Tembus 21 Perusahaan, Ini Rahasia dari Agus Setiawan

LULUS Kuliah dan langsung bekerja adalah impian mayoritas mahasiswa. Untuk mewujudkannya, tentu tidak bisa instant. Banyak persiapan yang harus dilakukan agar mudah menembus dunia kerja. Kepada para calon wisudawan ITN Malang, pembicara internet marketing Agus Setiawan membagikan rahasia suksesnya diterima di 21 perusahaan dan bekerja di delapan perusahaan.

Kehadiran Agus Setiawan seakan menyuntik semangat kepada 596 calon wisudawan yang kemarin memadati Aula Kampus 1 ITN Malang. Beberapa kali tepuk tangan riuh menggema di dalam ruangan tersebut ketika motivator yang juga alumnus Teknik Kimia ITN Malang itu menyindir sifat malas yang kerap dimiliki mahasiswa.
“Saya dulu lulus dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) hanya 2,62. Semester pertama IPK saya hanya 0,42 dan semester kedua 1,42,” ungkapnya.
Meski memiliki IPK pas-pasan, Agus Piranhamas, nama akrabnya, ternyata bisa bersaing dengan temannya yang IPK 3,68. Ia mengisahkan, setelah prosesi wisuda, ia dan empat temannya harus memenuhi panggilan kerja dari sebuah perusahaan di Cibitong, Bekasi. Waktu itu ada empat orang saja yang dipanggil. Masing-masing dengan IPK 3,68, 3,48, 2,28 dan Agus sendiri 2,62. Setelah melalui proses wawancara, ternyata yang lolos seleksi hanya dua orang yakni pemilik IPK 3,68 bernama Dody, dan Agus yang IPK nya paling jelek.
”Saya bisa lolos karena saya pandai berbicara, ketika ditantang oleh tim HRD saya bisa menjawab dengan diplomatis,” ungkapnya.
Ceritanya, pada saat seleksi itu ada pertanyaan tentang kesanggupan empat lulusan ITN tersebut untuk kerja lembur. Dan ternyata jawabannya beragam. Dody yang ber IPK tinggi menjawab tegas kesanggupan untuk lembur. Dan ia pun lolos diterima kerja. Sementara dua peserta tes lainnya menjawab dengan balik bertanya mengenai imbalan dan juga kapan waktu lemburnya diberlakukan. Berbeda dengan Agus yang menjawab diplomatis pertanyaan jebakan tersebut.
”Saya jawab, bahwa saya di kampus adalah mahasiswa yang selalu menyelesaikan tugas tepat waktu,” ungkapnya.
Dari kisah itu, Agus mengingatkan bahwa betapa pentingnya kemampuan berbicara. Untuk melatihnya, mahasiswa harus aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan di kampus. Menjadi seorang aktivis bahkan pendemo pun menurutnya penting agar bisa melatih kepercayaan diri mahasiswa.
”Bicara dengan pacar saja harus dengan kata-kata indah dan tidak datar, apalagi dengan tim HRD,” guraunya.
Karena kelebihan yang dimilikinya itulah, Agus bisa dengan mudah keluar masuk perusahaan. Ia juga tidak minder bersaing dengan lulusan berbagai perguruan tinggi lainnya.
”Saya ini anak desa yang tampangnya tidak menarik, dulu saya minder dan bukan apa-apa. Perubahan yang ada sekarang tidak instan, karena ada progress yang harus dilewati,” tegasnya.
Kehdairan Agus Setiawan rupanya memberi kesan mendalam bagi salah satu calon wisudawan, Natalia Damayanti. Mahasiswa Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah Kota (PWK) ini merasa memiliki banyak kemiripan dengan sosok Agus.
”Beliau (Pak Agus,red) punya prinsip yang sama dengan saya, jadi bukan IPK saja yang penting. Tapi koneksi, link dan jaringan sangat penting jika mau sukses,” ungkapnya.
Selain itu, Natalia yang berasal dari Sorong, Papua menuturkan, ia juga sangat mempedulikan penampilan sehari-hari. Baginya, penampilan juga penunjang kesuksesan dan tidak bisa diabaikan.
Sementara itu Wakil Rektor 1 ITN Malang Dr. IR Kustamar MT yang membuka acara pelatihan kemarin menuturkan, lulusan ITN Malang sudah dibekali dengan kemampuan hardskill yang mumpuni. Selain itu, softskills mahasiswa juga sudah diasah melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan. Meski demikian, ITN Malang memandang perlu dihadirkannya motivator sukses seperti Agus Setiawan.
”Ini adalah sentuhan terakhir yang kami berikan kepada mahasiswa sebelum mereka memasuki dunia kerja,” tegasnya.
Yusuf Ismail Nahkoda, Ketua Panitia acara menambahkan, pembekalan kali ini sengaja menghadirkan salah satu alumni sukses ITN Malang agar bisa menginspirasi mahasiswa. Sehingga para calon wisudawan bisa percaya diri bersaing di dunia kerja. (lailatul rosida/red)