Johan Untung, Perajin Bantengan dan Barongan Asal Kepanjen

APA PUN usahanya, jika digeluti dengan serius pasti akan membuahkan hasil. Begitu juga dengan usaha kerajinan bantengan dan barongan, yang kini digeluti Johan Untung, 52 tahun. Berawal dari keinginannya untuk sekadar melestarikan kesenian daerah, namun kini justru menjadi sebuah usaha yang menjanjikan.
 
Jalan Ketanen, RT04 RW05, Kelurahan Penarukan, Kecamatan Kepanjen inilah, tempat Johan Untung tinggal bersama keluarganya. Di rumah yang tidak begitu luas tersebut, bapak dua anak ini membuka usaha sebagai perajin kesenian bantengan dan barongan. Berbagai macam bantengan dan barongan, terpampang di teras depan rumahnya. Termasuk kerajinan lainnya, seperti pecut, jaranan serta topeng malangan.
“Usaha kerajinan bantengan dan barongan ini, saya geluti sejak sekitar tujuh tahun lalu,” ujar Johan Untung, kepada Malang Post.
Sebelum menjadi perajin kesenian bantengan dan barongan, Johan bekerja sebagai sopir angkot, jurusan Malang-Blitar. Namun karena memiliki jiwa seni yang sangat kuat, Johan memutuskan untuk menjadi perajin. Keputusan ini, karena ia ingin melestarikan kesenian budaya daerah supaya tidak punah.
Bekerjasama dengan Edi Mulyono, saudaranya, Johan mulai menggeluti usaha kerajinan bantengan dan barongan. Modal awalnya Rp 10 juta. Uang tersebut didapat dari menggadaikan sertifikat rumahnya di salah satu bank. Uang itu untuk membeli bahan dan alat-alat kerajinan.
“Saat awal membuat kerajinan bantengan dan barongan, sebetulnya saya sama sekali tidak tahu caranya. Kami hanya belajar secara otodidak saja. Edi saudara saya, hanya bisa membuat bantengan saja. Sedangkan untuk barongan, saya minta tolong anak yang memang pandai melukis,” jelas Johan.
Setelah dicoba beberapa kali, akhirnya bisa mendapatkan bentuk bantengan dan barongan yang pas. Untuk barongan, ada tiga jenis. Yaitu barongan nogoan, barongan kucingan serta barongan butoan.
“Barongan nogoan bentuknya panjang. Kalau barongan kucingan ada taring, sedangkan barongan butoan bentuknya pendek,” katanya.
Bahan kayu yang digunakan untuk kerajinan barongan dan bantengan pun berbeda. Ada tiga jenis kayu, yaitu kayu randu, sengon serta dadap cangkring. Kayu randu dan sengon, untuk kerajinan bantengan dan barongan khusus untuk mainan anak-anak. Sedangkan kayu dadap cangkring, khusus untuk bermain kesenian, karena kuat serta tidak mudah pecah.
“Bahan kayu untuk membuat kerajinan ini, kami mendatangkan dari Gunung Kawi. Karena di sekitar sini, sudah tidak ada lagi kayu jenis dadap cangkring. Biasanya kami mendapat kiriman kayu sebulan sekali,” urainya.
Untuk pemasarannya kerajinannya pun, dikatakan Johan diawali dengan tidak mudah. Sebab untuk menjualnya, dulu ia harus keliling dari satu tempat ke tempat lain, ketika ada acara pertunjukan kesenian. Hasilnya saat itu hanya cukup untuk makan saja. Namun sekarang, sudah dikenal di masyarakat Malang Raya. Hampir pecinta seni bantengan dan barongan di Malang Raya, peralatannya dibeli dari Johan Untung.
Bahkan dari semula dikerjakan sendiri dengan saudaranya, kini sudah memiliki tujuh orang karyawan. Para karyawannya ini memanfaatkan pemuda di kampungnya, yang putus sekolah dan pengangguran.
“Sekarang saya sudah tidak lagi keliling. Karena setiap pekan dan minggunya selalu ada yang order. Selain di Malang Raya, pemasarannya sudah sampai ke Kediri, Blitar, Ponorogo, bahkan Jakarta. Sedangkan untuk luar pulau, sudah kami kirim ke Jambi dan Riau,” paparnya.
Harga dari kerajinan bantengan dan barongan ini beragam. Mulai dari harga Rp 150 ribu untuk mainan anak-anak, sampai Rp 1,5 juta untuk kerajinan yang digunakan khusus bermain kesenian. Dari harga tersebut, setiap bulannya Johan Untung bisa mendapatkan omzet kotor Rp 20 juta.
“Omzetnya memang masih belum besar. Karena kami masih kewalahan untuk melayani order, dengan hanya tujuh karyawan. Sebab sepekan untuk kesenian barongan hanya mampu mendapatkan 20 buah, karena proses pembuatannya rumit dan susah. Sedangkan bantengan sepekan bisa mendapatkan 100 buah. Sementara pesanan sangat tinggi dan saya tidak mampu mencukupi,” bebernya.
Harapan Johan, ke depan ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Malang untuk mengembangkan kerajinannya lebih maju. Sebab diakuinya, selama ini sama sekali tidak ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Malang.(Agung Priyo/ary)