal ini tak berlaku untuk Nila. Bahkan, saat ia masih menjadi volunteer di Sanggar Pinoki dan Encompass Indonesia. Bersama dengan keenam temannya, ia mendirikan UMengajar (UM Mengajar), yang konsepnya tidak jauh berbeda dengan Indonesia mengajar, namun dilakukan di daerah-daerah sekitar Malang Raya.
Bersama dengan keenam temannya yang juga dari UM itu, yakni Lalank Pattrya Mahera, Faridah Ratnawati, Andree Rivan Kurniawan, Davi Mukhlasin, Oky Taqwin Abadi dan Yuni Chairun Nisa itu, ia mendirikan UMengajar pada Januari 2014 silam.
Ide untuk membuat organisasi ini sudah muncul sejak 2013, saat mereka bertujuh menjadi official delegates of Indonesia Youth Forum 2013 di Bandung pada saat itu. Setelah itu pada akhir tahun 2013 Nila bersama enam orang lainnya kembali mengikuti konferensi pemuda dari seluruh Indonesia untuk menjadi Participant of Youth Educators Training.
"Materi dalam konferensi yang diikuti sekitar 200 pemuda dari seluruh Indonesia ini sangat bagus. Sehingga, berawal dari acara Youth Educators Training inilah yang membuat kami bertujuh untuk mendirikan organisasi UMengajar, hingga pada akhirnya baru resmi terbentuk pada Januari 2014 dan diinisiasi oleh Lalank," beber Nila.
Singkat cerita, UMengajar terbentuk. Ketujuh sahabat ini merumuskan program organisasi independent di UM tersebut. Setelah berdiri, open recruitmen langsung dilakukan dan berhasil menarik minat sekitar 120 mahasiswa UM. Ratusan pendaftar ini, mereka seleksi menjadi 48 volunteer.
Ke-48 peserta ini, untuk hari pertama mereka ajak mengajar di Desa Ngadas, Kabupaten Malang, desa paling timur di Kabupaten Malang. Di sana, mereka mengajar selama satu bulan di setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Setelah sebulan menjalani aktivitas mengajar di sana, para volunteer mereka ajak ke daerah-daerah pelosok lain yang ada di Malang Raya, dimana akses pendidikan tak setara dengan akses pendidikan yang ada di kota-kota besar.
Banyak problema pendidikan yang mereka temui, dimana tak ada guru Bahasa Inggris, meski banyak wisatawan asing berkunjung, kesadaran akan pentingnya pendidikan yang kurang, sampai sarana dan prasarana yang tidak memadai. Kekurangan-kekurangan tersebut, membuat Nila dan para rekannya merasa Ironis, di kala Indonesia akan menghadapi tantangan besar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, masih ada sekelompok anak di Malang yang masih belum sadar akan pentingnya pendidikan.
"Setiap akhir pekan, kami mengajar di sana. Memang di sana cukup ironis, kami juga tidak bisa seterusnya menyalahkan pemerintah atas ketidakmerataan akses pendidikan. Tapi, menurut kami lebih baik berusaha melakukan yang terbaik dengan mengajar seperti ini," ujarnya.  Patut diacungi jempol, karena seluruh biaya operasional dari UMengajar sendiri berasal dari hasil urunan para founders dan volunteer.
UMengajar sendiri memang masih merupakan organisasi Independen, namun keberadaannya sudah diakui oleh Anies Baswedan sendiri. Pada Maret 2015 lalu, di dalam sebuah pertemuan komunitas semacam UMengajar dari seluruh Indonesia di Universitas Indonesia (UI), tim dari UMengajar yang diwakili oleh ketua UMengajar, Hanis Bachrodin, bertemu langsung dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang juga founder Indonesia mengajar itu. Semua tentang UMengajar, diceritakan kepada Anies Baswedan.
"Reaksinya positif, kami senang saat itu. Karena meski organisasi ini masih Independen, tapi sudah dapat pengakuan dari Anies Baswedan," imbuh Nila bernada bahagia.
Bagi Nila sendiri, mengajar seperti panggilan jiwa yang bila tidak dilakukan akan membuat wanita berjilbab ini merasa penat. Ia bertekad untuk melanjutkan aktivitasnya dengan mengajar di pelosok-pelosok. Bahkan, baru saja, lagi-lagi, ia membuat komunitas mengajar Bahasa Inggris bernama IRangers. Sama halnya dengan komunitas-komunitas sebelumnya, IRangers, juga menyasar ke daerah-daerah pelosok dengan membawa misi, mengajarkan Bahasa Inggris kepada para siswa di sana agar lebih matang dalam menghadapi MEA 2015, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Ke-Indonesiaan.
"Ke depan, saya masih ingin mengikuti Indonesia mengajar. Entah kenapa, saya senang mengajar di pelosok. Apalagi kalau melihat anak-anak, saya bisa sampai menangis haru kalau melihat mereka," tegas Nila seraya mengatakan, kalau dirinya bercita-cita untuk mendirikan sekolah.
Setelah lulus nanti, ia bertekad untuk ikut Indonesia mengajar. Selain pengalaman mengajar, Nila juga pernah terpilih menjadi satu dari 150 peserta konferensi pemuda se-Indonesia dan Malaysia dalam Indonesia Malaysia Youth Forum pada tahun 2014 lalu.
Belum lama ini, ia juga berhasik lolos seleksi untuk menjadi delegasi Indonesia dalam konferensi bertema pendidikan di Bangladesh. Sayang, karena tak ada dana ia terpaksa mengurungkan niatnya. Pada November 2015 mendatang, ia akan dikirim ke Lombok oleh Encompass Indonesia untuk mengajar di sebuah daerah pelosok di sana. Hal ini, menurutnya akan menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya.
Memang tak mudah menemukan pemuda dengan tekad mulia seperti Nila di tengah zaman serba teknologi ini, dimana para pemuda akan lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang daripada menebar manfaat kepada sesama. Mungkin, Nila hanya salah satu contoh pemuda semacam ini, namun setidaknya kisah dara yang sedang menyelesaikan kuliahnya ini, patut menjadi inspirasi para pemuda saat ini.(Muhamad Erza Wansyah/ary)