Mengenal Ki Kasenan Wibowo, Dalang Wayang Topeng

MALANG POST - Dalang wayang topeng Malang saat ini sudah langka. Salah satunya yang masih bertahan hingga kini adalah Ki Kasenan Wibowo, 78 tahun, asal Desa Kesamben, Kecamatan Ngajum. Dalang wayang topeng Malang dari Padepokan Asmoro Bangun ini, mendapatkan penghargaan Satya Dharma Budaya, dari Bupati Malang, Dr H Rendra Kresna, Kamis (17/9) malam lalu.
Ki Kasenan Wibowo tampak enerjik dan bersemangat saat menghadiri Pengukuhan Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) di Pendopo Agung Kabupaten Malang. Ki Kasenan sapaan akrabnya termasuk salah satu dari lima orang penggiat seni dan budaya, yang terpilih menerima peghargaan dari Bupati Malang, Dr H Rendra Kresna.
Penghargaan itu diberikan, atas dedikasi mereka dalam pengabdian dan loyalitasnya dalam mengembangkan serta memajukan seni dan budaya di Kabupaten Malang. Wajahnya tampak tegang saat menerima penghargaan yang diberikan langsung oleh bupati tersebut. Namun, ketegangan mencair, usai mengikuti seluruh prosesi pemberian penghargaan tersebut.
Ki Kasenan mengaku tertarik pada seni tradisi ini sejak tahun 1956 silam. Saat itu, berbagai pertunjukan kesenian tradisional di Indonesia sedang melambung. Mulai dari wayang, ketoprak, ludruk termasuk wayang topeng malang ini. Dia menceritakan, pertunjukan Wayang Topeng Malang, hampir mirip dengan Wayang Orang atau Wayang Kulit.
Bedanya, media wayang dimainkan oleh orang dengan menggunakan topeng yang menutupi wajah. Selain itu, juga dimainkan dengan iringan gamelan saat pementasannya. Sedangkan tugas dalang, adalah mengatur jalan cerita maupun lakonnya. Dalang menyampaikan cerita atau lakon baik melalui tembang maupun kata- kata atau narasi..
Selain itu, dalang Wayang Topeng Malang melakukan dialog antara tokoh satu dengan tokoh yang lain. Juga sekaligus mengatur irama gending gamelan Jawa dan irama tari anak wayang.
Lanjut dia, para aktor yang memerankan tokoh dalam cerita atau lakon. Sedangkan anak wayang merupakan satu tim yang dituntut untuk mahir menari topeng.
Dalam setiap lakon, tokoh yang diperankan antara 20 – 35 tokoh, namun jumlah anak wayang cukup 15 – 20 orang saja, karena diantara mereka ada yang memerankan lebih dari satu tokoh. Sedangkan beberapa lakon maupun cerita yang dipentaskan dalam Wayang Topeng adalah cerita Panji. Diantaranya Perkawinan Gunungsari, Geger Gunung Willis, Cokroanimoto dan Panji Laras.
Selain itu, ada Lakon Sekartaji dan Patih Kudonowarso. “Mayoritas yang diceritakan lakonnya berasal dai Kediri,” kata kakek lima cucu ini.
Menurutnya, seorang dalang wajib memiliki kepintaran mengatur ritme dan jalannya cerita. Lantaran kesuksesan pertunjukan wayang topeng malang berada di tangan dalang itu sendiri. Hal itu sama dengan pertunjukan wayang jenis lainnya.
“Namanya juga dalang, harus mengetahui jalan cerita maupun lakon yang dimainkan. Inilah yang menjadi kesulitan, lantaran tidak semuanya tahu cerita Panji,” kata Ki Kasenan.
Menurutnya, dirinya telah puluhan tahun mementaskan dan menjadi dalang wayang topeng ini. Dia tampil di beberapa kota maupun kabupaten di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Makassar dan Bali.
Sedangkan tahun 2013 lalu, dia sempat tampil di Bangkok, Thailand. Puluhan penghargaan tingkat kabupaten hingga nasional juga sudah dia terima. Penghargaan itu, atas dedikasinya menjadi dalang wayang topeng. Yang ada dalam benaknya saat ini, adalah keberlangsungan wayang topeng Malang ke depannya.
Ki Kasenan tidak bisa memungkiri, seiring bertambahnya waktu, pastilah kesenian dan kebudayaan tradisional tergerus oleh perkembangan zaman dan modernisasi, termasuk wayang topeng Malang. Untuk itu, di Padepokan Asmoro Bangun, dia juga berupaya untuk melesatrikan wayang topeng Malang. Implementasinya, mengajak anak kecil untuk menyaksikan pertunjukan wayang topeng.
Setiap tampil rutin di Padepokan Asmoro Bangun, dia tidak lupa mengajak masyarakat dan generasi muda untuk menyaksikan pertunjukannya tersebut.
“Biasanya, saya juga mengajari pelajar dan mahasiswa yang ingin belajar tentang wayang topeng Malang ini di padepokan,” imbuhnya. Namun, untuk penerus Dalang wayang topeng Malang, dia mengaku sulit untuk regenerasi.
Lantaran tidak seluruh generasi muda mau untuk menjadi dalang wayang topeng ini. Meski demikian, dia tetap berjanji akan mengajari generrasi muda yang mau belajar wayang topeng Malang ini. Karena generasi muda yang berkewajiban untuk melestarikan kebudayaan tradisional ini. Apalagi Kabupaten Malang, sudah seharusnya identik dengan Topeng Malangan.(Binar Gumilang/ary)