Perjuangan Divisi Bisnis Arema Berburu Sponsor di Situasi Sulit

Era kegelapan sepak bola Indonesia sudah banyak makan korban. Satu di antaranya adalah Divisi Bisnis Arema Cronus. Manajer Bisnis Muhammad Yusrinal Fitriandi, tetap bertahan di tengah badai sepak bola. Cemooh pun datang bertubi-tubi. Meski terima banyak ejekan, Inal sapaan akrabnya, bersama tim tetap bertahan dan berjuang. Bagaimana romantika Divisi Bisnis mempertahankan dan mendapat sponsor baru buat Singo Edan?

Syok. Itulah kata pertama yang muncul dari bibir Manajer Bisnis Arema Cronus, Muhammad Yusrinal Fitriandi, ketika terjun dalam lika-liku industri sepak bola. Sebagai orang baru dalam bisnis sepak bola, Inal, sapaan akrabnya menyadari Arema adalah aset potensial bagi industri sepak bola nasional.
Namun, dia syok karena Arema seperti punya dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pada satu sisi, Inal mengaku takjub dengan Aremania serta para stakeholder yang gila bola. “Pada sisi lain, menjadi bagian dari Arema pun tidak mudah. Saya secara pribadi, sudah terima ejekan dan cemooh dari kanan kiri depan belakang atas bawah, lengkap deh pokoknya,” ujar Inal, mengawali cerita dibalik perjuangan Divisi Bisnis Arema menjalani masa vakum kompetisi.
Aremania, sponsor serta stakeholder, punya sejarah kebanggaan yang luar biasa. Pada awal kompetisi QNB League 2015, Inal sebagai orang baru di manajemen, melihat bahwa potensi Arema sangat luar biasa. Tanpa ada pikiran sedikit pun tentang penghentian kompetisi karena sanksi Menpora, Inal melangkah dengan cukup percaya diri di awal musim.
“Sebagai orang suka bola, saya tak ragu datang masuk dan ikut berjuang buat Arema. Tapi, saat awal musim, persiapan program bisnis saya termasuk mendadak. Sehingga, saya mencari orang berpengalaman untuk bantu saya di Divisi Bisnis. Lalu, begitu kompetisi berhenti, tim ini rontok,” jelas alumnus STIE Kucecwara (dulu ABM).
Tak genap satu bulan sejak penghentian kompetisi, Divisi Bisnis kehilangan Sales andalan yang cari pekerjaan lain di luar bola. Inal mengaku down dan stres karena penghentian kompetisi. Apalagi, dia baru saja membuat program bisnis untuk perjalanan Arema selama di QNB League 2015.
Pembenahan program bisnis amburadul. Padahal, saat itu Inal sedang berjuang untuk meluruskan tata kelola bisnis yang tidak berjalan baik. Pasalnya, banyak oknum yang membuat proposal liar atas nama Arema, demi memburu keuntungan fee dari sponsor. Setelah kompetisi berhenti, makelar-makelar ini ikut berhenti.
Dari situ, Inal lalu meminta izin dari manajemen, agar proposal sponsor tak lagi memakai atas nama pribadi. “Walaupun kondisi down, saya akhirnya memperjuangkan dari bawah. Saya pakai agensi iklan yang legal dan bisa dipertanggungjawabkan. Saya pun mulai berjuang jualan lewat online,” kata Inal.
Namun, kondisi sepak bola memang tak memungkinkan. Perjuangan Divisi Bisnis memburu sponsor tak juga membuahkan hasil di awal-awal pembekuan. Penolakan dari sponsor lokal, regional dan nasional sudah jadi sarapan harian. Contohnya, 100 proposal yang keluar ke sponsor pun tak ada yang member respons positif.
Bahkan, Arema pun sempat dirumorkan bakal kehilangan sponsor utama, yakni Indosat IM3 dan Anker Sports. Meskipun itu akhirnya hanya jadi isu belaka, Inal tetap merasa frustasi.
“Kita frustasi karena dalam kondisi seperti ini tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ya memang situasinya seperti ini,” tandasnya.
Tak hanya sampai di situ, Inal pun mulai menerima kritikan dan ejekan yang bikin langkahnya makin berat. Ejekannya pun bermacam-macam. Ada yang terang-terangan, ada yang berupa sindiran, ada juga kata pedas yang bikin telinga panas. Ia menyebut, ejekan yang paling lucu tapi miris adalah linggis mengambang.
“Saya pernah diejek, buat apa pertahankan Arema? Cari kerja lain saja. Menanti sepak bola beres itu seperti menunggu linggis mengambang di atas air. Ada juga yang mengejek, Arema itu sudah kena kutukan. Sampai selamanya, Arema itu akan tetap diruwet begini. Keluar saja,” papar bapak dua anak tersebut.
Telinga Inal pun panas mendengar ejekan-ejekan tersebut. Bahkan, sempat terbersit dalam hati kecilnya untuk meninggalkan Arema. Namun, jiwa Aremanianya berontak. Bagaimana mungkin, dia meninggalkan klub kecintaannya dalam kondisi babak belur seperti sekarang? Sembari menguatkan diri sendiri, Inal mendapat suntikan motivasi dari kepedulian para sponsor lama.
“Saya terharu, dengan komitmen sponsor lama, seperti Indosat IM3, Anker Sports. Mereka tetap komitmen dan mau menjadi sponsor Arema, walaupun situasinya tanpa kompetisi. Mereka malah terus mendorong dan memotivasi Arema, agar tetap menjaga eksistensi,” sambung bungsu tiga bersaudara ini.
Motivasi dan semangatnya kembali naik, saat Arema melakoni pertandingan ulang tahun lawan Persib Bandung. Ia mulai menemukan kembali gairah untuk berbuat sesuatu demi Arema. Kondisi manajemen pun berangsur pulih sejak ulang tahun Arema. Sebelumnya, penghentian kompetisi membuat manajemen rentan.
Begitu ulang tahun Arema berjalan sukses, Inal dengan bangga membalas semua ejekan yang pernah dia terima. “Ini lho Arema yang sebenarnya. Dalam situasi sulit pun, kita bisa meraih peluang untuk sukses. Sejak ulang tahun, perlahan namun pasti manajemen Arema makin solid. Bahkan, hubungan dengan sponsor pun makin harmonis,” tuturnya.
Sekarang ini, kiprah Arema di Piala Presiden, mulai memanaskan lagi para sponsor yang ada di level lokal, regional dan nasional. Sebab, Arema bisa menjaga animo suporter dan menarik sponsor-sponsor baru. NZR Grup dan Cleo adalah dua contoh buah tangis dan perjuangan Divisi Bisnis dalam memburu sponsor.
Situasi saat ini, belum bisa dikatakan positif. Kompetisi masih belum berjalan. Namun, pengelola Event Organizer itu menyebut, Arema kembali dilirik sejak tampil di Piala Presiden. “Sejak ikut Piala Presiden, sponsor mulai menggeliat lagi. Kita pun dapat jaringan baru dari sponsor-sponsor Piala Presiden. Mereka penasaran dengan Arema,” tutup pria domisili Sawojajar itu.(fino yudistira/ary)