Spesialis MC Bahasa Jawa, Dikontrak Suriname

Bambang Supomo layak diberi gelar PNS yang multitalenta. Selain menyanyi dan luwes menari, Kepala Seksi, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang ini juga fasih sebagai master of ceremony (MC) Jawa. Kepiawaiannya sebagai MC membuat Bambang Supomo segera terbang ke Suriname.

Pria kelahiran Malang 30 Desember 1959 ini kerap diminta untuk menjadi pembawa acara berbagai kegiatan. Termasuk awal tahun depan Bambang akan berangkat ke Suriname. Di sana dia akan menjadi MC hajatan nikahan.
Darah seni diperoleh Bambang Supomo berasal dari kedua orang tuanya. Ibunya almarhum Suginem merupakan penari. Sedangkan ayahnya, Asmo Sudiarto merupakan pemusik. Sejak kecil, Bambang dikenalkan dengan dunia seni, baik seni musik maupun seni tari oleh ibunya.
Meskipun dia adalah lelaki, tapi Bambang tidak pernah alergi dengan seni yang diajarkan oleh kedua orang tuanya. Sebaliknya, dia justru kian tertarik dan sangat antusias. Terutama menari. Terbukti, hampir setiap hari dia ikut latihan menari bersama dengan kakak dan ibunya.
Kegigihannya itu, membuat semakin luwes. Tidak ada gerakan menari yang diajarkan ibunya yang tak bisa dia gerakkan. Semuanya bisa. Ya, Bambang yang saat kecil memiliki postur  bertubuh kurus sangat lentur. Gerakannya pun sangat  luwes. Termasuk saat memainkan kipas, bapak dua anak ini terlihat luwes dan cekatan.
Kepiawaian Bambang pun akhirnya terbukti. Saat itu dia duduk di kelas lima SD. Bersama ibu dan kakaknya, dia mendapatkan job menari di salah satu desa di wilayah Tajinan.
“Seneng, karena setelah sekian lama belajar akhirnya bisa tampil di depan umum,’’ katanya.
Pria yang pernah berdinas di Dinas Pendidikan, Kabupaten Malang ini mengaku tidak grogi. Itu karena dia tidak sendirian, tapi bersama dengan kakak dan ibunya.
Sementara sang ayah yang melihat bakat seni Bambang pun tidak mau kalah. Selain mengajari anaknya karawitan, Asmo juga mengajari Bambang tembang mocopat. Seperti menari, dia juga tidak kesulitan saat diajari tembang mocopat. Semua mocopat dilantunkan dengan sangat indah. Penonton pun tidak segan memberikan aplaus jika Bambang tampil baik melantunkan lagu mocopat saat pagelaran wayang atau menari.
Beranjak dewasa, Bambang tidak meninggalkan bakat seninya. Sebaliknya dia justru memiliki semangat untuk mendalami. Ibu dan ayahnya juga mendukung. Karena kecintaannya itu, Bambang pun masuk dalam grup seni karawitan. Dia juga masuk grup seni ludruk di wilayah Kabupaten Malang.
“Seni seperti mendarah daging. Entahlah, apa pun yang berbau kesenian saya selalu suka, dan merangsang untuk belajar,’’ aku pria yang kini tinggal di Tajinan.
Menariknya, meskipun menekuni kesenian, tapi Bambang tidak pernah meninggalkan bangku sekolah. Dia mengaku, jika belajar tetap menjadi prioritasnya. Ilmu yang diperoleh di sekolah merupakan bekal dirinya untuk menyongsong hidup.
Itu terbukti, setelah lulus SMA, Bambang pun melanjutkan sekolah di Sekolah Tinggi Karawitan, Surabaya. Di sekolah ini Bambang mendalami kesenian karawitan dan kesenian lainnya. Termasuk, dia belajar atau mengasah kemampuan bahasa jawa.
“Setelah lulus dari STKW, saya kemudian mengajar karawitan. Saya juga mencoba mengabdi menjadi guru,’’ katanya. Dia pun bersyukur, karena sekali ikut ujian PNS langsung lulus.
Saat menjadi guru, dia tetap belajar seni. Dia juga memberikan pelajaran menari untuk siswa dan para tetangganya. Dia juga kerap menggelar pertunjukkan menari, baik di kampung, di sekolah atau ditempat lainnya.
Keuletan Bambang ini pun mendapat respons dari masyarakat. Bambang yang memiliki tubuh sangat luwes, dengan tangan melambai gemulai, tapi dia juga dikenal sangat tegas. Dia tidak mau anak didiknya tidak disiplin. Menurut dia, menari tidak jauh dengan kata disiplin.
Sementara Bambang pun mulai merambah pada bidang MC. Hanya saja, saat membawa acara, dia tidak menggunakan bahasa Indonesia, tapi menggunakan bahasa jawa. Keahliannya itu pun  membuat dirinya banyak dilirik orang. Tidak sedikit pejabat Kabupaten Malang yang meminta jasanya untuk menjadi pembawa acara dalam kegiatan hajatan.
“Kalau dihitung ya sudah ratusan saya tidak ingat. Tapi terakhir kemarin, menjadi pembawa acara di pernikahan anaknya Kepala Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Malang, pak Romdhoni,’’ katanya.
Bukan itu saja, Bambang juga pernah menjadi MC dengan bahasa jawa di pernikahan campuran Indonesia-Jepang. Saat itu keluarga perempuan yang meminta dia menjadi MC berbahasa Jawa. Secara profesional, Bambang pun menunjukkan keahliannya.
Dia juga pernah menjadi MC di pernikahan campuran Indonesia-Perancis. Dia pun melakoni perannya dengan sangat profesional. “Waktu yang Jepang masih ada campuran sedikit bahasa Indonesia. Sementara yang Perancis semuanya full bahasa Jawa. Saya juga tersenyum saat melihat pengantin pria yang berdarah Perancis, dia hanya manggut-manggut saja saat sambil mendengarkan bahasa jawa yang saya ucapkan,’’ katanya.
Keahlian itu pun juga dilirik oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Terbukti, setiap event budaya di Kabupaten Malang, tidak pernah luput dari sentuhan tangan Bambang. Pria ini selalu diminta Bupati Malang untuk menangani masalah budaya. Terlebih saat HUT Kabupaten Malang, yang agenda kegiatannya 80 persen adalah budaya.
Di Kabupaten Malang Bambang tidak sekadar menjadi pengisi atau pembawa acara dengan bahasa jawa, tapi dia juga menjadi pengatur jalannya acara. Seperti contoh Pisowanan Agung. Ritual yang mengadopsi budaya Keraton Surakarta ini, Bambang yang mengatur semuanya. Mulai dari pakaian yang digunakan Bupati, hingga SKPD. Tata jalan kepala SKPD saat menuju persinggahan bupati, Bambang yang mengatur semuanya.
Termasuk saat puncak acara. Pakaian yang dikenakan para pejabat Pemkab Malang dan Forpimda tidak lepas dari tangannya. Bambang tidak segan-segan datang ke Keraton Surakarta untuk meminta petunjuk terkait kostum yang digunakan. Termasuk turun ke candi untuk mencari inspirasi batik. Bahkan, agar kegiatannya lancar, Bambang juga tidak segan untuk melakukan ritual.
Sementara keahlian bahasa jawa yang dimiliki Bambang saat ini juga membawa hoki bagi dirinya. Beberapa bulan lalu, Bambang mendapat undangan yang datang dari Suriname. Di Suriname Bambang akan menjadi MC bahasa jawa untuk pernikahan anak pejabat di sana. Bambang memang tidak sendirian, dia mengajak serta anak dan istrinya. Itu karena dalam undangan yang disampaikan, pengundang meminta paket lengkap, mulai dari MC, penata rias temanten, dan yang menjadi juru panggih dalam pernikahan. Itu karena pihak pengundang akan menggunakan adat pernikahan jawa full, mulai dari pakaian, riasan, serta bahasa yang digunakan saat hajatan.
“Begitu saya mengiyakan, pengundang langsung mengirim uang untuk pengurusan paspor dan berbagai keperluan saat berangkat nanti,’’ selorohnya.
Jika rencana itu jadi, Bambang pun mengatakan itu kali pertamanya dia pergi ke luar negeri. “Karena belum berangkat ya belum ndredeg, tidak tahu lagi nanti setelah berangkat,’’ pungkasnya.(ira ravika/ary)